SURAT UNTUK ORANG SAKIT DAN YANG TERKENA MUSIBAH

SURAT UNTUK ORANG SAKIT DAN ORANG YANG KENA MUSIBAH
Oleh : BADIUZZAMAN SAID NURSI .R.A
Diterjemahkan oleh : Hasanuddin bin Alimuddin bin Mappa bin Pallau

بسم الله الرحمن الرحم

( الَّـذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيْبَةٌ قَالُوْا إِنَّا للهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ ) اَلْبَقَرَةُ : 156 .
” Yaitu orang-orang yang jika tertimpa musibah berkata : Sesungguhnya kami milik Allah SWT dan hanya kepada-Nyalah kami kembali” (Al-Baqarah : 156).


( وَ الَّـذِي هُوَ يُطْعِمُنِى وَيَسْقِيْنِ * وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ ) الشُّعَرَاءُ : 79- 80 ).
” Dan Dialah yang meberiku makan dan minuman, dan jika aku sakit maka hanya Dialah yang memberikanku kesembuhan” (Asy-Syu`ara`.79 – 80).

Perhatian dan permohonan maaf

Sesungguhnya resep ma`nawi ini, telah disusun dalam waktu yang singkat dibanding semua buku yang telah kami tulis , karena waktu yang sangat sempit, maka perbaikan dan penelitiannya – beda dengan yang lainnya – tidak membutuhkan waktu yang lama, seperti halnya pada saat disusun, olehnya itu, sekejap saya kembali meliriknya dan ternyata masih saja nampak tidak teratur sebagaimana pada tulisan pertamanya, dan kami merasa tidak perlu untuk diteliti dan diperbaiki ulang, karena ilham-ilham rabbani yang terlintas dalam hati ini secara fitrah, sebaiknya jangan dirusak oleh omongan biasa dan aturan seni tulis maupun perbaikan. Harapan kami untuk para pembaca yang budiman, khususnya orang-orang sakit agar tidak tersinggung dengan ibarat-ibarat serta kalimat-kalimat yang sulit dipahami. Dan mohon kiranya doakan saya dimanapun anda berada.

Said Nursi.

بسم الله الرحمن الرحم

Segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam. Dan shalawat dan salam atas Rasul yang paling mulia Muhammad SAW.

Risalah ini adalah puskesmas untuk orang sakit, balsam buat penderita sakit, dan sekaligus obat kebahagiaan untuk mereka. Merupakan resep ma`nawi yang ditulis berdasarkan ungkapan lama ‘’ Derita telah pergi dan segala puji bagi Allah SWT atas keselamatan dan kesegaran ‘’.

Risalah ini menjelskan secara ringkas dua puluh lima macam obat yang dapat menjadi penyegar hakiki, dan menjadi balsam penyembuh untuk orang yang mendapat bala` dan tertimpa musibah, serta obat untuk orang-orang yang sakit.

Penyusun.
Obat pertama

Wahai penderita sakit yang malang! Janganlah engkau khawatir, bersabarlah!, Karena sesungguhnya deritamu itu bukanlah suatu penyakit, melainkan obat, karena sakit itu dapat memberikan keuntungan yang sangat besar terhadap pasien dan orang lain untuk kembali ingat akan maut. Sesungguhnya umur manusia adalah modal dalam mengisi hidup yang terkuras sedikit demi sedikit, dan jika tidak diinvestasikan, maka segala sesuatu akan sia-sia, apalagi jika umur itu berlalu begitu saja tanpa diisi dengan zikir dan amalan sembari berusaha melangkah dengan kebaikan menuju akhir perjalanan hidup, dengan demikian, sakit itu dapat memberikan modal hidup tersebut keuntungan-keuntungan yang sangat besar, dan ia tidak akan membiarkan umur itu berlalu begitu saja dengan cepat, bahkan ia akan memperlambat umur tersebut, mencegahnya, serta memperpanjangnya hingga dapat membuahkan hasil, kemudian kembali ke asalnya . Dan sungguhlah umur yang panjang itu, jika berlalu penuh dengan derita, maka akan diucapkan kata berikut: ” Alangkah panjangnya waktu penderitaan dan alangkah pendeknya waktu kesenangan ! “.

Obat kedua

Wahai penderita sakit yang kehabisan kesabaran! Berdandanlah dengan sifat sabar! Dan berhiaslah dengan sifat syukur, karena deritamu itu dapat menjadikan detik-detik umurmu dalam bentuk ibadah yang berjam-jam, hal itu terjadi karena sesungguhnya ibadah itu tebagi menjadi dua :

Pertama : Ibadah ijabiah ( dengan anggota tubuh ) yang terwujud dalam pelaksanaan shalat, doa dan lainnya.

Kedua : Ibadah salbiah ( dengan hati ) yang mana penderita sakit selalu merasa khusyu’ dan kembali menyerahkan diri kepada Sang Pencipta yang Maha Penyayang, sembari memohon perlindungan dan bersujud kepada-Nya, didasari dengan perasaan yang mengingatkan ketidakberdayaan dan kelemahannya dihadapan penyakit-penyakit dan musibah-musibah tersebut, sehingga ia mendapatkan ibadah ma`nawiah yang suci jauh dari segala bentuk ria. Memang benar jika terdapat berbagai riwayat yang menyatakan bahwa umur yang disertai derita sakit dianggap ibadah bagi orang mu`min , dengan syarat, tidak mengeluh dan putus asa, bahkan telah tsabit (tetap) dalam riwayat-riwayat dan kasyaf-kasyaf tentang derita satu menit yang dijalani oleh orang yang bersyukur dan sabar dianggap satu jam ibadah yang sempurna untuk mereka, dan sebagian Ahlullah Al-Kaamilin dianggap satu hari ibadah penuh, maka janganlah kamu meragukan – wahai saudaraku – penyakit yang menjadikan derita satu menitmu ke seribu menit sekaligus memberikanmu umur yang panjang!. Maka bersyukurlan atasnya.

Obat ke tiga

Wahai penderita sakit yang tidak patuh ! sesungguhnya manusia tidak diciptakan untuk bersenang-senang. Itu dibuktikan oleh perginya semua yang telah datang, dan semua manusia akan mengalami perpisahan, sementara kamu menyaksikan manusia sebagai ciptaan yang paling sempurna, paling mulia, dan paling lengkap, bahkan manusia sebagai tuan atau penghulu semua ciptaan, tiba-tiba jatuh sakit dan hidup menderita karena memikirkan kesenangan masa lalu dan musibah yang akan datang, akhirnya menjalani hidup dengan susah dan penuh derita sembari menjatuhkan diri ke dalam tingkatan yang lebih hina dari binatang.

Mausia tidak datang ke dunia ini hanya untuk menjalani hidup indah dan nyaman, yang dihiasi dengan ketenangan dan kejernihan, melainkan ia datang untuk mendapatkan kebahagiaan hidup abadi selamanya dengan perdagangan yang menggembirakan dengan modal umur. Maka jika dalam keadaan sehat, manusia itu lupa akan Tuhan dan dunia nampak manis dan indah di kelopak matanya, saat ia diserang dengan penyakit lupa akherat, manusia tidak mau mengingat mati dan kuburan, hidupnya dijalani dengan sia-sia, namun pada saat yang sama ,derita sakit itu tiba-tiba membangunkanya dengan mata yang terbelalak, seraya penyakit itu berkata : ” Kamu tidak abadi dan tidak dibiarkan begitu saja, bahkan kamu mempunyai tugas, tinggalkan sifat sombongmu, ingat Tuhan yang menciptakanmu dan ingat bahwa kamu akan masuk kubur, maka siapkanlah diri ..demikianlah “.

Olehnya itu, derita sakit laksana sosok manusia yang melaksanakan tugas sebagai seorang mursyid yang rajin memberikan nasehat dan peringatan, tak perlu mengeluh, melainkan bernaunglah dibawah naungan syukur, dan jika rasa sakit semakin menjadi-jadi maka milikilah rasa sabar yang cantik itu.

Obat ke empat

Wahai penderita sakit yang sering mengeluh! ketahuilah bahwa engkau tidak berhak mengeluh, tetapi wajib bagimu bersyukur dan bersabar, karena hidup, jiwa, dan dirimu sama sekali bukan milikmu, bukan engkau yang menciptakannya, dan tidak membelinya dari suatu proyek atau perusahaan, maka ia milik yang lain, Sang Pemiliknya berbuat dikerajaan dan singgasana-Nya dengan leluasa tanpa halangan apapun, sebagaimana yang tertera dalam Kalimat ke dua puluh enam yang khusus membahas tentang qadar, yaitu : sesungguhnya Pencipta yang kaya lagi mahir yang memberikan tugas pada seorang fakir miskin dengan gaji yang tertentu untuk melaksanakan suatu peranan ” Namuzaj ” selama satu jam. Demi memperlihatkan ciptaan-Nya yang cantik itu serta pengalaman yang bagus tersebut maka ia memberikannya pakaian yang indah yang telah dijahit sendiri, dan pakaian yang bersih lagi menarik yang dibuatnya dalam bentuk sangat indah sekali, dan mempekerjakannya dengan berbagai macam pekerjaan, memperlihatkan berbagai macam bentuk demi menjelaskan keluarbiasaan ciptaan dan kemahiran-Nya, maka ia dalam ciptaan-Nya itu sering memotong, mengganti, memperpanjang, dan memperpendek, demikianlah. Maka olehnya itu duhai saudaraku apakah si fakir miskin ini berhak berkata pada Sang Pencipta yang mahir tersebut : sesungguhnya dengan perintahmu untuk ruku’ atau tunduk dan i`tidal , serta berdiri dan duduk, sesungguhnya kamu merusak keindahan yang terukir pada baju ini, yang sebenarnya baju itu mempercantik dan memperindah diriku, dikarenakan engkau menggunting dan memendekkannya ?. demikianlah halnya pada Sang Pencipta yang maha mulia Allah SWT – dan untuk Allah SWT perumpamaan lebih dari itu – yang telah memberikanmu hai si penderita sakit pakaian jasad, dan telah merancang di dalamnya panca indra nuraniah yang super lux seperti mata, teling, dan akal, demi memperlihatkan ukiran asma Allah SWT yang sangat indah itu, kamu senantiasa melihat dan merasakan bahwa Allah SWT merubah kamu dalam bentuk yang beraneka ragam, yang senantiasa meletakkan kamu dalam berbagai macam bentuk, sehingga engkau mengenal nama-Nya ” Ar- Razzak Sang Pemberi rizki ” dengan menelan pahitnya rasa lapar, maka engkau juga akan mengenal nama Allah SWT ” Asy-Syaafi Sang Maha Penyembuh ‘’ melalui derita sakitmu itu. Dan berdasarkan muncul dan nampaknya sebagian Asmaullah Al-Husna melalui perasaan-perasaan sakit dan terilhamnya lewat derita dan cobaan, maka ketahuilah bahwa di dalamnya terdapat cahaya-cahaya keindahan dan kecantikan, yang memperlihatkan kilauan hikmah serta sinaran rahmat. Jika terbuka hijab gaib maka kamu akan menemukan di balik derita sakitmu yang selalu mengganggumu itu, makna-makna yang dalam, lagi cantik dan selalu menyenangkan hatimu, itulah yang tersirat di balik hijab derita sakit tersebut.

Obat ke lima

Wahai orang yang mendapat cobaan!sungguh aku telah meyakini dengan baik melalui pengalamanku di zaman sekarang ini, bahwa derita sakit – yang dialami oleh sebagian manusia – adalah bentuk dari pemberian ihsan ilahi dan hadiah rahmaniah dimana aku telah ditemui oleh beberapa anak muda – delapan atau sembilan tahun yang lalu – dikarenakan derita sakit yang mereka alami, dengan harapan agar saya mendoakan mereka, walaupun sebenarnya saya tidak pantas untuk hal tersebut ( bukan ahlinya ), akhirnya saya melihat sebagian mereka yang menderita sakit dan rasa pedih yang sangat tinggi, justru dia yang banyak bertafakkur dan mengingat tentang akhirat, dan tidak mabuk semponyongan dengan penyakit ghaflah (lupa zikir) yang menimpa anak muda, bahkan ada usaha untuk selalu menjaga diri – semampu mungkin – di balik derita-derita sakit sekaligus menjaganya dari syahwat hewani, dan saya selalu memperingatkan mereka bahwa sesungguhnya saya senantiasa melihat derita sakit tersebut – yang masih bisa ditahan – adalah merupakan ihsan ilahi dan pemberian dari-Nya Subhanallah ..maha suci Engkau Ya Allah. Dan sering kali saya berkata : ” duhai saudaraku, sebenaranya saya tidak bermusuhan dengan derita sakitmu ini, sama sekali saya tidak merasa kasihan padamu karena deritamu, olehnya itu berusahalah mempercantik diri dengan rasa sabar dan bersifat kokoh dalam menghadapi derita sakit, sampai kamu mendapatkan kesadaran dan kenalilah diri!. Allah SWT Sang Pencipta yang Maha Penyayang akan menyembuhkan kamu Insya Allah jika derita sakit tersebut selesai melaksanakan tugasnya. Dan juga saya berkata padanya : sesungguhnya sebagian orang sepertimu selalu menggoyahkan rukun-rukun kehidupan abadinya bahkan dihancurkannya demi menikmati kesenangan lahiriah sesaat dari kehidupan dunia, dan itu disebabkan oleh tenggelamnya mereka dalam sifat lupa zikir yang berasal dari cobaan sehat, sembari meninggalkan shalat fardu, lupa mati, dan tidak mengingat Allah SWT. Sementara engkau sebenarnya selalu melihat lewat derita sakit itu, kuburan yang merupakan rumahmu, yang mesti dilewati, dan engkau juga melihat tingkatan-tingkatan ukhrawiah yang lain, dan kemudian engkau bergerak dan melangkah berdasarkan hal tersebut. Olehnya itu derita sakitmu merupakan kesehatan bagimu, dan kesehatan yang dirasakan oleh sebagian orang sepertimu, merupakan penyakit bagi mereka”.

Obat ke enam

Wahai penderita sakit yang selalu mengeluh dari rasa sakit! Saya selalu meminta kamu karena Allah SWT agar segera kembali melihat kejadian umur yang telah berlalu, dan sering mengingat hari-hari lalu yang indah dan menyenangkan dalam umurmu, serta waktu-waktu yang genting dan menyakitkan di dalamnya.

Maka tidak diragukan lagi bahwa kamu akan berkata ‘’ awwah ‘’ atau ‘’ ah..’’ artinya boleh jadi kamu menarik nafas sembari berkata : ‘’ Alhamdulillah dan terimah kasih ya Allah ‘’ atau kamu berdesah seraya berkata : ” waah rugilah rasanya !. Aduuh kenapa bisa begini jadinya!.olehnya itu lihatlah bagaimana rasa sakit dan derita yang kamu alami tadi tatkala terlintas dalam pikiranmu, maka akan menbuatmu selalu bertahmid pada Allah SWT dengan penuh rasa syukur, dan membuatmu tenggelam dalam kelezatan ma`nawi, hingga hatimu dengan girang mengucapkan ” Alhamdulillah dan puji syukur bagi-Nya ” karena sirnanya rasa sakit itu dapat melahirkan dan mewujudkan kelezatan serta perasaan gembira, dan karena rasa sakit dan derita tersebut jika telah pergi maka akan menanamkan kelezatan ma`nawi dalam roh, yang hanya dengan mengingatnya semata dan keluarnya rasa sakit dan derita itu dari tempat persembunyiannya akan menciptakan rasa gembira dan manisnya hidup, dan akan melahirkan rasa puji dan syukur. Adapun situasi kelezatan dan kejernihan yang aku telah alami dan yang sekarang juga kamu meniupkan padanya asap-asap kepedihan dengan ungkapan : ” wah aduh , wah alangkah ruginya ” maka ketahilah bahwa derita itu walaupun telah pergi, tetap juga menanamkan dalam rohmu rasa sakit yang tak terlihat dan bersifat abadi, dan inilah rasa sakit itu sekarang memperbaharui diri hanya dengan secuil pemikiran tentang lenyapnya kelezatan-kelezatan tersebut, akhirnya membanjir air mata kesedihan dan kesembiluan. Maka selama kelezatan satu hari yang tidak syar`I itu – kadang kala – membuat manusia menderita sepanjang tahun, dan derita sakit yang sifatnya sementara itu, yang dirasakan dalam satu hari saja akan memberikan kelezatan ma`nawi selama berhari-hari – dikarenakan didalam derita sakit itu terdapat pahala, lebih lagi adanya kelezatan ma`nawi yang terjadi setelah cobaan itu sirna – maka ingatlah dengan baik hasil derita sakit bersifat sementara itu, yang engkau telah lewati dan pikirkan pahala yang diharapkan tersebut yang telah disiapkan lewat derita sakit, dan hendaklah selalu bersyukur dan jangan sama sekali mengeluh dan katakanlah :

” Wahai sifulan… segala bentuk derita akan sirna juga ..”

Obat ke enam

Wahai saudaraku yang gelisa karena sakit dengan mengingat manis dan lezatnya dunia! Ibaratnya dunia ini abadi, dan andai kematian itu mengelak dari jalan kita, dan sekiranya pahitnya angin perpisahan dan kefanaan berhenti menghembus dari sekaran, dan dimasa mendatang tidak akan datang lagi musim dingin, maka tentu aku masuk dalam barisanmu dan meratapi keadaanmu dengan tangisan, namun dunia ini akan mengusir kita dengan ucapan : ” Ayo keluarlah ..” sembari menutup telinga tak ingin mendengar teriakan kita yang lagi minta tolong. Olehnya itu sebelum dunia ini mengusir kita maka sebaiknya kita lebih awal tidak mencintai dan menyayanginya, yaitu dengan cara memperbanyak mengingat derita sakit dan perubahan-perubahannya yang mendasar dalam diri, bahkan kita terpaksa berusaha untuk menalaknya baik secara hati atau perasaan sebelum ia menjauhkan diri.

Memang benar, bahwa derita sakit itu – dengan mengingatkan kita ma`na-ma`na yang indah dan mendalam ini – selalu membisik di dalam lubuk hati kita seranya berkata:

” Sesungguhnya tubuh kamu tidak berasal dari unsur yang kuat dan keras, bahkan justru dari unsur-unsur benda yang beraneka ragam yang telah terbina dalam dirimu, sangat cocok dan sangat mudah sekali untuk diporak-porandakan sekarang, maka dari itu tinggalkanlah sifat sombongmu dan ketahuilah sifat kelemahanmu, dan kenal dirilah dan ketahui apa tugasmu, dan pelajari apa hikmah dan tujuan kedatanganmu ke dunia ” .

Kemudian perlu dipahami sesuai norma-norma agama bahwa keindahan dan kelezatan dunia tidak akan abadi, apalagi jika tidak syar`I, bahkan justru membuat jiwa sakit dan berdosa, maka dari itu janganlah menangis dikarenakan engkau tidak merasakan kelezatan itu karena derita sakit, bahkan sebaliknya itulah yang dituntut. Berpikirlah selalu pada ma`na ibadah-ibadah ma`nawiah dalam penderitaanmu itu serta pahala ukhrawi yang disembunyikan oleh derita sakit tersebut, berusahalah semampu mungkin untuk mendapatkan kenikmatan zauk yang suci bersih itu.

Obat ke tujuh

Wahai sipenderita sakit yang kehilangan ni`mat kesehatan ! sungguhlah derita sakitmu itu tidak akan menghilangkan kelezatan ni`mat ilahiah yang dirasakan saat sehat bahkan justru sebaliknya, derita sakit itu akan membuatmu merasakan ni`mat itu, memperindah dan menambah nilai kelezatannya, hal itu terjadi karena sesungguhnya segala sesuatu jika tetap pada keadaannya tanpa ada perobahan maka rasa dan pengaruhnya akan hilang, sehingga para ulama sepakat berkata :

إنّمَا الأَشْيَاءُ تُعْرَفُ بِأَضْدَادِها

Artinya : ” Sesunggunya segala sesuatu itu dikenal melalui lawan jenisnya ” .

Sekiranya tidak ada kegelapan maka cahaya tidak akan dikenal dan tetap menjadi sesuatu yang tidak berarti, sekiranya rasa dingin tidak ada maka tidak akan dikenal rasa panas dan akan tetap menjadi hal yang tidak bernilai, sekiranya rasa lapar tidak ada maka makan tidak akan memberikan kelezatan dan keindahannya, sekiranya bukan karena panasnya perut maka kita tak akan merasakan nikmatnya minum air,, dan sekiranya penyakit tidak ada maka rasa sehat tidak memberikan kelezatan.

Sesungguhnya Allah Sang Maha pencipta yang Maha bijak tatkala ingin membuat manusia merasakan segala bentuk pemberian ihsannya serta segala bentuk pemberian ni`matnya, demi membuatnya bersyukur selama-lamanya, maka Allah SWT telah merancang dan memberikan berbagai macam alat dalam dirinya yang begitu banyak, agar manusia dapat merasakan ribuan bentuk ni`mat-ni`mat-Nya, olehnya itu tentu akan menurunkan pada hamba-Nya derita-derita sakit seperti halnya Allah memberikan kesehatan dan kekuatan.

Dan saya selalu bertanya kepadamu karena Allah SWT : ” sekiranya bukan derita sakit yang menimpa kepalamu, tanganmu, dan perutmu, apakah engkau mampu merasakan kelezatan yang tersirat dibalik rasa sehat yang telah membentangkan bayangannya di atas kepalamu atau pada tanganmu atau perutmu? Dan apakah engkau mampu menikmati ni`mat ilahi yang di wujudkan oleh ni`mat itu? Justru yang terjadi adalah lupa zikir dan tidak bersyukur. Atau menjalani umur yang sehat tersebut dengan penuh dosa lupa Tuhan sampai ke hal yang tidak berarti sama sekali dan itu tidak disadarinya ” .

Obat ke delapan

Wahai penderita sakit yang selalu mengingat akhiratnya! Sesungguhnya derita sakitmu itu mempunyai peranan seperti sabun, membersihkan kotoran badanmu, menyapu dosa-dosamu, dan membersihkanmu dari kesalahan-kesalahan, dan sungguh telah diketahui dengan baik bahwa derita sakit itu penghapus dosa dan kemaksiatan, sebagaimana yang terdapat dalam hadits shahih :

” مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أذىً إلاَّ حَاتَّ اللهُ عَنْهُ خَطَايَاهُ كَمَا تَحَاتَّ وَرَقُ الشـَّجَر”

Artinya : ” Tidak seorangpun muslim yang kena musibah melainkan Allah SWT telah menggugurkan kesalahan-kesalahannya ( atau memaafkan dosa-dosanya ) seperti halnya dedaunan pohon yang berjatuhan ” .

Kesemuanya ini karena sesungguhnya dosa-dosa itu pada hakekatnya merupakan penyakit-penyakit yang bersifat abadi di kehidupan kelak. Dan di dunia ini dosa tersebut akan memberikan penyakit-penyakit ma`nawi di dalam hati, perasaan, dan roh. Olehnya itu jikalau engkau sabar dan tidak pernah mengeluh maka engkau telah menyelamatkan diri lewat derita sakitmu itu, menyelamatkan diri dari berbagai macam penyakit. Dan jika engkau tak pernah memikirkan dosa-dosamu, sembari melupakan akhiratmu, lupa terhadap Tuhanmu, maka sungguhlah aku menegaskan bahwa engkau menderita penyakit yang sangat berbahaya, lebih berbahaya dan lebih merusak serta lebih besar dengan perbandingan satu million dari derita-derita sakitmu yang bersifat sementara itu, maka menjauh dan berteriaklah ..! karena sesungguhnya hati, roh, dan jiwamu, kesemuanya berkaitan dengan apa yang ada di dunia, dan keterkaitan tersebut selalu diputuskan oleh pedang-pedang perpisahan dan kefanaan dengan meninggalkan luka-luka yang dalam, dan apalagi jika kamu membayangkan kematian itu adalah hukuman mati yang bersifat abadi dikarenakan tidak adanya ma`rifah tentang akhirat, sehingga seakan luka-luka tersebut – biasanya – membuat dirimu sebagai sosok yang menderita sakit seluas dunia, yang mewajibkanmu mencari sebelum mengerjakan yang lain, yaitu mencari obat mujarab dan kesembuhan hakiki terhadap unsur ma`nawi yang sangat besar dalam dirimu itu, yang selalu dinodai oleh peyakit-penyakit serta luka-luka yang tak terhitung, sehingga sebenarnya saya yakin bahwa engkau tidak dapat menemukan apa yang dicari melainkan di dalam obat iman serta balsemnya yang hebat itu, dan ketahuilah bahwa jalan yang paling cepat untuk mendapatkan obat tersebut yaitu dengan menengok dari kedua jendela ma`rifat yang telah tebuka karena terbelahnya hijab lupa zikir tersebut melalui derita sakit, yang mana kedua jendela ma`rifat tersebut juga merupakan fitrah manusia, adalah jendela ” Al-Ajaz ” yaitu perasaan lemah dan tak bedaya dihadapan Allah SWT, dan jendela ” Al-Faqar ” yaitu perasaan fakir dihadapan Allah SWT, lalu engkau akan menemukan ma`rifat kekuatan Allah yang maha kuat, serta rahmat-Nya yang sangat luas.

Benar, sesungguhnya orang yang tidak mengenal Allah SWT ( tidak memiliki ma`rifat ) akan selalu berjalan dengan kepala yang penuh dengan waham-waham serta musibah-musibah seluas dunia seisinya, namun orang yang mengenal Tuhannya ( memiliki ma`rifat ) dunianya akan selalu penuh dengan cahaya serta kebahagiaan ma`nawi, perasaan ini dikarenakan oleh kekuatan iman yang dimilikinya – sesuai tingkatan iman masing-masing – dalam hidup. Sungguhlah derita sakit maddiyah yang bersifat juz`iy tersebut akan mencair dan menghilang dibalik derasnya kegembiraan ma`nawi serta lezatnya kesembuhan yang lahir dari iman.

Obat ke sembilan

Wahai penderita sakit yang beriman kepada Allah Sang Pencipta, sesungguhnya sebab derita karena penyakit, ketakutan, dan kekhawatiran, diantaranya lahir karena penyakit itu – kadang kala – menjadi jalan kematian dan kehancuran, dan karena mati itu – menurut penglihatan orang yang lupa zikir – sangat menakutkan sekali, serta penyakit-penyakit – yang merupakan jalan-jalan kematian – akan selalu menimbulkan perasaan kekhawatiran dan kekacauan.

Olehnya itu ketahuilah :

Pertama :

Sesungguhnya ( engkau harus yakin ) ajal merupakan takdir yang tak akan bisa berubah, sehingga sering terjadi yaitu mereka yang menangis karena melihat para penderita sakit dalam keadaan sekarat, mati lebih dahulu – meskipun mereka yang menangis itu telah menikmati yang namanya sehat wal afiat – , dan mereka yang menderita sakit tadi kembali sehat, mendapat rizki seperti biasa.

Ke dua :

Sesungguhnya mati itu pada dasarnya tidak menakutkan, sebagaimana yang nampak secara lahiriah, dan kami telah menegaskan di beberapa risalah dengan penegasan yang sangat kuat – tanpa meninggalkan keraguan dan syubhat – mengisbatkan dan menegaskan dengan isyarat-isyarat cahaya Al-Qur`an Al-Karim, bahwa kematian tersebut – dalam penglihatan orang mu`min – adalah masa pensiun dan masa berakhirnya tugas hidup beserta deritanya, dan itu merupakan masa peralihan dari tugas ubudiah yang merupakan pendidikan serta latihan di medan cobaan dunia, dan itu adalah pintu kontak untuk ketemu kembali sembilan puluh sembilan kekasih dan saudara yang telah musafir ke alam akhirat, dan sebagai perantara untuk memasuki daerah tempat tinggal hakiki dan tempat abadi untuk kebahagian selamanya, dan ini merupakan panggilan terhormat untuk pindah dari penjara dunia menuju kebun-kebun syorga serta taman-tamannya, dan merupakan tempat yang layak untuk menerima imbalan tugas khidmah yang telah dilakukannya, imbalan tersebut yang selalu membuahkan dan memberikan segala-galanya dari gudang rahmat Allah Sang Pencipta yang Maha Penyayang.

Olehnya itu, selama hakekat mati demikian adanya – dari tinjauan hakekat iman – maka sepatutnya mati itu tidak dilihat sebagai sesuatu yang menakutkan, bahkan seharusnya dianggap sebagai berita gembira dan rahmat, hingga sebagian ” Ahlullah ” rasa takutnya bukan karena ngerinya mati, tapi justru karena mereka masih ingin berbuat kebaikan dengan menjadikan tugas hidup ini berkesinambungan terus.

Benar, sesungguhnya mati itu menurut orang beriman adalah pintu rahmat ilahi, dan menurut orang sesat adalah sumur gelap dengan kegelapan yang sifatnya abadi.

Obat ke sepuluh

Wahai penderita sakit yang selalu gelisah tanpa sebab! Sebenarnya engkau lagi gelisah karena tekanan derita sakit, ketahuilah bahwa kegelisahanmu ini justru membuatmu semakin sakit, dan jikalau engkau ingin menjadikan deritamu itu ringan, maka berusahalah dengan baik menjauhkan diri dari kegelisahan itu. Artinya renungi dan pikirkan faedah-faedah derita sakit itu, dan pahalanya, dan gerak langkanya menuju kesembuhan, maka cabutlah segala akar-akar kegelisahan tersebut dari dalam dirimu maka derita sakitmu itu juga dengan sendirinya akan menghilang dengan akar-akarnya.

Sungguhlah kegelisahan atau kekhawtiran itulah yang melipat gandakan derita sakitmu dan menjadikannya dua derita penyakit; karena kegelisahan tersebut selalu mengirim pada hati – dibalik tekanan penyakit maddiy – mengirim derita penyakit ma`nawi, akhirnya penyakit maddiy itu bertambah lama karena pengaruh penyakit ma`nawi tersebut, sehingga jika engkau telah mengusir dari dalam dirimu kegelisahan dan was-was tersebut melalui tindakan penyerahan diri dan segala sesuatu pada Allah SWT serta ridha atas segala ketentuan qadha-Nya, dengan mengingat hikmah dibalik derita sakit tersebut, maka sesungguhnya derita sakit maddiy itu akan kehilangan sesuatu yang sangat penting dalam pengakarannya, sehingga berkurang dan akhirnya sembuh, dan jika penyakit maddiy tersebut disertai dengan persaan cemas serta bisikan was-was, maka derita sakit akan membesar seratus persen dari kecemasannya tersebut melalui kegelisahan yang besarnya hanya sepuluh persen saja, namun dengan berakhirnya kegelisahan tersebut maka hilang pulalah sembilan puluh persen dari pengaruh derita sakitmu, dan tatkala kegelisahan itu sebagai makanan yang penuh dengan ketakutan dan waham maka perlu dipahami bahwa hal itu akan melipat gandakan penyakit, dan membuat si penderita sakit seakan menuduh hikmah ilahi, sekaligus mengeritik rahmat ilahi, dan menyalahkan Tuhannya Sang Pencipta yang Maha Penyayang; olehnya itu penderita sakit akan dididik dengan teguran-teguran rahmat – berbeda dengan apa yang diinginkannya – yang membuat sakitnya semakin bertambah, sebagaimana syukur itu sendiri membuat ni`mat ilahi semakin bertambah, maka demikian pula keluhan itu akan membuat derita sakit dan musibah itu semakin menjadi-jadi, demikianlah kegelisahan dan kekhawatiran pada dasarnya adalah penyakit, dan obatnya yaitu dengan mengetahui hikmah terjadinya sakit, dan jikalau engkau telah mengetahui hikmah dan faedahnya, maka hapuslah kegelisahanmu itu dengan balsem tersebut diatas dan selamatkan dirimu dan katakanlah ” Alhamdulillah atas segala-galanya ” sebagai ganti rintihan ” aduh..sakit “.

Obat ke sebelas

Wahai penderita sakit yang kehabisan kesabaran ! walaupun derita sakit itu telah memberikan rasa sakit tapi sesungguhnya pada waktu yang sama ia mendatangkan kelezatan ma`nawi setelah derita itu pergi, disertai dengan kelezatan ruhiah yang lahir dari adanya pahala sakit tersebut, sehinggah zaman mendatang, bahkan saat berikutnya tidak lagi menanggung derita. Dan tidak diragukan lagi bahwa rasa sakit itu tak akan mungkin ada tanpa ada sebab, dan jika disana tak ada penyakit berarti tak ada gelisah dan keluhan, namun karena engkau menghayalkan dengan hayalan yang salah maka kegelisahan mendatangimu, dimana dengan perginya derita sakit itu maka rasa pedih yang dirasakan pada saat itu pergi juga, dan menghilang, dan pada akhirnya pahala sakit muncul disertai dengan kelezatan. Olehnya itu suatu kebodohan bahkan dianggap ketidak warasan jika engkau masih mengingat derita sakit dan menderita karenanya, akhirnya kesabaranmu telah habis, pada waktu yang sama seharusnya engkau tenang dan legah karena Allah telah memberikanmu kegembiraan dan kesenangan atas pahala yang lahir dari rasa sabar. Adapun hari-hari berikutnya sesungguhnya belum tiba, maka apakah bukan sebuah kebodohan jika dari sekarang engkau menyibukkan diri untuk memikirkan hari yang belum datang sama sekali, dan memikirkan derita sakit yang belum turun, dan belum terjadi ? maka ketahuilah bahwa bentuk khayalan seperti ini – karena berpikir jelek dan membebani diri dengan pedihnya derita sakit yang belum terjadi – akan membuatmu kehilangan kesabaran dimana memberikan tiga bentuk ketiadaan dengan tiga tingkatan wujud. Apakah ini bukan suatu tindakan gila ? olehnya itu selama waktu-waktu sakit yang telah lalu itu memberikan kebahagiaan, dan selama waktu-waktu yang datang belum terjadi sesuatu artinya belum tiba, maka ingatlah bahwa penyakit itu tiada dan derita sakit itu sendiri tiada juga.

Olehnya itu duhai saudaraku jangan menyia-yiakan apa yang Allah berikan padamu yaitu kesabaran yang kuat disana sini, maka kumpulkanlah semua kesabaranmu itu demi menghadapi cobaan derita sakit yang akan menimpamu saat-saat sekarang ini dan katakanlah :

” Ya Sabuur ” (يا صبور ) .

Artinya : ” Ya Allah yang maha sabar dalam menghadapi tingkah laku hamba-Nya ampunilah hamba-Mu ini “.

selanjutnya tahanlah derita ini dengan penuh kesabaran sembari mengingat bahwa Allah tidak akan pernah menyia-yiakan usahamu!

Obat ke duabelas

Wahai penderita sakit yang tidak bisa melaksanakan ibadah dan wirid-wiridnya dikarenakan cobaan derita sakit! Dan duhai orang yang menyesali ketidak mampuannya ! ketahuilah bahwa telah jelas dalam hadits syarif yang artinya : ” Sesungguhnya seorang mu`min akan tetap mendapatkan pahala seperti pahala ibadah yang telah dilakukannya walau dalam keadaan sakit, sehingga perlu dipahami bahwa derita sakit tersebut tidak akan menghalangi pahalanya, maka sesungguhnya penderita sakit yang selalu melaksanakan shalat fardhu – semampu mungkin – maka derita sakitnya itu yang akan menggantikan semua sunah-sunnah shalat dan menggantikan kedudukannya semata-mata saat derita sakit semakin keras, disebabkan dandanan yang dilakukan penderita dengan dandanan sabar, tawakkal, dan sekaligus melaksanakan shalat lima waktu, dan demikian pula derita sakit tersebut membuat manusia dapat merasakan kelemahan dan ketidak kemanpuannya , dan pada akhirnya penderita tersebut berdoa melalui kelemahan dan ketidak mampuannya itu, baik itu doa secara perbuatan ( lisanul hal ) atau ucapan ( lisanul kaul ), dan tidaklah Allah SWT meletakkan pada diri manusia sifat ketidak berdayaan yang tak terbatas serta sifat kelemahan yang tak berakhir melainkan untuk dipakai selamanya menengadah dengan kedua tangannya ke hadirat ilahi melalui doa, sembari mengharap ( rahmat Allah ) dan meminta ( hidayah-Nya ), sebagai mana dalam ayat suci yang mulia :

( قُـلْ مَا يَعْبَؤُا بِكُمْ رَبِّى لَوْلاَ دُعَاؤُكُمْ ) الفرقان 77.
Artinya : ” katakanlah hai Muhammad tidaklah kalian mendapat perhatian dari Tuhanmu kalau bukan karena doa kalian “. Al-FurQan 77.

Olehnya itu disebabkan karena derita sakit, lahirlah doa ikhlas dan hal ini merupakan hikmah diciptakannya manusia, serta merupakan penyebab asasi atas pentingnya dalam keberadaan hidup manusia, maka tidaklah pantas apabila mengeluh karenanya, bahkan seharusnya syukur pada Allah SWT, dan tidaklah pantas jikalau engkau membuat kering pancaran-pancaran doa yang di ledakkan oleh derita sakit tersebut hanya karena ingin sembuh.

Obat ke tigabelas

Wahai si miskin yang selalu mengeluh dari derita sakitnya! Sesungguhnya derita sakit itu pada manusia menjadi harta karun, dan hadiah ilahiah yang sangat mahal sekali, dan setiap penderita sakit mampu menjadikan derita sakitnya dalam bentuk seperti ini, dimana hikmah ilahi menghendaki kalau ajal itu tidak diketahui kapan datangnya, demi menyelamatkan manusia dari sikap keputus asaan mutlak dan dari sifat lupa zikir, dan demi membuatnya berada antara rasa takut dan rasa harap, demi menjaga dunia dan akhiranya dari ketergelinciran di lembah kerugian. Artinya ajal tersebut diduga kedatangannya setiap saat, maka jika ajal sudah mendatangi manusia dalam keadaan lupa maka ia akan disakiti oleh kerugian-kerugian dalam kehidupan ukhrawinya yang abadi itu, maka ingat bahwa derita sakit tersebutlah yang dapat menghancurkan dan memporak-porandakan benteng sifat lupa zikir itu, dan selanjutnya membuat penderita mengingat akhirat sekaligus menghadirkannya dalam otak pemikiran, bahkan sering terjadi, membuatnya beruntung dengan keuntungan yang besar, akhirnya mendapat kejayaan dalam jangka waktu dua puluh hari yang sebenarnya susah diraih dalam jangka dua puluh tahun lamanya, misalkan :

Disana dua anak mudah – yarhamuhallah semoga selalu mendapat rahmat Allah SWT – salah seorang bernama Shabri Al-Allaami ” dan kedua bernama ” Mustafa Wazir Zadah ” dari suatu desa bernama desa Islam, walaupun keduanya ummiy tidak tau membaca atau menulis dari semua murid-muridku, tapi justru saya heran melihat posisinya di barisan pertama dalan kejujuran dan kebenaran dalam tugas khidmah iman, dan pada saat itu saya belum memahami hikmahnya, namun baru saya tahu setelah keduanya pulang kerahmatullah bahwa keduanya telah menderita dua penyakit yang sangat susah disembuhkan, dan berkat irsyad dari derita sakit tersebut keduanya dengan takwah yang sangat kuat selalu berusaha melaksanakan khidmah yang tinggi itu, dan dalam hal yang bermanfaat untuk akhiratnya, beda dengan anak mudah yang lainnya, yang lagi tenggelam dalam sifat lupa zikir sampai lupa melaksanakan shalat fardhu, maka kami selalu memohon pada Allah SWT semoga waktu sakit dan derita sakit yang dialami oleh kedua anak mudah tadi dalam kehidupan dunia ini, berubah menjadi bermilliun-milliun tahun kebahagiaan kehidupan abadi di syurga nanti. Dan sekarang aku juga baru memahami bahwa doaku untuk kesembuhan keduanya – dari sisi dunia – merupakan kecelakaan baginya, namun saya mengharap pada Allah SWT agar doaku ini mustajab untuk kesehatan keduanya.

Demikianlah kedua anak mudah tersebut mampu mendapatkan – sesuai keyakinanku – keuntungan yang senilai dengan apa yang telah didapatkan oleh manusia dengan usaha dan takwa sekurang-kurangnya sepuluh tahun , sehingga jika keduanya membanggakan diri dengan kesehatannya seperti sebagian anak mudah yang lain, dan mebuat diri jatuh dalam penyakit lupa Tuhan dan kebodohan sampai keduanya didatangi oleh mati yang selalu mencari kesempatan itu, dan keduanya tenggelam dalam Lumpur dosa-dosa dan kegelapan-kegelapannya, maka tentu kuburannya sekarang adalah kandang-kandang kalajengking dan ular, dan bukan seperti yang terjadi sekaran ini yaitu timbunan-timbunan cahaya serta harta karun kebahagiaan dan kegembiraan.

Olehnya itu selama derita-derita sakit tersebut didalamnya berisikan berbagai macam manfaat yang sangat besar maka janganlah mengeluh, bahkan wajib berpegang teguh pada Rahmat Ilahi dengan cara tawakkal, sabar, dan memberi kabar gembira dengan ucapan puji syukur pada Allah SWT.

Obat ke empatbelas

Wahai penderita sakit yang tertutup matanya ( dengan hijab ) ! jika engkau tahu bahwa disana ada cahaya, cahaya apa saja, dan juga tahu bahwa disana mata ma`nawi dibalik hijab yang menutupi mata orang-orang beriman, maka engkau akan berkata : “Terimakasih dan beribu terimakasih pada Tuhanku yang Maha Penyayang “. dan agar lebih jelas obat balsam tersebut maka aku menceritakan kejadian berikut ini :

Sungguh tantenya ” Sulaiman ” telah mendapat musibah, dan Sulaiman ini berasal dari ” Barla ” , yang mana ia senantiasa membantuku dalam khidmah tanpa mengenal rasa bosan, atau tidak pernah berkecil hati menghadapiku selama delapan tahun, berkhidmah padaku dengan khidmah yang disertai dengan kesungguhan, kejujuran dan penuh penghargaan, tanten Sulaiman tersebut mendapat cobaan yaitu buta, akhirnya cahaya matanya padam, dan karena prasangka baik berlebihan yang dimiliki wanita shaliha ini terhadapku yang merupakan diluar kemanpuanku maka ia meminta tolong saat aku sedang meninggalkan mesjid seranya berkata : ” Billahi alaik..berdoalah pada Allah untukku demi kesembuhan mataku ini “, dan saya sendiri telah menganggap kesalehan wanita mu`minah ini sebagai syafaat dan sebab sehingga aku berdoa, akhirnya saya berdoa pada Allah SWT dengan penuh kekhusyukan dan bertawassul pada-Nya sembari berkata :

” اللـَّهُمَّ يَا رَبـَّنَا بِحُرْمَةِ صَلاَحِهَا اكـْشِفْ عَنْ بَصَرِهَا “.

Artinya : ” Allahumma Ya Allah Ya Tuhan kami, dengan berkat kesalehan wanita ini, jadikanlah ia melihat kembali “.

Kemudian pada hari berikutnya seorang dokter special mata datang dari wilayah yang terdekat namanya wilayah ” Bordu ” berhasil mengobati matanya, maka ( Alhamdulillah ) Allah SWT mengembalikan matanya, namun setelah empat puluh hari berikutnya mata tersebut kembali buta, sehingga aku merasa kasihan sekali dan aku banyak berdoa untuknya, dan harapanku semoga doaku tersebut mustajab untuk diterimanya nanti kelak di akhirat, dan jika tidak, maka doaku tersebut akan menjadi – suatu kesalahan – yaitu siksaan baginya, dimana wanita tersebut bertahan selama empat pulu hari saja untuk menunggu ajalnya yang datang, akhirnya pulang ke rahmatullah setelah empat puluh hari.

Demikianlah, sesungguhnya ketidak terwujudnya keinginan wanita tersebut, yaitu wanita yang diharapkan sekali mendapatkan nimat penglihatan dan bersenang-senang dengan kiindahan taman-taman yang sedih di ” Barla ” dan tebentangnya hijab antara dia dengan kebun-kebun yang hijau dan indah itu selama empat puluh hari, ( namun ) sungguh telah digantikan sekarang dikuburannya, yaitu dapat melihat syurga dan menyaksikan indahnya taman-taman syurga yang hijau itu selama empat ribu satu hari, hal itu terjadi karena iman yang dimilikinya sangat kuat dan mendalam, dan kesalehanya selalu menyinari dengan agung.

Benar bahwa jika seorang mu`min ditutup matanya dengan hijab dan masuk kubur dalam keadaan demikian maka sesungguhnya ia mampu melihat alam nur yang penuh dengan cahaya – sesuai derajat tingkatan imannya – dengan penglihatan yang lebih luas dari penglihatan ahli kubur, sepertihalnya kita selalu melihat dengan mata kepala segala sesuatu yang ada di dunia ini, dan orang-orang mu`min yang buta tidak mampu melihatnya, maka di kuburanpu juga demikian, mereka yang buta tadi – sesuai derajat masing-masing – jika mereka beriman dan bertakwa – akan melihat lebih banyak dari yang dilihat oleh ahli kubur, dan mereka akan menyaksikan taman-taman syurga dan kenikmatannya, laksana mereka dilengkapi dengan alat teropong – sesuai derajat masing-masing – sehingga dapat melihat pemandangan-pemandangan syurga yang memukau itu dan nampak seperti layar tancap atau layar bioskop dihadapan mata mereka yang dulunya di dunia tidak dapat melihat dengan mata kepalanya.

Olehnya itu duhai saudaraku sebenarnya engkau mampu mendapatkan mata nuraniah yang memperlihatkan syurga yang ada di atas langit yang tinggi itu dan engkau masih di dalam bumi, hal itu melalui kesabaran, dan bersyukur atas hijab yang menutupi matamu itu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah yang Maha bijak serta maha tahu tentang mata tersebut dan sangat mampu untuk mengangkat hijab tersebut dari kedua matamu agar engkau dapat melihat dengan mata keimanan tersebut, itulah kitab suci Al-Qur`an Al-Hakim.

Obat ke limabelas

Wahai penderita sakit yang selalu merenge-renge dan menangis! Janganlah selalu merenge-renge dan jangan pula menangis hanya karena melihat bentuk derita sakit yang tidak diinginkan itu, tapi lihatlah ma`na dan isinya dan bergembiralah seranya berkata : Alhamdulillah .

Maka sekiranya ma`na derita sakit itu tidak indah maka tentu Allah sang pencipta yang Maha penyayang tidak menguji kekasih pilihan-Nya dengan derita cobaan sakit, dan sunggulah tertera dalam hadits :

( أشَدّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ اْلأَوْلِيَاءُ ثُمَّ اْلأَمْثَلُ فَاْلأَمْثَلُ ) أو كما قال .

Arinya : ” manusia yang paling hebat cobaannya adalah para nabi, kemudian para wali, kemudian yang lebih mulia, lalu yang lebih utama “. atau sebagai mana yang Rasulullah SAW ucapkan.

Dan yang berdiri di depan orang-orang yang sering mendapatkan ujian dan cobaan adalah Nabiyullah yang terkenal kesabarannya Ayyub a.s., kemudian para Nabiyullah yang lain a.s., kemudian para Waliyullah, kemudian para hamba Allah Salihin. Dan sungguh mereka telah mendapat dan meneriman derita-derita penyakit yang dijalaninya sebagai ibadah semata dan hadiah rahmaniah, akhirnya dilaksanakannya dengan penuh rasa syukur disela-selah kesabaran mereka, dan mereka melihat cobaan tersebut sebagai bentuk dari operasi luka yang datangnya dari Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Olehnya itu duhai penderita sakit yang selalu merintih-rintih karena kesakitan ! jikalau engkau ingin ikut dalam golongan jamaah nuraniah ini, maka hendaklah selalu bersyukur diselah-selah kesabaran dalam menghadapi sesuatu, dan jika tidak maka keluhanmu tersebut akan membuat mereka tidak menginginkanmu untuk ikut dengan jamaahnya, serta engkau dengan sendirinya terjerumus dalam lembah orang-orang yang lupa zikir yang dikenal dengan Al-Gaafiliin ! dan engkau akan menempuh perjalanan yang diselimuti dengan kegelapan. Memang benar, bahwa disana terdapat beberapa penyakit yang diakhiri dengan kematian, dan akan menghiasi penderita sakit itu dengan tingkatan-tingkatan kewalian laksana sebuah syahadah ma`nawiah, yaitu penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh melahirkan anak , sakit perut, tenggelam, kebakaran dan kena penyakit tha`un, olehnya derita penyakit tesebut jika diderita kemudian sipenderita mati olehnya, maka sesunguhnya akan terangkat derajatnya ke derajat syahid ma`nawi, dan disana ( juga ) beberapa penyakit yang mempunyai berkah, yang memberikan penderita derajat kewalian dikarenakan meninggal dengan derita sakitnya tersebut, dan tatkala derita sakit dapat mengurangi cinta seseorang terhadap dunia dan kemegahannya, dan mengurangi rasa asyik serta hubungan yang kuat terhadapnya, dan juga ia mengurangi derita sakit karena pahitnya ditinggalkan oleh kekasih dan saudara, dan mereka meninggalkan dunia yang fana ini melalui kendaraan mati bahkan kadangkala derita itu membuat mereka cinta akan kematian.

Obat ke enambelas

Wahai si penderita sakit yang selalu gelisah dan jenuh ! sesungguhnya derita sakit akan menalkin penderita, ( yaitu`menalkin dan mengajarkannya ) tali ikatan kehidupan social dan kemanusiaan yang sangat penting, dengan simpul-simpulnya yang sangat indah yaitu saling menghargai dan saling mencintai; karena akan menyelamatkan manusia dari sifat acuh terhadap yang lain, dimana sifat acuh tak acuh tersebut akan mengakibatkan kehidupan yang mengerikan, dan sekaligus menjauhkan manusia dari rahmat ilahi, karena sebagai mana yang nampak jelas dalam ayat suci ;

( كَلاَّ إنَّ اْلإِنْسَانَ لَيَطْغَى * أنْ رَءَاهُ اسْتَغْنَى ) العلق 6 ,7 .

Artinya : ” Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas * karena ia melihat dirinya serba cukup “. S.Q. Al-Alaq 6-7.

Sesungguhnya nafsu ammarah yang terdapat dalam sifat acuh tersebut – yang lahir dari keadaan sehat wal afiat – sama sekali tidak akan merasakan penghargaan dan penghormatan yang layak dalam hubungan tali persaudaraan, dan tak akan menikmati rahmat dan kasih sayang yang cocok dengan orang-orang yang selalu mendapat cobaan atau derita sakit, namun kapan saja manusia ditimpah musibah dan paham sejauh mana ketidak berdayaan dan ketidak mampunya, dan sejauh mana kefakiranya, dibalik tekanan derita sakit dan kepedihannya serta bawaan-bawannya, maka sesungguhnya akan merasakan penghormatan yang pantas untuk saudara-saudaranya mu`minin yang lain, yang sedang dan selalu menjaganya, atau orang-orang yang datang menziarahinya, dan juga merasakan social kemanusiaan terhadap orang-orang yang menderita dan mendapat cobaan – karena mengkiaskan pada diri sendiri – sehingga lahir dari dalam hatinya perasaan rahmat dan kasih sayang – dimana keduanya merupakan perangai islami – dengan penuh ma`na terhadap mereka – akhirnya rasa kasih sayang itu begitu hangat dalam menghadapi mereka, dan jika mampu ia memberikan bantuan, dan jika tidak maka ia akan selalu mendoakan mereka, atau mensiarahinya, atau menanyakan keadaanya, yang dengan demikian ia menunaikan sunnah syar`I yang dibawa oleh Rasulullah SAW sembari memperoleh pahala yang sangat agung.

Obat ke tujuhbelas

Wahai penderita sakit yang selalu mengeluh karena tidak mampu melaksanakan kebaikan ! jadilah manusia yang tahu bersyukur : ketahuilah sesungguhnya saya memberikan berita gembirah bahwa yang selalu membuka pintu-pintu kebaikan yang sangat suci itu adalah derita sakit itu sendiri, maka derita sakit itu selain memberikan pahala yang berkesinambungan yaitu terhadap orang-orang yang menjaganya ( dengan rasa sabar ), juga merupakan wasilah yang paling penting untuk diterimanya doa.

Benar, sesungguhnya menjaga orang-orang yang menderita sakit akan selalu memberikan – untuk orang beriman – pahala yang besar, dan menjenguk mereka serta bertanya tentang kesehatan mereka – dengan catatan tidak menyiksa mereka dengan pertanyaan tersebut – merupakan sunnah Rasul SAW yang sangat mulia, dan pada waktu yang sama merupakan penebus dosa. Dan telah terdapat dalam hadits dengan ma`na berikut : ” mintalah doa dari orang sakit karena doanya mustajab “, terutama jika penderita itu dari keluarga dekat, seumpama bapak atau ibu, karena sesungguhnya berkhidmah kepada keduanya juga merupakan ibadah dan juga pahalanya sangat besar, dan sesungguhnya menenangkan hati para penderita sakit dan memberikan angin kebahagiaan di dalam hatinya dan merupakan sedekah yang utama, maka alangkah bahagianya mereka para anak-anak yang selalu berkhidmat dan berbuat baik pada kedua orang tuanya saat mereka sakit, dan menenangkan hati mereka yang lembut dan cape itu, maka tentulah akan selalu menang dan beruntung dengan mendapatkan doa dari kedua orang tua.

Memang benar sesungguhnya hakekat yang berhak mendapat penghargaan yang banyak dan tempat yang tinggi dalam kehidupan social adalah turutnya anak-anak yang bijak itu membalas jasa rasa kasih sayang dan muamalah yang baik walau keduanya tidak mengharapkan imbalan apa-apa dari anak-anaknya, dengan memberikan penghargaan yang pantas serta rasa kasih sayang padanya tatkala keduanya menderita sakit, maka ketahuilah bahwa gambaran yang suci lagi indah itu yang memperlihatkan situasi baik dari seorang anak dan posisi social kemanusiaan yang tinggi, sungguh itu suatu keajaiban yang membangkitkan rasa kagum semua makhluk sampai malaikatpun juga kagum, sehingga mereka para ciptaan Allah tersebut menyambut baik dan memberikan jempol dan bertakbir sembari berkata ” Ma syaa Allah , tabarakallah, “.

Sesungguhnya segala bentuk perasaan, dan rasa kasih sayang serta rahmat yang mengelilingi penderita sakit tentulah akan dapat menghilangkan derita sakit dan mengubahnya menjadi kelezatan manis yang menggembirakan.

Sesungguhnya diterima dan mustajabnya doa penderita sakit adalah masalah yang sangat penting diperhatikan, sehingga sejak empat puluh tahun yang lalu saya sering berdoa agar derita sakit di pundakku ini sembuh, kemudian aku baru tahu dan meyakini bahwa derita itu diberikan agar sering berdoa, dan sebagai mana doa, yaitu doa yang dilakukan saat derita sakit masih berkesinambungan, maka hasilnya bersifat ukhrawi , dan doa itu sendiri merupakan ibadah, dimana penderita selalu kembali ke hadirat Allah saat ia tahu dan memahami ( Al-Ajzu ) kelemahan dan ketidak mampunya itu, olehnya itu tidak diterimanya doaku secara lahiriah yang dilakukan demi memohon kesembuhan dari derita sakit selama tiga puluh tahun, sama sekali tidak akan dapat membuatku berpikir untuk meninggalkannya walau itu sehari saja, karena derita sakit tersebut adalah saat atau waktu berdoa, dan kesembuhan itu sendiri bukanlah karena hasil doa, bahkan jika Allah SWT yang Maha bijak ( Al-Hakim ) lagi Maha Penyayang ( Ar-Rahim ) memberikan kesembuhan, itu diberikannya karena rahmat dan kemuliaan-Nya, dan sesungguhnya tidak diterimanya doa sesuai yang kita inginkan bukan berarti doa itu tidak mustajab, karena Allah Sang Maha Pencipta ( Al-Khalik ) yang Maha Bijak ( Al-Hakim ), selalu mengetahui apa yang lebih afdal dan terbaik, sementara kita semua selalu tidak mengetahuinya, dan sesungguhnya Allah subhanah akan selalu memberikan pada kita apa yang terbaik dan sangat bermanfaat, dan sesungguhnya Allah SWT kadang kala menyimpangkan doa-doa kita yang berkaitan dengan keduniaan guna dimanfaatkan kelak di akhirat, dan demikianlah doa tersebut mustajab atau diterima. Pada intinya bagaimanapun bentuknya sesungguhnya doa yang ikhlas dan lahir dari rahasia derita sakit, begitu pula berasal dari perasaan lemah dan ketidak berdayaan, serta perasaan hina dan fakir, merupakan doa yang sangat dekat dengan derajat mustajab. Derita sakit itu sendiri merupakan dasar utama atas doa yang ikhlas dan sumbernya. Olehnya itu penderita sakit beserta orang-orang yang menjaganya dari kalangan mu`minin, sebaikya mengambil faedah dan pelajaran dari doa ini.

Obat ke delapanbelas

Wahai penderita sakit yang tidak bersyukur, dan menyerah tidak bersabar sampai mengeluh ! sesungguhnya keluhan itu nanti boleh kalau berasal dari adanya hak dan kebenaran yang kembali padamu, sementara sama sekali hakmu tidak pergi dengan sia-sia sampai engkau mengeluh, bahkan bagimu hak-hak yang banyak, yang belum engkau tunaikan syukurnya, sesungguhnya engkau belum melaksanakan hak Allah padamu, kemudian diluar dari itu engkau selalu mengeluh karena perkara batil seakan kamu dalam kebenaran, sebenarnya engkau tidak berhak mengeluh sembari melihat orang-orang yang lebih tinggi martabatnya darimu, bahkan wajib bagimu melihat – dari sisi kebenara – kepada mereka penderita sakit yang miskin itu, yang mana derajat mereka lebih rendah darimu, serta mereka yang selalu gelisah karena kuatnya tekanan derita sakit.

Olehnya itu engkau dibebankan untuk banyak bersyukur. Dan jika tulang tanganmu patah maka lihat dan renungilah tangan-tangan yang terpotong, dan jika engkau bermata satu maka lihat dan renungilah orang-orang yang kehilangan kedua matanya, agar engkau selalu bersyukur pada Allah SWT.

Benar, tidak seorangpun – dari sisi ni`mat – yang mempunyai hak untuk memandang ke atas guna melihat orang yang lebih tinggi derajatnya, sehingga api keluhan yang membakar itu menyala, namun sesorang jika terjadi musibah, wajib baginya – dari sisi cobaan – melihat orang yang lebih parah cobaannya serta lebih tinggi deritanya, sehingga dapat bersyukur, dan menerima apa adanya dengan penuh qanaah. Dan sunggulah rahasia ini telah dijelaskan di sebahagian risalah-risalah dengan contoh perumpamaan yang tutuntunannya seperti berikut :

” Seseorang yang memegang tangan si miskin untuk dibawa naik ke puncak menara, dan selalu memberikannya hadiah setiap kali melewati derajat tingkatan menara tersebut, hingga diakhiri dengan hadiah paling istimewa yang diberikannya nanti di puncak menara, dan seharusnya si miskin ini memperlihatkan rasa syukur dan penuh penghargaan terhadap hadiah-hadiah yang beraneka ragam tersebut, namun dia nampak pura-pura lupa terhadap semua hadiah-hadiah yang telah diterimanya saat melewati tingkatan derajat itu, atau setelah menerima hadiah itu ia tak peduli lagi, sehingga dia tidak bersyukur sembari mengangkat penglihatannya melihat orang yang lebih tinggi darinya dengan memperlihatkan keluhan seranya berkata : ” sekiranya menara ini lebih tinggi dari sekarang, maka tentu aku akan libih mendapatkan derajat paling tinggi dari yang lainnya ! kenapa engkau belum menjadi tinggi seperti gunung yang tingggi sekali?”

Demikianlah jika laki tersebut mengeluh, maka alangkah besarnya kufur ni`mat yang dilakukannya, dan alangkah besarnya kekeliruan yang diperbuanya yaitu dengan melampaui kebenaran!

Demikian pula keadaan manusia yang datang dari alam ketiadaan menuju alam wujud, dan tidak menjadi seperti batu, pohon, dan hewan, bahkan justru menjadi manusia muslim dan sunggulah dia telah banyak menikmati rasa sehat wal afiat, dan telah mendapatkan derajat yang tinggi, namun ironisnya manusia masih sering memperlihatkan sikap keluhan, mengeluh karena tidak menikmati kesehatan dan kesegaran karena beberapa faktor, atau karena telah menyia-nyiakan ni`mat tersebut karena salah pilih, atau salah penggunaan, atau karena tidak mampu untuk mendapatkannya, kemudia ia berkata : ” Rugilah rasanya..apa yang aku dapat hingga terjadi padaku apa yang telah terjadi ” dengan memperlihatkan bahwa kesabarannya telah habis, dan pada waktu yang sama mengucapkan kata-kata yang mengkritik rububiah ilahi. Maka ketahuilah bahwa hal ( seperti ) ini adalah penyakit ma`nawi dan musibah besar, lebih besar dari penykit maddiy dan lebih besar dari musibah yang ada didalamnya, olehnya itu derita sakit semakin bertambah, karena sikap keluh laksana seorang yang berkelahi dengan tangan yang terbelenggu, namun seorang yang berakal akan selalu mengamalkan ayat suci yang berbunyi :

( الَّذِيْنَ إذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيْبَةٌ قَالُوْا إِنَّا للهِ وَإنَّا إلَيْهِ رَاجِعُوْنَ ) البقرة 156 .

Artinya : ” yaitu orang-orang yang jika ditimpa musibah, mereka mengucapkan: sesungguhnya kami milik Allah SWT dan hanya kepada-Nyalah kami kembali “. Al-Baqarah 156 .

Akhirnya ia menyerahkan semuanya ke hadirat Allah SWT dengan penuh rasa sabar sampai derita tersebut berakhir dan berhenti melaksanakan tugasnya, dan pergi mencari jalannya sendiri.

Obat ke sembilanbelas

Sesungguhnya ungkapan shamadani yang menamakan atau mengistilahkan kata ” Asmaul husna ” kepada semua asma-asma Allah yang maha mulia lagi maha agung itu, menunjukkan bahwa semua Asma Allah tersebut cantik dan mulia, dan dimana kehidupan itu merupakan cermin shamadaniah yang paling cantik, paling lembut, paling hebat, dan karena sesungguhnya cermin itu milik Allah yang maha cantik dan mulia maka cermin itupun juga cantik dan mempesona, dan sesungguhnya cermin yang memantulkan dan memperlihatkan keindahan-keindahan Sang Maha Cantik yaitu Allah SWT maka juga menjadi cantik, dan segala sesuatu yang datangnya dari Sang Maha Canti, mengena dan menimpa cermin tersebut maka sesuatu itu juga cantik. Maka olehnya itu segala apa yang menimpa hidup juga cantik – menurut kacamata hakekat – karena hal itu memperlihatkan ukiran-ukiran cantik dan indah atas ” Asmaullah Al-Husna ” yang cantik .

Sekiranya hidup sehat wal afiat itu dijalani dalan satu bentuk saja, maka cermin tersebut kurang lengkap, bahkan kadang kala engkau – suatu sisi – merasakan ketiadaan dan tak berartian ( dalam hidup), sehingga merasa tersiksa dan sempit, dan nilai hidup itu jatuh, dan kelezatan dan keindahan umur itu berubah menjadi derita sakit yang pedih, akhirnya manusia tersebut menjatuhkan diri dalam Lumpur-lumpur kebodohan, atau dalam tempat-tempat hiburan dan pesta pora, sembari memaksakan diri menikmati kelezatan-kelezatan dunia sebelum umur berakhir, perumpamaan seperti ini seperti orang yang dipenjara yang selalu membenci umurnya yang berharga itu dan dibunuhnya dengan cepat, demi mengakhiri masa penjara.

Namun kehidupan yang berlalu dengan perubahan-perubahan dan gerak dan dengan pola-pola hidup yang beraneka ragam, sesungguhnya hal itu memperlihatkan dan memberitahukan bahwa hidup itu mempunyai nilai dan peranan dan – hidup ini – membuat umur tarsebut menjadi penting dan memberikannya kelezatan yang sangat istimewa, sehingga manusia itu seperti tidak senang mengakhiri hidupnya, meskipun banyak berhadapan dengan segala bentuk derita dan cobaan, dan tidak mau memperlihatkan rasa kesal seranya berkata :

” أنَّى لِلشَّمْشِِ أَنْ تَغِيْبََ وََأنَّى لِلََّيْلِ أنْ يََنْجََلِى “.

Artinya : ” Kapan saatnya matahari terbenam dan kapan saatnya malam berakhir ” .

Yah, cobalah bertanya pada seorang yang kaya lagi pengangguran dimana segala sesuatu dalam hidupnya serba beres, bertanyalah padanya : ” bagaimana keadaanmu ? “, maka tentulah engkau mendengar kata-kata yang sedih lagi penuh rasa penyesalan, seperti ” Ah..” kenapa waktu ini tak berlalu. Melainkan hanya datang agar kita mencari hiburan untuk menghabiskan waktu. Mari bermain dadu sebentar..! atau engkau mendengar keluhan yang dikarenakan harapan yang begitu panjang seperti : sesungguhnya perkara fulan ini kurang sekali, sekiranya aku dapat melaksanakan ini dan itu. Adapun jika engkau bertanya pada seorang yang fakir yang tenggelam dalam derita dan cobaan atau seorang yang bekerja keras : ” bagaimana keadaanmu ? “, maka ketahuilah bahwa jika ia seorang yang berakal sehat maka akan menjawab : ” sesungguhnya aku dalam keadaan baik-baik saja wal hamdulillah dan seribu syukur kuucapkan untuk Tuhanku, karena aku selalu dalam usaha yang berkesinambungan, betapa indahnya bila matahari ini tidak terbenam dengan cepat sehingga tugas kerja dapat selesai. Waktu berlalu dengan cepat dan umurpun bertambah tanpa berhenti, meskipun saya sebenarnya sibuk, namun kesibukan ini juga akan berlalu, maka segala sesuatu akan berjalan sesuai sistim perjalanan tersebut..!” . sehingga dengan kata-kata seperti ini orang tersebut mengungkapkan nilai umur dan pentingnya dalam hidup, disela-sela rasa penyesalanya terhadap umur dilewatinya begitu saja, disesalinya, maka olehnya itu dia tahu bahwa kelezatan umur dan nilai hidup, keduanya didapat melalui usaha yang keras dan tantangan yang hebat, adapun ketenangan, sakinah, dan sehat wal afiat, adalah hal yang membuat umur itu pahit, dan membuatnya berat dimana seseorang beangan-angan untuk melepaskan diri dengan cepat.

Wahai saudaraku yang sakit, ketahuilah bahwa asal musibah dan kejahatan dan bahkan dosa-dosa adalah ” Al-Adam artinya ketiadaan dan kekosongan ” sebagaimana telah diisbatkan dan dijelaskan dalam semua risalah dengan isbat yang kuat dan mendetail – dan Al-Adam itu sendiri adalah hakekat kejahatan dan kegelapan yang sempurna.

Olehnya itu bentuk-bentuk keadaan yang berhenti dan tidak bergerak yang dikenal sebagai ketenangan dalam satu bentuk dan satu arah, itu dekat sekali dari Al-Adam yaitu ketiadaan dan kekosongan, dan kedekatannya ini membuat seseorang merasakan kegelapan yang ada dalam ketiadaan tadi serta memberikan perasaan gelisah dan sempit. Adapun gerak dan perubahan, keduanya diistilahkan sebagai wujud yaitu kebalikan al-adam, keduanya memberikan perasaan wujud atau hidup, dan wujud ini adalah kebaikan semata dan sebuah cahaya.

Olehnya itu selama hakekat seperti ini, maka ketahuilah bahwa derita sakit yang ada dalam dirimu, itu hanyalah merupakan tamu yang dikirim untukmu guna melaksanakan banyak tugas, dimana dia bekerja membersihkan hidupmu, serta memperkuatnya, dan membuat kamu meningkat kederajat yang lebih tinggi, dan juga mengarahkan segala hal dalam dirimu untuk menolong dan membantu anggota badan yang sakit , dan dia juga memperlihatkan ukiran-ukiran asma Allah Sang Pencipta ( Ahs-Shani ) yang Maha Bijak ( Al-Hakim ), dan derita sakit ini tidak lama lagi akan mengakhiri masa tugasnya insya Allah SWT, dan berjalan kembali keasalnya seranya berkata pada kesehatan : ” Datanglah kamu sekarang juga untuk menempati tempatku selamanya, dan sekaligus kembali melaksanakan tugas, maka inilah tempatmu sekaran, terima dan tempatilah dengan tenang “.

Obat ke duapuluh

Wahai penderita sakit yang selalu mencari obat! Ketahuilah bahwa derita sakit itu ada dua : pertama hakiki dan kedua khayalan atau waham.

Adapun bagian hakiki pertama ini, Allah SWT Asy-Syafi Al-Hakim Al-jalil Jalla wa Alaa telah memberikan obat setiap penyakit, dan telah disimpannya di gudang apotik-Nya yang sangat besar, yaitu bumi, dan obat-obat tersebut menghendaki adanya penyakit, dan Allah sesungguhya telah menciptakan disetiap penyakit obat, maka penggunaan resep obat karena perobatan, itu pada dasarnya dianjurkan oleh syareat, tapi wajib diketahui bahwa kesembuhan dan reaksi obat tersebut hanyalah dari Allah Tabara Wa Ta`ala semata, seperti halnya Allah memberikan penyakit maka dia jugalah yang memberikan kesembuhan. Dan wajib seorang muslim untuk patuh mengikuti petunjuk para dokter muslim yang ahli lagi cerdas dan mendengar nasehat-nasehat mereka, dan itu perobatan yang sangat penting, karena kebanyakan derita sakit dikarenakan kesalah gunaan, tidak adanya larangan, tidak diperhatikannya petunjuk, berlebihan dalam sesuatu, dan dikarenakan dosa dan kebodohan serta ketidak adanya rasa hati-hati. Olehnya itu tidak diragukan lagi bahwa seorang dokter yang ahli akan selalu menasehati dalam lingkaran yang dibolehkan secara syar`iy dan selalu memberikan wejangan-wejangan, dan mengingatkan agar jauh dari salah pengunaan dan sikab berlebihan, sekaligus memasukkan dalam diri seorang penderita sakit hiburan dan harapan, dan pada waktu yang sama penderita tersebut berpegang teguh pada wejangan dan harapan tadi sehingga derita mengurang, dan rasa gembira berdatangan sehingga tidak merasa sempit dan gelisah.

Adapun bagian ke dua yaitu waham atau khayalan : sesungguhnya obatnya yang sangat jitu adalah : ” rasa acuh atau rasa tak peduli ” karena waham ini membesar kalau selalu diperhatikan, dan jika tidak dipedulikan atau tidak diperhatikan maka akan mengecil, kurus dan menghilang, sebagaimana manusia jika menemukan sarang lebah lalu mendekatkan diri dan memegang atau mengganggu sarang lebah tersebut maka otomatis lebah tersebut berkumpul dan menyerangnya, dan jika tidak peduli dan melewatinya dengan tenang maka hal itu tidak terjadi, dan sepertihalnya orang yang selalu mengikuti dengan penuh perhatian, mengikuti khayalan dalam kegelapan dari tali yang memanjang, maka akan membesar dihadapannya khayalan tersebut sampai kadang kala membuatnya lari – seperti kesetanan – dan jika tidak peduli atau acuh saja maka kenyataan akan nampak dan memberitahukannya bahwa hal itu hanyalah tali saja bukan ular, dan pada akhirnya mulai senyum karena melihat kekacauan pikirannya dan khayalannya. Maka penyakit waham ini jika berlangsung lama sekali maka akan menjadi penyakit hakiki yang sebenarnya, dan waham bagi orang yang berperasaan tinggi adalah sebuah penyakit yang sangat susah diatasi, dimana membuatnya takut dan menganggap biji kecil itu seperti menara, akhirnya kekuatan ma`nawinya melemah, dan apalagi jika berhadapan dengan para dokter yang berhati keras yang tak memiliki rahmat, atau dokter yang tidak jelas, yang selalu dapat memancing khayalan-khayalannya hingga semakin menjadi-jadi dan kronisnya menjadi lebih hebat dari sebelumnya sampai pederita yang berperasaan tinggi tadi habis hartanya jika kaya, atau gila, atau sama sekali kehilangan rasa sehat.

Obat ke dua puluh satu

Wahai saudaraku yang sakit ! memang benar bahwa derita sakitmu itu terdapat didalamnya derita sakit maddiy, namun kelezatan ma`nawi yang sangat berharga justru mengelilingimu, dan dapat menghapus segala bekas derita sakit maddiy tersebut; karena derita sakit maddiy tersebut tidak mampu mengalahkan perasaan kasih sayang yang lezat itu – yang telah kamu lupakan sejak kecil – dan yang kembali muncul dan mebanjir dari hati kedua orang tua, dari saudara-saudara – jika engkau mempunyai orang tua dan saudara – dan juga tidak mampu mengalahkan perasaan-perasaan yang penuh kebahagian dan memori masa lalu saat kecil, sehingga hijab yang tak terlihat itu terbuka antara kau dengan para kekasi-kekasih disekitarmu agar mereka kembali menjagamu, mencintaimu, mengasihanimu, berkat pengaruh magnet derita sakit yang membangkitkan perasaan-perasaan tersebut, maka alangkah ringannya derita yang engkau alami itu dihadapan khidmah-khidmah mulia yang dilakukan oleh mereka , yang bercampur dengan rahmat, dan rasa kasih sayang – karena derita sakit – yaitu mereka yang engkau selama ini telah berusaha – dengan penuh rasa bangga – untuk berkhidmat pada mereka dan mendapatkan ridhanya, sehingga akhirnya engkau menjadi pusat perhatian dan dapat memerintah mereka, dan engkau sebenarnya dengan berkat derita sakit tersebut akan lebih banyak mendapat kekasih-kekasih yang selalu membantu, serta teman-teman yang selalu memberikan kasih sayang, engkau menarik mereka karena kelembutan dan rasa kasih sayang yang ada dalam fitrah manusia.

Kemudian dengan derita sakitmu ini engkau telah mendapat liburan kerja dari tugas-tugas yang berat dan mematikan, dan kamu sekaran tidak perlu kerja dan lagi istirahat, olehnya itu setelah mendapatkan kelezatan-kelezatan ma`nawi tersebut sebaiknya kamu bersyukur sehingga dapat keluar dari rasa sempit yang diakibatkan oleh keluhan dan keluar dari derita sedih kerena rasa sakit.

Obat ke dua puluh dua

Wahai penderita sakit yang susah disembuhkan lagi kronis seperti derita lumpuh ! sesungguhnya saya memberikanmu berita gembira bahwa penyakit lumpuh itu diangap penyakit yang sangat berberkah dalam kehidupan seorang mu`min; sungguh dulu ( beberapa tahun yang lalu ) aku telah mendengar perkara ini dari ” para wali-wali Allah yang shalih ” dan aku sendiri waktu itu tidak mengetahui rahasianya, dan sekarang terlintas salah satu rahasianya dalam hati sebagai berikut :

Sesungguhnya Ahlul Wilayah ( Wali-wali Allah ) telah meneliti dengan baik dengan kehendak mereka sendiri, dua dasar yang sangat penting untuk sampai dalam pendekatan diri kepada Allah SWT, demi selamat dari bahaya-bahaya keduniaan yang bersifat ma`nawi dan lagi membahayakan itu, dan sebagai jaminan untuk mendapatkan kebahagiaan abadi kelak.

Kedua dasar tersebut :

Pertama :

Rabitatul maut, artinya mereka berusaha demi mencapai kebahagian abadi kelak, yaitu berusaha memikirkan kefanaan dunia dan sekaligus memikirkan bahwa mereka adalah tamu-tamu yang diberikan tugas-tugas sementara.

Kedua :

Mematikan nafsu ammarah dengan melalui mujahadah dan riyadah ruhiyyah demi lepas dari bahaya-bahaya hawa nafsu dan jiwa.

Duhai saudaraku yang telah kehilangan seperdua hidupnya, sungguh telah diletakkan dalam dirimu – tanpa kau pilih – dua dasar pendek dan sangat mudah, keduanya membukakan padamu jalan kebahagiaan abadi, dan keduanya juga selalu mengingatkanmu kefanaan manusia, hingga akhirnya pada waktu itu dunia tak mampu menahan nafasmu dan menceganya, dan sifat lupa zikir tak mampu menutup matamu, dan juga nafsu ammarah serta nafsu-nafsu yang kotor tak mampu menipu orang yang dirinya seperdua manusia, sehingga selamat dari bala dan kejahatannya dengan cepat.

Dan sebenarnya mu`min itu sendiri, dengan rahasia-rahasia iman, sifat serah diri, dan tawakkal, dapat mengambil dengan cepat, manfaat dan pelajaran dari derita penyakit yang kronis seperti derita lumpuh, sebagaimana halnya faedah yang ditemukan oleh para mujahidin dari Ahli Wilayah, sehingga pada waktu yang sama penyakit itu mengecil dan mudah dijalani.

Obat ke dua puluh tiga

Wahai penderita sakit yang merasa sunyi lagi merasa asing dan miskin! Jika perasaan asing dan tidak adanya yang memberimu nafkah apalagi dengan derita sakit yang engkau alami, merupakan sebab sehingga hati manusia menoleh padamu dan dengan penuh rasa kasihan, maka bagaiman dengan penglihatan rahmat Sang Penciptamu yang Maha Penyayang yang mempunyai isyarat tajalliyat di alam ini, yaitu Tuhan yang memperlihatkan dirinya di awal setiap surah AL-Qur`an dengan sifat-Nya yang mulia ” Ar-Rahman Ar-Rahim ” yang dengan percikan kilauan dari kialauan-kilauan kasih sayang-Nya yang membuat para ibu-ibu itu dapat mendidik – berkat rasa kasih sayang yang luar biasa – anak-anaknya. Dan Tuhan yang menyinari dunia, dan dengan suatu keindahan di setiap musim bunga dengan munculnya tajalli ma`rifat dari rahmat-Nya, dan diisinya denga berbagai macam ni`mat dan pemberian-Nya, dan juga karena tajalli dari rahmat-Nya sehingga kehidupan yang abadi itu terwujud denga adanya syurga dengan segala bentuk keindahannya. Olehnya itu berintisab atau berafiliasi kepada Allah SWT, melalui iman dan kembali kepada-Nya dengna lisan kelemahan dan ketidak mampuan yang lahir dari derita sakitmu tersebut, dan karena rasa harap dan tadarru` pada-Nya membuat derita sakitmu itu, serta perasaan asing dalam dirimu tersebut, menjadi tujuan dan wasilah yang selalu mendatangkan penglihatan rahmat dari Allah SWT, penglihatan rahmat yang mewakili segala-galanya.

Olehnya itu selama Dia ada dan selalu melihat dan memperhatikanmu maka segala sesuatu juga ada untukmu, dan sebenarnya yang merasa asing dan menyendiri tak diperhatikan adalah orang yang tidak berafiliasi atau berintima kepada Allah SWT melalui iman dan peyerahan diri, atau sebenarnya ia memang tidak mau melakukannya.

Obat ke dua puluh empat

Wahai para medis atau para perawat yang selalu memperhatikan dan menjaga anak-anak yang tak berdosa serta para lanjut usia yang dianggap anak kecil dari segi kelemahan dan ketidak mampuan ! ketahilah sesungguhnya diantara kedua tanganmu terdapat perdagangan ukhrawiah yang sangat penting, olehnya itu laksanakanlah perdagangan tersebut dan semoga keinginanmu sangat besar untuk melakukannya dan usaha yang kau lakukan sangat serius, dan sungguhlah penyakit anak-anak yang tidak berdosa itu adalah suntikan-suntikan tarbiah rabbaniah yang disuntikkan pada diri mereka yang lembut itu agar terbiasa dengan suntikan demi menghadapi tantangan dan perjuangan hidup di masa mendatang, dan itu dianggap suntikan yang berisikan hikmah-hikamah dan faedah-faedah yang kembali pada diri mereka dalam menjalani kehidupan duniawi dan meletakkan pada diri mereka dasar-dasar kehidupan ukhrawi, sehingga kehidupan anak kecil disucikan dengan kesucian ma`nawi seperti halnya disucikannya kehidupan dewasa atau orang tua dengan penghapusan dosa-dosa. Sehingga suntikan-suntikan ini merupakan dasar-dasar kemajuan ma`nawi dan pusatnya terhada anak-anak di masa mendatang atau di akhirat kelak.

Dan pahala yang didapatkan dari penyakit-penyakit tersebut, akan dimasukkan dan dicatat dalam kertas pahala kedua orang tua atau kedalam kertas kebaikan seorang ibu yang mengutamakan kesehatan anaknya – karena rahasia rasa kasih sayang – dari pada kesehatannya sendiri, sebagai mana yang telah tsabit dikalangan Ahli Hakekat.

Adapun penjagaan dan perhatian yang dilakukan untuk orang tua, itu terdapat dalam riwayat-riwayat yang shahih dan didalam kejadian-kejadian bersejarah bahwa perhatian dan penjagaan terhadap orang yang sudah tua – terutama kedua orang tua – dan mendengar panggilan serta membahagiakan hati mereka, dan melaksanakan tugas khidmah untuk mereka dengan penuh kesetiaan dan keikhlasan, kesemuanya itu mengantar kita kepada kebahagiaan dunia dan akherat, dan anak yang shaleh yang berbuat baik pada kedua orang tuanya tersebut akan melihat ketaatan anak-anaknya juga di masa kelak, sementara anak durhaka yang menyakiti kedua orang tuanya akan masuk ke dalam siksaan ukhrawi juga akan mendapatkan di dunia banyak bencana.

Benar, sesungguhnya bukan hanya penjagaan yang dilakukan pada orang-orang terdekat, bahkan jika seorang mu`min menemukan orang tua yang sakit – selama disana ada yang namanya persaudaraan seiman yang hakiki – maka wajib baginya menolong orang tua tadi dengan kemauan yang tinggi serta keikhlasan yang bersih, dan inilah yang dikehendaki oleh islam.

Obat ke dua puluh lima

Wahai saudara-saudaraku yang menderita sakit ! jikalau kalian merasakan perlunya pengobatan suci yang sangat bermanfaat sekali, mengharapkan obat segala penyakit yang berisikan kelezatan hakiki, maka perlihatkan padaku imanmu itu dan pertajamlah, artinya asahlah dengan tubat dan istigfar, shalat dan ibadah, kesemuanya itu merupakan pengobatan suci yang terdapat dalam iman.

Benar, sesungguhnya orang-orang yang lupa zikir karena mereka sangat mencintai dunia seakan mereka telah menjadi orang yang memiliki wujud ma`nawi yang sakit sebesar dunia seisinya, seketika itu pula iman ini datang memberikan pada wujud yang sakit lagi penuh dengan pukulan-pukulan perpisahan dan kefanaan, memberikannya obat atau balsam kesembuhan demi menyelamatkannya dari luka dan derita sakit, dan sungguh telah kami tetapkan di risalah-risalah yang lain bahwa iman itu sendiri selalu memberikan kesembuhan hakiki, dan demi menghidari cerita yang panjang lebar, saya memendekkan kata sebagai berikut :

Sesungguhnya obat iman sangat jelas pengaruhnya dengan melaksanakan dan menunaikan fardhu-fardhu dan dijaganya dengan baik semampu mungkin, dan sungguhlah sifat lupa zikir, kebodohan, hawa nafsu, dan hiburan yang tidak syar`i, akan menghilangkan pengaruh dan reaksi obat tersebut.

Olehnya itu selama derita sakit itu dapat menghilangkan dan membuka hijab, dan memadamkan api syahwat serta menghalangi datangnya hal yang tidak syar`iy maka ambillah faedah darinya, dan gunakan pengobatan iman yang hakiki dan dan cahaya-cahayanya yang suci melalui taubat, istigfar, doa, dan rasa harap, agar Allah tabaraka wa taala memberimu kesembuhan dan menjadikan derita sakitmu itu penghapus-penghapus dosa…Amin..Amin..Amin.

( وَقَالُوْا الحَمْدُ للهِ الََّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَا لِنَهْتَدِيَ لَوْلاَ أنْ هَدَانَا اللهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ ) الأعراف 43 .
Artinya : ” Dan mereka berkata Alhamdulillah segala puji kepada Allah yang telah memberikan petunjuk untuk hal ini, dan kami tidak akan dapat petunjuk melainkan petunjuk Allah, dan sesungguhnya Rasul-rasul kami telah datang dengan kebenaran atau hak “. Al-A`raf 43.

( قَالُوْا سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إنَّكَ أنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ ) البقرة 32 .
Artinya : ” Mereka berkata maha suci engkau ya Allah, kami tak ada ilmu kecuali apa yang Engkau ajarkan, sesungguhnya Kamu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana “. Al-BaQarah 32.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ اْلقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا وَعَافِيَةِ اْلأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا وَنُوْرِ اْلأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Ya Allah, salawat dan salam kepada junjungan nabi Muhammad saw, Tibbil quluub dokter dan obat hati, Aafiyatil abdaan penyehat raga serta kesembuhannya, Nuuril abshar nur penglihatan dan cahayanya . Begitu juga shalawat kepada sekalian keluarganya beserta Sahabat-sahabatnya.

Sekian

BELASUNGKAWA KEPADA SEORANG ANAK KECIL.

(supucuk surat yang dilayankan ustadz Badiuzzaman Said Nursi saat beliau berada di Barla kepada salah satau murid Tullabunnur yang ditimpa musibah atas wafatnya putranya..

Dengan nama Allah SWT

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ
الإسراء : 44.

Artinya: ” Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya”. ( Al-Isra` 44)

بسم الله الرحمن الرحيم

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُون. البقرة 155-156.

Artinya : ” Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (155) yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innâ lillâhi wa Innâ ilaihi râji’ûn ( sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali). (156)”. Al-Baqarah.

Saudaraku !

Kabar wafatnya buah hati saudara, sungguh telah membuat saya tenggelam dalam kesedihan yang memilukan. Namun, takdir sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Maka ketahuilah bahwa ridha atas qadha dan qadar merupakan syiar islam .

Saya selalu memohon kepada Allah SWT agar kiranya ia mencurahkan kepada saudara nikmat kesabaran dan ketabahan yang tangguh, begitu juga supaya menjadikan Almarhum yang berpulang ke pangkuan-Nya sebagai pemberi syafaat di hari kemudian kelak hari kiamat.

Di sini, kami akan memaparkan secara terurai untuk saudara dan orang-orang mu`min yang bertaqwa seperti saudara, lima point mengenai hal-hal yang dapat menebarkan benih-benih kegembiraan dan pelipur lara yang hakiki .

Point pertama

Allah berfirman dalam surah al-Waqi’ah, ayat 17:

وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ

Anak-anak muda yang tetap muda

Makna dan rahasia dari ayat tersebut adalah bahwa anak-anak orang yang beriman yang meninggal “sebelum baligh”, mereka akan menjadi anak-anak penghuni sorga yang kekal selamanya, dicintai sebagai mana layaknya di syorga dan akan menjadi pelipur lara hakiki dan abadi bagi orang tua mereka yang telah masuk sorga. Begitu juga, niscaya mereka akan menjadi tempat yang memastikan buat orang tua untuk merasakan keindahan dan kebahagian memiliki anak yaitu mencintai anak-anak dan bersenda gurau dengan mereka.

Karena memang segala sesuatu yang indah dan menyenangkan dapat ditemukan di dalam sorga. Dengan demikian, tidak benar apa yang dikatakan bahwa: “tidak akan didapati oleh sesiapa pun rasa cinta kepada anak-anak dan senda gurau dengan mreka di sorga, karena memang sorga bukan tempat untuk melahirkan generasi-generasi manusia dan memperbanyak keturunan”. Bahkan justru di sanalah seseorang akan mendapatkan kemenangan yang gemilang dan kepuasaan yang tak berujung hingga jutaan tahun demi untuk mencintai anak-anak dan bersenda gurau dengan mereka dengan penuh rasa kasih sayang dan cinta kasih, tanpa dideru rasa bosan dan jenuh, ( mereka orang tua tetap bersamanya dengan kehangatan yang begitu mesra, yang tiada lain ) sebagai ganti dari kesenagan dan keindahan yang dirasakan saat puluhan tahun yang singkat di dalam kehidupan dunia yang fana ini lagi sarat cobaan dan rintangan.

Point kedua

Konon, dahulu, disuatu hari ada seseorang tahanan yang terpuji prilakunya dan sopan perangainya. Namun di luar kuasanya, anak kandungnya pun menyusul bersamanya meringkuk di belakan terali-terali besi kekuasaan setempat. Sudah barang tentu, kondisi yang demikian membuatnya bersedih tidak karuan. Bagaimana tidak, sang anak yang masih memerlukan kasih sayangnya terpaksa harus merasakan dan mencicipi nasib yang sama dengan sang ayah, yang tidak kuasa untuk mencurahkan rasa aman untuk sang anak yang malang dan melindunginya. Belum lagi nasib sang ayah sendiri yang menanggung beban hukuman saat itu.

Selang beberapa waktu, sang penguasa setempat yang maha bijak Al-Hakim lagi maha penyayang Ar-Rahiim, mengutus seseorang untuk menyampaikan pesan kepada tahanan yang berbudi pekerti tersebut, bahwa:

“anak ini selaku anak kandung anda tiada lain merupakan bagian dari rakyatku dan bangsa negri ini, maka saya akan membawa anak anda untuk diberikan pendidikan yang layak di dalam istana kenegaraan yang megah nan indah”.

Beberapa detik setelah pesan penguasa tersebut disampaikan kepadanya, ia pun langsung tak kuasa menahan kesedihan yang meluap-luap, sambil meneteskan linangan air mata yang kian menganak sungai diiringi tangisan yang terisak-isak, ia berkata memohon kepada utusan tersebut:

” tidak, tidak…..jangan bawa anakku, jangan ambil dia. Aku tidak rela menyerahkannya kepada siapapun, karena dia merupakan tumpuan hidupku satu-satunya”.

Mendengar ucapannya yang jauh dari kesadaran akalnya, teman-teman setahananya yang berada di sekelilingnya saat itu, langsung memandang kearahnya miris diliputi rasa kesal seraya berkata:

“apa yang kau lakukan ini, sungguh tindakan yang bodoh jika kamu benar-benar menangisi kepergiannya dari tempat kumuh ini dan merasa kasihan hanya karena anakmu dibawa ke istana yang megah untuk dididik. Juga hanya karena untuk melampiaskan rasa rindu dan kasih sayangmu, kamu tidak rela melepaskannya untuk diberikan pelayanan yang layak!! Apakah kamu tidak pernah memikirkan kalau seandainya saja ia menetap berlama-lama di sini, niscaya ia akan mengalami dan menanggung penderitaan yang amat memilukan, ditambah lagi kesedihan dan ketidak tenangan yang akan dihadapinya. Hanya karena untuk meraih kesenagan dan melampiaskan kerinduan terhadap sang anak yang malang???

Namun jika engkau berpikir jauh ke depan, apabila anakmu berada tinggal dibawah pengawasan sang penguasa, justru hal itu yang akan menjadi sarana bagimu untuk meraih keuntungan. Kenapa? Karena anakmu sendiri yang akan menarik simpati dan kasih sayang sang penguasa kepadamu dan begitu juga menjadi sarana untuk meringankan penderitaanmu. Dan dapat dipastikan sang penguasa disatu saat nanti akan mendambakan untuk melihatmu bahagia ketika bertemu dengan anakmu sendiri, bukan sebaliknya ia yang ingin dari kamu untuk bersiap-siap menjumpai anakmu, dan ia tidak akan sekali-kali akan mengembalikan anakmu ke penjara lagi. Dan bahkan ia akan memboyongmu keluar dari sel tahanan menuju istana kerajaan untuk menjumpai sang buah hati tercinta, dan tentunya jika engkau adalah sebagai tahanannya yang berbudi pekerti dan patuh terhadap peraturan yang berlaku.

Nah, dari contoh di atas –dahai saudaraku yang mulia–, sudah selayaknya orang mu`min sepertimu yang diterpa musibah atas meninggalnya sang buah hati, untuk merenungkan dalam-dalam sembari berkata dengan lidah hatinya:

“sesungguhnya anak ini belum ternodai oleh dosa, dan tiadalah penciptanya melainkan Sang Maha Penyayang Ar-Rahiim lagi Maha Mulia Al-Kariim, Allah SWT. Maka sebagai ganti dari perhatian didikan dariku yang begitu kurang serta kasih sayang yang tidak banyak membelainya, kasih sayang ilahi telah menorehkan pandangannya dan inayah rabbaniya merangkulnya di bawah dekapan-Nya. Begitu juga telah mengajaknya keluar dari penjara penderitaan dan cobaan duniawi dengan membawanya masuk ke dalam taman surga firdaus yang nan indah” .

Maka beruntunglah kamu sebagai orang tua anak itu!

Siapakah yang tahu apa yang dikerjakan dan diperbuatnya jika ia berada di Dunia ini ? Jadi bagi saya pribadi, tidak ada kesedihan yang begitu memilukan atas kepergiannya, bahkan justru saya melihatnya berbahagia. Sedangkan kesedihan yang menerpaku tidaklah sangat berlebihan jika berkaitan dengan kesenanganku pribadi.

Dan sekiranya ia masih hidup di dunia ini, setidaknya hanya dapat menjamin kesengan dan kebahagian sesaat selama sepuluh tahun yang sudah pasti dihiasi dengan kesusahan dan kepedihan. Dan barang kali ia adalah anak yang shaleh dan berbakti kepada kedua ibu bapa dan memiliki kecakapan dalam urusan duniawi sehingga dapat membantu. Namun karena ajal telah menjemputnya, ia telah memberi jaminan bagiku untuk dapat merasakan cinta kasih dan belaian kasih sayang terhadap anak-anak jutaan tahun di dalam sorga kelak. Dan disamping itu juga, ia termasuk yang dapat memberikan syafaat untuk dapat menggapai kebahagiaan abadi. Dengan demikian, saya pribadi tidaklah teramat merasa sedih atas kepergiannya walaupun hal ini terjadi pada diriku. Karena barang siapa yang sirna darinya kebahagiaan sesaat dan sarat dengan kesedihan dan kesengsaraan, dan yang meraup untuk yang besar dari kebahagiaan yang tinggi nilainya dan abadi, niscaya sekali-kali tidak akan merasa bersedih hati. Begitu juga ia sama sekali tidak akan meratapi kepergiannya dengan putus asa.

Point ketiga

Sesungguhnya anak kecil yang meninggal tiada lain merupakan dari makhluk ciptaan Allah Sang Pencipta Al-Khalik yang Maha penyayang Ar-Rahiim, dan juga hambanya. Begitu juga segala bentuk wujud dalan dirinya adalah salah satu dari produk-produk buatan Allah, dan menjadi amanah dan titipan dari Allah bagi orang tua untuk memberikan perlindungan dan didikan yang sudah seharusnya. Dan Allah SWT telah menjadikan kedua orang tua selaku pelayan setia yang diamanahkan bagi anaknya, yang dianugrahkan kelebihan dalam hal kasih sayang yang begitu lembut dan akan dikarunai pahala yang setimpal berkat pelayanan yang mereka persembahkan bagi si anak.

Dan sesungguhnya Pencipta jagat raya ini, Yang Maha Pengasih Al-Khalik lagi Maha Penyayang Ar-Rahiim, merupakan pemilik hakiki anak tersebut –yang memiliki jumlah bagian kepemilikan saham terhadap anak tersebut sebesar 999 sedangkan kedua ibu bapanya hanya memiliki 1 bagian yang bukan sesungguhnya dari 1000 bagian yang ada-. Dengan kasih sayangnya dan sejumlah hikmah yang tersirat dari kepergian sang anak, Allah SWT mengambilnya untuk kembali ke pangkuaannya dari sisi orang tuanya. Jadi, sudah tidak dibenarkan atas orang yang beriman untuk meratapi kepergian anaknya dengan tangisan yang berlebihan serta menyesali dan mengeluh kepada Allah SWT, pemilik saham sebesar 1000 bagian. Karena hal tersebut adalah merupakan tindakan dan perbuatan orang-orang yang sesat dan lalai.

Poin keempat

Seandainya Dunia ini abadi tidak berakhir keberadaannya, begitu juga bila manusia kekal tanpa harus mengalami kepedihan sakratul maut. Atau jika perpisahan tetap menjadi fenomena kehidupan, maka kesedihan yang mendalam dan kepedihan yang memilukan niscaya menyisakan makna tersendiri.

Namun, selama Dunia ini merupakan ruang tamu, kemanapun anak yang meninggal tersebut pergi, begitu juga kita semua – kamu sekalian dan juga saya – akan pasti beranjak pergi meninggalkan dunia fana ini.

Kemudian, sesungguhnya ajal yang telah menjemput anak tersbut tidak akan hanya ditugaskan merenggut nyawanya saja, akan tetapi kita juga termasuk dari mangsa incarannya bak sebuah jalan yang mau tidak mau akan kita jalani dan lewati di suatu saat nanti.

Ketika dunia bersifat binasa yang tidak akan sekali-kali kekal, bahkan lebih dari itu disatu hari nanti akan diselenggarakan sebuah pertemuan di dua tempat, Barzakh dan sorga. Maka sudah selayaknya kita berkata:

” Alhamdulillah, ketetapan berada di tangan Allah SWT. Karena sesungguhnya Ia yang memberi dan mengambil kembali pemberiannya. Maka dengan penuh kesabaran dan ketegaran serta mengharapkan pahala dari-Nya kita harus mengucapkan: ” Alhamdu lillâhi rabb al’âlamîn” (segala puji bagi Allah atas segala sesuatunya)”.

Poin kelima

Kelembutan kasih sayang yang sejatinya selaku tampilan wujud kasih sayang ilahi yang terindah serta terlembut adalah merupakan eliksir cahaya, dan sangat jauh lebih berpengaruh dari nilai cinta yang teramat dalam Al-Isyq. Dan juga adalah sebagai sarana yang tercepat untuk dapat sampai ke sisi Allah SWT.

Benar, seperti halnya dengan cinta kiasan majazi dan cinta duniawi yang menggebu-gebu – dengan berbagai rintangan dan tantangan – dapat menjelma menjadi cinta hakiki yang teramat mendalam, maka orang yang hanyut di bawah kedalam lautan cinta hakiki tersebut akan dapat menatap kehadiran Allah SWT. Begitu juga halnya dengan belaian kasih sayang –tanpa mengalami ragam rintangan dan tantangan – yang mengikat dan merekatkan hati dengan Allah SWT untuk menghantarkan siapa saja yang dibuai olehnya ke sisi Allah SWT dengan cara dan jalan yang singkat lagi cepat.

Selaku orang tua, baik ayah maupun ibu, tentunya teramat mencintai anak mereka dengan seisi dunia ini seluruhnya. Dan saat sang anak dipanggil untuk menghadap penciptanya dari belaian kedua orang tuanya, maka mereka – jika keduanya bahagia dengan takdir ilahi, maka mereka termasuk orang yang beriman – akan memalingkan diri dari dunia ini dan membelakanginya dengan pundaknya, sehingga mereka saat itu juga menemui kehadiran Sang pemberi nikmat hakiki seraya berkata: ” selama dunia ini binasa dan fana, maka ia (dunia) tidak berhak untuk dijadikan tempat menggantungkan segala-gala dambaan hati ini kepadanya”. Yang akhirnya ia merasakan apa yang telah dilalui anaknya sebagai tali hubungan yang erat, dan suasana rohani yang begitu tentram dan nyaman.

Sesungguhnya orang yang lalai dan sesat sekali-kali tidak akan mampu mencicipi keindahan lima hakikat ini beserta nilai-nilai kemanusiaannya di lima poin yang telah diuraikan di atas. Jadi, selanjutnya, anda sekalian bisa mengukur sejauh mana kesedihan dan kepedihan yang menyelimuti mereka disaat menyaksikan kondisi anak satu-satunya yang teramat dan sangat dicintainya dengan penuh kasih berubah menjadi tidak karuan saat mengalami sakratul maut, hingga pikirannya membawanya untuk tidur di antara serakan gundukan tanah pekuburan dari atas permadani yang empuk dan nyaman. Ini semua tiada lain disebabkan oleh pandangannya bahwa kematian itu adalah suatu kehilangan dan perpisahan untuk selamanya. Dan juga, akibat kesesatan dan kelalaiannya, yang tidak pernah terbesit dalam hatinya akan kasih sayang Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sorga-Nya serta nikmat-nikmat-Nya yang abadi. Dengan demikian, anda juga dapat mengukur sampai sejauh mana kepedihan dan kesedihan yang dilalui dan dialami oleh orang-orang yang lalai dan sesat tanpa menaruh secercah harapan di depan mata mereka.

Mengingat iman dan islam – yang mana merupakan sarana untuk meraih kebahagian dunia dan akhirat – berkata kepada orang-orang yang beriman:

“sesungguhnya anak yang mengalami kondisi sakratul maut, ia akan dituntun masuk oleh penciptanya Yang Maha Penyayang ke dalam sorga-Nya setelah keluar dari dunia kotor ini yang sarat dengan noda kejahatan dan kedzaliman. Dan lebih dari itu ia akan menjadi pemberi syafaat bagimu di akhirat kelak, dan sebagaimana juga Ia akan menjadi sosok anak yang kekal dan abadi selamanya buatmu. Maka janganlah kamu bersedih dan kecewa, karena sesungguhnya perpisahan adalah sementara. Akan tetapi tetaplah bersabar dan tabah seraya berkata: ” Ketetapan hanya di tangan Allah SWT ”

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُون . البقرة 156.
Artinya: ” sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya kami kembali”. Al-Baqarah ayat 156.
اَلْبَاقِى هُوَ الْبَاقِى
Yang kekal tetaplah akan kekal selamanya (Allah SWT).

Said Nursi r.a.

Sejenak bersama dengan sosok pelopor para penderita sakit

Nabiyullah Ayyub a.s.

بسم الله الرحمن الرحيم

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِين. الأنيباء 83.

Artinya : ” Dan ingalah kisah Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(YaTuhanku) sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan engkau adalahTuhan Ynag Maha Penyayang di antara semua penyayang”. Al-Anbiya` 83.

Doa munajat yang indah inilah yang telah dipanjatkan oleh Pelopor para penderita sakit yang sabar dalam deritanya, sayyiduna nabi Ayyub AS, adalah ( doa munajat ) yang mujarrab , dan sangat efektif, maka sudah selayaknya bagi kita untuk mengutip dari nur ayat suci ini ( sebagai doa ) seranya kita berkatata dalam bermunajat :

ربي أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِين

Artinya : ” Ya tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”.

Dan kisah nabi Ayyub A.S kita sebutkan secara ringkas sebagai berikut:

Dalam rentang waktu yang sangat panjang, nabi Ayyub A.S tetap sabar dan tegar dalam menghadapi luar biasanya penyakit kronis ( yang sedang menjangkitinya ), hingga luka-luka borok dengan nanah yang berbau busuk menggeroti habis seluruh tubuh beliau A.S. walau demikian belia tetap sabar sembari mengharap pahala dari Allah yang maha tinggi Al-Aliy lagi Maha kuasa Al-Kadiir, dan di saat ulat-ulat mulai berbondong-bondong menduduki daerah jantung dan lidahnya yang mana keduanya adalah sarana untuk berzikir kepada Allah dan sarana ma`rifat-Nya, ( disaat itulah ) ia bertadarru` ( mendekatkan diri ) kepada Tuhannya yang Maha Mulia Al-Kariim, Allah SWT, dengan munajat doa yang indah :

أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِين

Artinya : ” Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan engkau adalah Tuhan yang Maha penyayang di antara semua penyayang” .

Itu dilakukan karena khawatir jikalau ibadahnya terganggu, dan sama sekali beliau berdoa bukan untuk meminta ketenangan, akhirnya pada saat itu juga Allah Al-Aliy Al-Qadir yang Maha tinggi lagi Maha kuasa menerima munajat suci yang bagus itu dengan bentuk istijabah yang luar biasa, dan Allah SWT mengankat musibahnya dan sekaligus menganugrahkannya kesehatan yang sempurna dan Allah telah memberinya keindahan-keindahan rahmatnya yang sangat luas itu.

Dalam Lum’ah ini terdapat lima perkara yang sangat tinggi nilainya :

Poin pertama

Sesugguhnya melalui ragam penyakit zhahir yang diderita oleh nabi Ayyub A.S, dalam diri kita juga terdapat wabah penyakit-penyakit batin, rohani, dan hati, dan kita semua telah terjangkit olehnya, dan seandainya saja keadaan kita dibalik, yang batiniah menjadi lahiriah, dan yang lahiriah menjadi batiniah, tentu kita nampak penuh dengan luka-luka yang sangat parah, dan akan nampak dalam diri kita berbagai macam penyakit yang lebih banyak lagi dari derita luka yang dialami nabi Ayyub A.S, hanya karena dosa serta kejahatan yang dilakukan oleh tangan-tangan kotor kita ini, begitu juga perkara-perkara syubhat yang menyerang pikiran-pikiran kita, merupakan penyebab yang menimbulkan luka-luka dalam dan menganga di hati kita dan pemicu atas merambahnya luka-luka yang memborok di setiap jiwa kita.

Kemudian, karena sesungguhnya penyakit dhahir yang menjalar di tubuh beliau A.S hanya mengancam keselamatan hidupnya yang singkat di dunia yang fana ini. Adapun peyakit-penyakit hati yang kita derita sekarang, dengan getolnya mengancam keselamatan hidup kita nanti di akhirat kelak yang tiada berujung dan batas waktu. Dengan demikian, kita teramat sangat membutuhkan rangkaian doa yang yang dipanjatkan nabi Ayyub A.S, dari kebutuhan beliau sendiri terhadap doa tersebut khususnya karena ulat-ulat yang datang dari luka-luka borok yang diderita beliau A.S, menobrak masuk untuk mencaplok wilayah hati dan lidah beliau A.S. Sedangkan keragu-raguan dan kecemasan – na’ûdzubil lâh – yang timbul dari luka-luka kita yang disebabkan oleh dosa dan kejahatan yang kita perbuat, merampas isi hati kita yang mana ia adalah daerah kekuasaan iman dan memporak-porandakannya. Begitu juga, ia menyerang lidah manusia selaku penerjemah iman manusia dan memberangus habis keindahan dan kenikmtan berzikir serta masih dan terus akan mengalahkannya hingga lidah tersebut terdiam seribu bahasa selama-lamanya dari zikir kepada allah SWT.

Benar, bahwa dosa dan kejahatan menerobos telah masuk ke dalam hati serta meluaskan daerah-daerah kekuasaannya di seluruh penjuru. Dan dengan terus menerus ia berusaha untuk menodai hati kita hingga ia dapat mengusir cahaya keimanan keluar dari hati. Maka dengan demikian ia akan tetap mengeras dan gelapan dari sinar iman.

Seseungguhnya, setiap dosa dan kejahatan memiliki jalan dan cara menuju kekufuran, dan jika hal itu tidak dicegah dengan segera dengan bertaubat, maka akan secara akan berubah menjelma menjadi pasukan ulat-ulat maknawi, bahkan menjadi ular ma`nawi yang siap menggigit dan menyakiti hati.

Untuk penjelasannya lebih lanjut, dapat disimak di bawah ini:

Contoh (pertama): Siapa saja yang melakukan kejelakan apa saja secara diam-diam, niscaya ia merasa sangat malu atas jika hal itu diketahui orang lain, dan merasa berat atas keberadaan malaikat dan makhluk ghaib lainnya, dan tentunya ia pasti ingin mengingkari wujud para malaikat dan makhluk ghaib hanya dengan suatu tanda ( atau hujjah ) yang tidak jelas.

Contoh (kedua): Sesungguhnya siapa saja yang berbuat dosa besar yang berakibat masuk neraka jahannam – dan jika ia tidak memohon ampunan dari Allah – maka selama ia mendengar kabar peringatan tentang kondisi neraka jahannam beserta kejadian-kejadian dahsyat yang bakal terjadi disana, saat itu ia berkeinginan dari dalam hati agar keberadaan jahannam ditiadakan. Dan dengan demikian, akan timbullah keberanian dalam dirinya untuk mengingkari wujud neraka jahannam hanya dengan tanda dan syubhat yang sederhana dan biasa-biasa saja.

Contoh (ketiga): Bagi yang tidak menunaikan kewajiban-kewajiban dengan secara sempurna – ia pasti merasa cemas dan gelisah atas celaan ringan yang Allah semprotkan ke mukanya karena tidak melaksanakan kewajiban yang sederhana pula –, dan rasa malasnya untuk melaksankan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan Allah SWT secara berulang-ulang, niscaya akan lebih membuat jiwanya tidak tenang dan menciptakan kegundahan yang tiada berkesudahan. Sehingga kegoncangan jiwa yang melandanya akan membuatnya berani mengatakan: ” ohhh, kiranya Ia SWT tidak memerintahkan untuk melaksanakan kewajiban beribadah”. Keinginan yang seperti ini akan memicu timbulnya sifat ingkar yang bernuansa kebencian tehadap sifat ketuhanan Allah SWT. Maka jika syubhat dan keragu-raguan yang sepele ini terhadap keberadaaan Allah SWT masuk ke dalam hati, niscaya ia cenderung meyakini syubhat tersebut. Yang seakan-akan syubhat tersebut merupakan bukti yang akurat, sehingga terbuka di depannya lebar-lebar pintu menuju kerugian yang teramat besar dan kehancuran. Akan tetapi orang yang sengsara ini tidak sadar bahwa ia telah menjadikan dirinya sendiri sebagai mangsa bagi kegoncangan jiwa yang sedang melandanya, yang lebih hina dan keji dari sebagian kesusahan dan kegoncangan jiwa karena rasa malasnya untuk melaksanakan ibadah. Tak ubahanya seperti orang berusaha menghindar dari sengatan nyamuk namun terkena gigitan ular.!!

Lewat contoh di atas, dapat dipahami rahasia ayat:

كَلاّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ( المطففين 14).
Artinya : ” Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka” . ( Al-Muthaffifin 14 ).

Poin kedua:

Seperti yang telah dijelaskan di “kalimat enam belas’’, yang khusus membahas masalah qadr: sesungguhnya manusia tidak berhak untuk mengadu kepada Allah SWT atas musibah dan cobaan yang menimpanya dengan tiga factor:

Factor pertama:

Pada dasarnya Allah SWT menjadikan segala apa yang dimanfaatkan dan dipergunakan manusia dari isi bumi ini adalah merpakan bukti nyata atas ciptaannya yang begitu memukau nan indah. Yang mana Allah SWT menciptakan segalanya dalam sebuah gambaran “contoh” dengan mernguraikan secara terperinci sumber daya alam raya ini dan membuat perubahan-perubahan di dalamya yang menyatakan bahwa segalanya perbuatannya tersebut merupakan bentuk wujud keberadaan Asmâul Husnah-Nya yang beragam. Contohnya, seperti nama-Nya “Al-Syâfî” (maha pemberi rezeki) menuntut adanya sakit, begitu juga “Al-Râziq”, yang mau tidak mau menuntut keberadaan sifat lapar. Dan begitulah Allah SWT, Yang Penguasa segala sesuatunya, berbuat apa saja yang dikehendakinya.

Factor kedua:

Sesungguhnya kehidupan tidak terlepas dari rintangan dan musibah. Dan kehidupan tersebut akan menjadi bersih dan suci jika dinodai dengan ragam cobaan dan musibah itu sendiri. Dengan demikian kehidupan yang dijalani ini kian utuh, mulia, bermanfaat serta sempurna dengan meraih segala tujuan yang dituju. Sedangkan kehidupan yang hanya penuh dengan kemewahan, yang jauh dari rintangan dan tantangan, keberadaannya bak tak berwujud apapun., kehidupan yang demikian akan menghantarkan seseorang ketiadaan (kehidupan yang tidak berwujud).

Faktor ketiga:

Sebagimana telah dikemukakan berungkali di atas, bahwa kehidupan dunia tiada lain adalah arena laga untuk menghadapi corak rintangan dan tangtangan berat maupun ringan. Juga sebuah tempat dimana setiap insan mempersiapkan bekal untuk perjalanan panjang yang tak berujung dengan amal perbuatan yang saleh. Bukan sebaliknya, tempat bersenang-senang dan untuk menuai kebahagian semu dan fana.

Dan yang harus diingat dan dihujamkan dalam hati ini, bahwa selama hidup ini adalah moment untuk menabung amal saleh dan ketulusan beribadah, maka yang namanya cobaan, musibah serta ujian – selain yang berkaitan dengan agama dan disyaratkan untuk bersabar dalam menghadapinya – adalah perkara yang tidak dapat dipisahkan dengan amal saleh dan ketulusan beribadah, dan salaing melengkapi di antara keduanya. Juga, corak rintangan dan tantangan tersebut memberikan motivasi untuk beamal saleh serta mendukung sekali untuk bergiat dalam beribadah kepada Allah. Karenya, tidak dibenarkan dalam agama islam untuk mengadu kepada Allah atas musibah yang menimpanya. Bahkan, diwajibkan baginya untuk selalu bersyukur kepada Allah dengan atas musibah yang menerpanya. Kenapa..? Karena malapetaka dan cobaan yang merundungnya dapat merubah setiap satu jam dari kehidupannya menjadi nilai ibadah dalam sehari semalam.

Ibadah pada dasarnya terbagi kepada dua bagian. Yang pertama adalah yang berkaitan dengan anggota tubuh kita. Sedang yang kedua sangat erat hubungannya dengan hati. Untuk bagian yang pertama, sudah dapat dipastikan, bahwa bagi kita ummat islam telah banyak mengetahuinya. Adapun bagian kedua, musibah, cobaan, ragam penyakit yang diderita merupakan perkara yang dapat menjadikan korbannya merasakan dan sadar akan kelemahan serta kekurangan yang ada pada dirinya. Nah, dengan demikia, mau tidak mau ia harus mencari perlindungan yang tiada lain hanya milik Allah SWT, Yang Maha Perkasa. Yang mana akhirnya, menuntunnya untuk menghadap kepada Allah dengan penuh rendah diri atas kelemahnnya yang serba kurang. Dan juga mendorongnya untuk mau menunaikan ibadah kepada-Nya dengan tulus dan ikhlas, yang bersih dari debu-debu riya.

Ditambah lagi jika cobaan yang menimpanya dihiasi dengan kesabaran dan ketabahan, pikiran-pikiran positive akan besarnya pahala musibah tersebut yang akan diterimanya kelak di akhirat serta diiringin dengan rasa syukurnya kepada Yang Maha Luas nikmatnya, Allah SWT, niscaya musibah tersebut menjlema setiap jam dari umurnya menjadi nilai ibadah sehari penuh, sehingga hitungan umurnya yang begitu pendek berubah menjadi sangat panjang. Bahkan lebih dari itu, setiap detik yang dilaluinya saat dirundung cobaan menjadi nilai ibadah yang ditunaikan dalam sehari penuh. Saya pribadi, sungguh teramat sedih sekali dengan kodisi kronis salah satu dari saudara-saudara saya saat diserang penyakit berbahaya. Saat itu juga, terbesit dalam benak hati saya: ” sampaikan kepadanya kabar gembira, bahwa setiap detik-detik umurnya yang berlalu bak sehari yang hanya diisi dengan ibadah-ibadah kepada Allah SWT”. Walhasil, iapun mempersabahkan rasa syukurnya kepada Allah yang tercermin dalam kesabaran dan ketabahan yang utuh dalam menghadapi musibah tersebut.

Poin ketiga

Sebagaimana juga telah diulas secara panjang lebar di “kalimât”, bahwa:

Apabila seseorang memikirkan segala yang belalu dalam hidupnya, maka akan terbesit dalam hatinya dan akan terlontar darim dalam mulutnya kata-kata: “ohh, alangkah ruginya….” Atau “segala puji bagi allah. Artinya, seseorang yang berpikir akan masa lalunya, sudah barang tentu akan merasa sedih dan kesal atas segala sesuatu yan berlalu dengan ucapan: Wah aduh..!, atau ucapan Al-Hamdulillah ( artinya ) ia memuji tuhannya, Allah, dan bersyukur kepada-Nya. Bagi yang meyisakan rasa sedih dan merugi, tidak lain disebabkan oleh kesedihan dan kepedihan rohani/batin, yang timbul dari sirnanya kesenangan dan kebahagian yang lampau, karena pada dasarnya sirnanya kenikmatan adalah sebuah kesedihan dan kepedihan. Bahkan ironisnya, kenikmatan semu dan sesaat, kadangkala mengakibatkan kesedihan dan yang mendalam dan tak berujung. Jadi, mengenangnya akan bikin siapa saja yang melauinya, jadi sedih dan kesal. Lain halnya dengan kesenangan rohani yang abadi, yang bersumber dari sirnanya kesedihan sementara yang dilalui seseorang dahulu kala, tidak bisa dipungkiri dapat mendorong seseorang untuk melatih lidahnya selalu berdzkir menyerukan pujia-pujian dan syukur kepada allah SWT. Karena memang inilah kondisi fitrah setiap manusia.

Seorang yang dirundung musibah, bila telah memikirkan – sebagai tambahan atas ini semua – apa yang ditabung Allah untuknya berupa pahala dan pembalasan yang setimpal di akhirat kelak, dan merenungi pendek umurnya yang sarat dengan musibah, berubah menjadi umur yang sangat panjang, maka niscaya ia tidak akan sabar atas musibah yang dideritanya. Bahkan ia termasuk orang yang telah sampai ke derejat syukur kepada Allah swt dan rela/pasrah atas ketentuan qadar-Nya, sehingga lisannya pun fasih mengucapkan pujia-pujian syukur kepada Allah: ” Segala puji bagi Allah atas segala sesuatunya selain kekufuran dan kesesatan”. Dan sudah merupakan kata umum : ” Alangkah panjangnya waktu musibah ini”. Inilah pribahasa yang beredar secara meluas di tengah-tengah manusia. Namun yang harus diingat, bahwa maknanya tidak seperti yang dipahami mereka dan tidak sesuai dengan aggapan yang mengklaim akan saratnya waktu musibah yang panjang tersebut dengan berbagai kepedihan dan kesusahan. Akan tetapi sebaliknya, yang mana panjangnya masa musibah ibaratnya seperti umur yang panjang, yang dapat menghasilkan dan mempersembahkan makna hidup yang lebih berguna.

Poin keempat

Telah diutarakan dengan jelas di tingkatan pertama dari kalimat ke dua puluh satu. :

Bahwa jika manusia itu sendiri tidak menyia-nyiakan apa yang telah dianugrahkan Allah kepadanya berupa kesabaran yang utuh, dan juga tidak menyalahgunakannya dalam hal-hal yang bersifat khayalan dan kecemasan yang tidak bermakana, maka satu hal yang harus di ketahui adalah bahwa kekuatan sifat sabar yang utuh, cukup menahan segala bentuk hantaman musibah dan bencana. Namun karena pengaruh dahsyat kebimbangan dan kegalauan , begitu juga momok kalalian yang selalu memantu awas serta terperdayanya diri dengan kesenangan duniawi yang seakan-akan sifatnya kekal selama-lamanya, sungguh dapat memporak-porandakan kekuatan sifat sabar dan merobek-robek keutuhan sifat itu terbagi untuk derita masa lampau dan untuk ketakutan masa mendatang, sehingga ia senantiasa tidak merasa cukup akan kesabaran yang ada pada dirinya untuk mehadapi berbagai bentuk cobaan dan musibah yang sedang menderunya. Sampai-sampai ia pun mulai mengeluh akan nasibnya kepada sesamanya, seraya menjelaskan kepada mereka bahwa kesabaran yang dimilikinya tidak seberapa, sedikit dan tidak berarti apa-apa. Yang hanya dapat diibaratkan seperti menderita penyakit gila. Disamping itu, ia juga tidak dibenarkan selama-lamanya untuk merasa bersedih dan meyesalinya. Kenapa sampai demikian…? Karena setiap hari dari hari-hari lalunya yang dihiasi oleh berbagai musibah, tentunya telah sirna kesusahan dan kesulitannya dan ia pun telah meninggalkan kedamaiannya, juga sudah lewat masa kesengsaraan dan kemelaratannya dan ia juga telah membiarkan keindahnnya, serta kesedihan dan kesempitan tersebut sudah pergi jauh menjauhinya dengan meninggalkan nilai pahala yang setimpal. Jadi, tentunya ia tidak dibenarkan mengadu dan menyesali nasibnya tersebut, justru ia seharusnya bersyukur kepada Allah SWT dengan rasa rindu yang mendalam dan menggebu-gebu.

Demikian pula, ia tidak dibenarkan untuk memarahi dan memurkai musibah yang merundungnya, akan tetapi dianjurkan untuk menghiasinya dengan jalinan cinta yang erat. Karena memang umur manusia yang dilaluinya dengan berbagai bentuk musibah akan berubah menjadi umur yang sarat dengan kedamaian dan kebahagian dan berkekalan, jadi merupakan kebodohan, bila seseorang menyalahgunakan sebagian dari sifat sabarnya utnuk hal-hal yang bersifat khayalan dan kebimbangan yang berlebihan serta memikirkan musibah dan kepedihannya yang telah berlalu.

Sedangkan untuk hari depan, karena ia belum datang dan masih tidak jelas, maka juga termasuk hal bodoh dan dungu jika seseorang saat sekarang memikirkannya dan merasa galau dan risau akan musibah dan bencana yang hanya mungkin datang menghampirinya ( inipun belum terjadi ). Dan juga suatu kebodohan jika ada orang yang makan banyak roti dan minum banyak air untuk menghindari dari rasa lapar dan haus di esok harinya dan seterusnya, itu hanya dikarenakan mengkhawatirkan kemungkinan lapar dan haus yang akan menimpanya besok atau pada hari berikutnya. Demikian halnya rasa sakit, sedih dan bosan yang dilakukan dari sekarang karena memikirkan kemungkinan penyakit dan musibah di masa mendatang, yang sama sekali sekarang belum terjadi serta menampakkan rasa sedih dan takut akan kehadirannya tanpa ada bukti dan gejala yang mendesak dan tidak didorong oleh kondisi yang gawat, merupaka tindakan yang teramat tolol, yang pada dasarnya telah merenggut rasa belas kasih dan cinta kasih dari diri orang itu sendiri bahkan justru ia berlaku zhalim pada diri sendiri.

Intinya adalah bahwa rasa syukur dapat menambah kenikmatan itu sendiri, sedangkan keluhan atas musibah malah akan merampas belaian kasih sayang dari diri seseorang.

Konon, seorang lelaki saleh yang menetap di salah satu kota “Ardhûm” karena diserang penyakit ganas dan kondisinya sangat kronis. Tepatnya, setahun setelah berkobarnya api perang dunia pertama. Setelah mendengar kabar bahwa ia diserang penyakit, langsung saja saya bergegas menuju ke kediamannya guna untuk menjenguknya, setelah sampai di sana, ia langsung mengadu kepadaku dan mengeluh akan nasibnya: ” wahai saudaraku, sejak seratus hari yang lalu aku sama sekali belum merasakan lelapnya tidur, dan juga tidak dapat menaruh kepala ini di atas bantal yang disediakan semenjak seratus malam pula”. Tuturnya sedih dan mengeluh kepadaku.!

Setelah mendengarkan keluhannya, tak dapat dibendung kesedihan dan kepedihan menghiasi hatiku ini. Dan saat itu pula, aku langsung teringat sembari berkata kepadanya: “wahai saudaraku, sesungguhnya seratus hari lampau yang telah berlalu, adalah ibarat seratus hari yang menyenangkan kamu sekarang. Jangan sekali-kali kamu terbuai memikirkannya dan menyisakan keragu-raguan, akan tetapi cobalah tataplah ia dari sisi ketidak beradaannya sekarang, yang telah sirna dan pergi di makan masa dan justru bersyukurlah kepada-Nya. Sedangkan untuk masa mendatang yang belum menampakkan batang hidungnya sama sekali, maka tawakkallah kamu kepada rahmat Tuhanmu Allah SWT yang Maha pemurah lagi Maha penyayang sekaligus tenanglah, dan jangan malah menagis sebelum dipukul, dan jangan juga merasa takut akan sesuatu yang belum ada, dan jangan sekali-kali mengatakan yang tiada adalah ada. Dan usahakan untuk memfokuskan fikiran anda semata-mata khusus untuk saat-saat ini saja, sembari merenungkan bahwa apa yang kamu miliki berupa kesabaran adalah cukup untuk tegar dan tabah di saat ini juga. Dan jangan sama sekali meniru dan mengikuti jejak seorang pemimpin yang dungu, yang menceraiberaikan kekuatannya di titik pusat tak tentu arah di saat sayap kiri pasukan musuh masuk bergabung ke barisan sayap kanan pasukannya dan dibantunya, dan juga disaat sayap kanan pasukan musuh belum siap siaga untuk terjun ke medan perang. Maka setelah musuh mengetahui kondisi kekuatan lawannya kacau balau, tanpa pikir panjang pihak musuh melakukan penyerangan pada titik pusat dengan memakai sedikit kekuatan, yang hingga akhirnya pihak musuh dapat mematahkan dan mengalahkannya”.

Maka oleh karena itu saudaraku, janganlah engkau mengikuti jejaknya, akan tetapi untuk saat-saat ini engkau harus menghimpun segala kekuatan yang dimiliki, dan nantikan secara awas akan kasih sayang Allah yang tak berujung, dan berharaplah akan pahala akhirat, serta pikirkanlah perubahan – karena sakit – yang akan terjadi terhadap umurmu yang singkat dan fana menjadi umur yang panjang dan kekal. Yang pada akhirnya, kamu harus banyak bersyukur kepada Allah SWT, Yang Maha Kuasa dan Agung, sebagai ganti dari keluhan yang tidak berarti ini.

Dengan izin Allah, lelaki tersebut pun langsung merasakan kedamaian dan ketenangan setelah mendengarkan perkataan ini dan secara spontan menuntunnya menyerukan puji-pujian kepada Allah SWT: “segala puji bagi Allah..sungguh telah banyak berkurang penderitaan dan kepedihakun ini”.

Poin kelima

Point ini terdiri dari tiga masalah yang butuh penjelasan yang terurai di bawah ini:

Masalah pertama

Sesungguhnya musibah dan bencana yang hakiki dan dianggap sangat berbahaya adalah yang merundung agama. Dan tidak jalan keluar melainkan hanya berlindung kepada Allah Yang Maha Kuasa, serta tunduk berserah diri kepada-Nya tanpa henti. Adapun musibah dan bencana yang sama sekali tidak mengancam agama, pada hakikatnya ia bukanlah musibah, karena sebagian musibah itu sendiri merupakan peringatan ilahi, Allah berikan seorang hamba hanya untuk menyadarkannya akan kelailaiannya. Yang ibaratnya seperti peringatan seorang penggembala terhadap kambing-kambing gembalaannya saat keluar dari tempat penggembalaan yang ada dengan melemparnya dengan bebatuan. Dan kambing-kambing gembalaan tersebut dengan sendirinya, dapat sadar bahwa peggembalanya memberikan sebuah peringatan dengan lemparan batu dan menghalanginya dari perkara yang berbahaya, akhirnya kambing tersebut kembali masuk ke daerah penggembalaannya denga ridha dan tuma`ninah. Begitu juga halnya dengan musibah, sesungguhnya sebagian besar dari musibah itu sendiri adalah peringatan ilahi dan teguran rahmani untuk manusia.

Untuk sebagian yang lain dari musibah tersebut adalah untuk mensucikan dan membersihkan dosa-dosa. Selanjutnya, dari bagian musibah itu juga adalah anugrah ilahi dan penebar ketenangan hati dan kedamaian, yaitu dengan cara membuang sifat lalai zikir yang selalu menghampirinya, serta memberikan kesadaraan akan dirinya atas kelemahan dan kekurangannya yang bersemayam dalam pembawaan fitrahnya.

Berbicara musibah yang diderita oleh manusia saat sakit – sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya – yang sudah dapat dipastikan bahwa ia bukanlah musibah yang sesungguhnya, akan tetapi ianya belaian kasih sayang rabbani, karena memang ia merupaka pensucian dan pembersihan dosa-dosa manusia, dan menyuci bersih daki-daki kejahatan. Sebagaimana yang telah diriwatkan dalam satu hadis sahih, yang maknanya sebagai berikut: ” tidaklah seorang muslim dirundung musibah dan penyakit melainkan Allah menghapus dosa-dosanya sebagaimana dedaunan pohon yang gugur”.

Demikianlah, sesungguhnya Nabi Ayyub A.S sama sekali tidak menyerukan munajatnya hanya karena dirinya dan untuk bersenang ria, namun itu dilakukan hanya semata-mata untuk menghilangkan mara bahaya yang dapat mengganggu aktivitas ibadah beliau kepada Allah SWT, yaitu saat derita sakit akan menghalangi lidah berzikir, dan menganggu hati untuk tafakkur atas kerajaan malakut Allah SWT. Maka dari itu, beliau memohon kesembuhan demi melaksanakan tugas-tugas ubudiah yang utuh semata karena Allah saja.

Dan sudah seharusnya bagi kita, disela-sela munajat yang kita serukan kepadanya, untuk beniat mengharapkan kesembuhan atas luka-luka rohani kita dan penyakit-penyakit batin yang akan datang yang ditimbulkan dari perbuatan dosa. Dan kembali berlindung kepada-Nya di saat penyakit-penyakit cinta dunia menghalangi dan menghambat proses aktivitas ibadah kita kepada-Nya dengan sesempurna mungkin. Dengan demikian kita pun saat itu berserah diri kepada-Nya seraya tunduk dengan penuh kehinaan dan kelemahan yang tiada berbatas, dan meminta pertolongan dari-Nya tanpa harus mengeluh dan memprotes. Karena selama kita ridha akan sifat ketuhanannya (Rububiyyah) yang menyeluruh, maka selama itu pula kita harus ridha dan merima mutlak apa yang diberikan-Nya kepada kita berupa qadha dan qadar-Nya.

Adapun keluhan yang bernuansa bantahan atas qadha dan qadarnya, dan juga tindakan yang menampakkan rasa sedih dan kesal adalah tiada lain merupakan upaya kritik atas ketentuan ilahi yang adil dan sebagai tindakan tuntutan dan tuduhan atas kasih sayang-Nya yang nan luas. Karena barang siapa yang mengkritik qadar dan ketetapan-Nya niscaya akan merasa sengasara dan melarat. Dan begitu juga bagi siapa saja yang menuntut dan menuduh yang bukan-bukan akan kasih sayang-Nya sudah pasti ia tidak akan pernah mencicipi rasanya kasih sayang Allah SWT. Tentunya orang yang berusaha untuk membalas dendam dengan mengandalkan tangannya yang patah, sudah pasti kondisi tanggannya menjadi makin parah dan kronis. Dan dapat dipahami bahwa orang yang mengekpresikan musibah dan bencana yang menderunya dengan rasa kesal, keluhan, sedih dan bahkan bantahan, mau tidak mau akan mengakibatkan besar dan banyaknya bala dan musibah yang akan terus merundungnya.

Masalah kedua

Setiap musibah cinta dunia dan materi jika di anggap besar dan heboh, maka akan menjadi perkara yang besar dan dahsyat. Begitu juga sebaliknya, jika engkau menganggapnya hal kecil dan sepele, maka ianyapun mengecil.

Contohnya saja: Selama manusia memperhatikan apa yang tampak dan terbesit dalam lamunan dan khayalannya di malam hari, tentunya akan membuat hal itu sendiri menjadi suatu yang heboh dan membuat dirinya sendiri penasaran. Lain halnya jika ia tidak menghiraukannya, yang sudah dapat dipastikan akan lenyap dari peikirannya dan menjadikannya satu hal tak berarti. Begitu juga, jika seseorang mengganggu dan mengusik sarang tawon, sudah barang tentu ia akan diserang habis-habisan . Namun apabila dibiarkab begitu saja, tentunya tidak akan membahayakannya.

Dan hal ini tidak ada bedanya dengan musibah cinta duniawi dan harta benda, selama manusia menganggapnya satu hal yang besar dan memberikan perhatian kepadanya, niscaya ia akan menyusup masuk dan tembus ke dalam hati hingga bertengger di atas gundukan gagingnya. Dan pada saat itu pula lahirlah satu musibah rohani yang tumbuh besar di dalam hati, sehingga menjadi tumpuan bagi segala sesuatu yang berbau cinta materi dan harta benda dan berkepanjangan. Akan tetapi jika manusia itu sendiri jika memusnahkan rasa sedih dan kebimbangan dari akarnya dengan sikap ridha dan qadha Allah, ( yaitu pasrah dan puas akan ketetapan ilahi ) dan tawakkal kepada-Nya , maka musibah cinta materi dan materi tersebut akan sirna dan lenyap secara berangsur-angsur. Yang tak obahnya seperti pohon yang gugur dan mengeringnya dedaunannya karena mati dan putusnya akar pohon tersebut. Di bawah ini, akan dipaparkan untaian-untaian kata dari hakikat ini sebagai berikut:

Karena keluhan datanglah bencana
Duhai orang miskin, jauhi dan tawakkallah!
Jika engkau arahkan munajatmu pada Tuhan Sang pemberi, pasti engkau dapat.
Maka semuanya akan berwujud pemberian.
Dan semuanya adalah kesucian.
Olehnya, tanpa Allah: maka duniamu hanya kerisauan dan ketakutan!
Apakah engkau mengeluhkan biji pasir yang kecil kepada Zat yang diatas pundaknya Dia pikul semua gunung?
Sunggulah keluhan itu hanya sebagai bencana di atas bencana.
Dosa di atas dosa dan derita!
Jika engkau tersenyum di hadapan musibah..
Niscaya ia akan layu dan larut..
Di bawah mentari kebenaran, menjadi butiran-butiran es.
Saat itulah duniamu tersenyum..
Senyuman yang menyiratkan keyakinan..
Senyuman gembira karena pancaran keyakinan..
Senyuman kagum karena rahasia-rahasia keyakinan..

Benar, sepertihalnya manusia mampu mengurangi tensi kemarahan dan kekerasan musuhnya dengan menyambutnya dengan wajah ceriah dan senyuman, justru akan melenturkan kekerasan permusuhan dan memadamkan api perselisihan. Bahkan lebih dari itu, ia akan merubahnya menjadi sebuah tali persahabatan dan perdamaian. Hal ini juga berlaku saat menghadapi musibah dengan bertawakkal kepada-Nya, maka dampak musibah itu sendiri akan pergi.

Masalah ketiga :

Setiap zaman tentu memiliki aturan dan ketentuan khusus. Dan musibah itu sendiri telah merubah penampilannya di masa kelalaian sekaran ini. sehingga kadang kala, bagi sebagian orang bala tersebut tidak dianggap bala. Akan tetapi ia adalah anugrah ilahi dan belas kasih dari-Nya. Karena saya pribadi melihat orang-orang yang diterpa musibah dan bala saat sekaran ini, beruntung dan bahagia – dengan syarat tidak mengancam agamanya – sehingga saya pahami bahwa derita sakit dan balal itu tidak mengkibatkan mudarat yang dapat membuatku membencinya, dan tidak menimbulkan kesedihan dan kepedihan..sebab:

(Sebagai contoh, pengalaman) saya pribadi yang tidak pernah didatangi oleh seorang pemuda yang menderita penyakit melainkan pemuda itu memiliki komitmen yang lebih kepada agamanya dari pemuda lain, dan lebih banyak mencintai akherat dari mereka. Dari sini, aku pahami bahwa penyakit bagi mereka bukanlah sebuah bala, bahkan ia merupakan salah satu nikmat dari lautan nikmat-Nya yang tak bertepi. Karena pada dasarnya, penyakit itu sendirilah yang mengulurkan banyak faedah dari sisi kehidupan akhirat, dan ia merupakan ibadah baginya. walaupun kehidupan dunianya yang fana selalu diselingi dengan suatu bentuk kesengsaraa.

Ya, terkadang pemuda jika sembuh, tidak mampu untuk tetap istiqamah menjalankan perintah-perintah ilahi seperti halnya saat sakit, bahkan bisa jadi terbawa pada tindakan-tindakan bodoh karena terbawa kelalaian dan hawa nafsu anak muda dan kesesatan zaman.

Penutup

Sesungguhnya Allah telah menyisipkan kelemahan tak terbatas ke dalam diri manusia, dan kefakiran yang tak berujung, demi menunjukkan kekuasan-Nya yang mutlak, dan rahmat-Nya yang sangat luas. dan Allah SWT telah menciptakan manusia dalam suatu bentuk dan penampilan, dimana ia dapat merasa sakit dengan berbagai macam sebab yang tak dapat dihitung, sepertihal ia merasaka kelezatan dengan berbagai macam hal yang tak terbilang, Yang pasti, bahwa ini semua merupakan pertunjukan makna ukiran-ukiran Asmaul Husnâ Allah SWT.

Dan juga Allah telah ciptakan manusia dalam model mesin canggih, yang mengandung ratusan perangkat-perangkat khusus. Yang masing-masing memiliki kepedihan, kelezatan, tugas, pahala, dan imbalan, hingga asmaul husna yang nampak di alam raya, yang diistilahkan sebagai manusia besar, seakan memiliki isyarat-isyarat tajalli ( jelmaan-jelmaan asmaul husna ) secara umum di dalam diri manusia yang distilahkan sebagai alam kecil. Dan sebagaimana juga dalam diri manusia terdapat hal-hal yang bermanfaat – seperti kesehatan, keselamatan, kenikmatan dll – yang dapat mendorongnya untuk bersyukur, dan membuat mesin canggih tersebut (manusia) melaksanakan berbagai tugas dari berbagi macam sisi, sehingga manusia nampak seperti sebuah alat syukur.

Nah begitu juga halnya dalam berbagai musibah, penyakit, derita dan segala sesuatu yang berpengaruh dan merangsan, yang kesemuanya akan menuntun perangkat-perangkat mesin tersebut untuk beroperasi dan mengusiknya dari tidurnya. Yang akhirnya meledakkan mutiara kelemahan dan ketidak berdayaan serta kefakiran yang bersembunyi di dalam hakekat kemanusiaan, sehingga segala musibah dan cobaan bukan hanya membawa manusia untuk meminta perlindungan kepada Allah Sang pencipta, dengan satu lisan, justru ia membuatnya untuk meminta perlindungan kepada-Nya dengan lisan yang ada di setiap organ tubuhnya.

Dan seakan manusia berkat musibah, penyakit, tantangan dan halanga itu, sebuah pena yang berisi ribuan pena, sehingga ia dapat menuliskan nasib dan takdir hidupnya di dalam lembaran hidupnya atau dalam lauh misali (papan tulis seperti lahil mahfuz), dan membentuk lebaran indah dari Asmaul Husna, sehingga tampak seperti untaian nanyian yang merdu ( kasidah ) dan lembararan pengumuman yang sedang mendengdangkan lagu yang berlirik makna nikmat-nikmat Allah SWT. Dengan demikian iapun telah melaksanakan tugas fitrahnya.

Surat Buat Seorang Dokter

( surat ini dikirim oleh Ustadz Badiuzzaman Said Nursi kepada seorang dokter yang teramat merindukan Rasailunnur, karena di dalam dirinya terdapat kesadran ruhiah yang dipicu oleh giatnya menelaah Rasâil Al-Nûr)

Selamat wahai teman karibku, dan hai dokter yang bahagia yang dapat mengdiagnosa penyakitnya. Kesadaran rohani yang saudara ungkapakan dalam surat khusus saudara, sungguh layak untuk dihargai dan diberkati.

Wahai saudaraku! Ketahuilah sesungguhnya kehidupan tidak lain merupakan sesuatu yang paling berharga di alam nyata ini. Dan yang melayani kehidupan itu adalah kewajiban yang menempati peringkat dari nominasi kewajiban-kewajiban lainnya. Dan usaha yang dilakukan untuk membuat kehidupan fana ini menjadi kehidupan abadi adalah tugas hidup yang paling besar nilainya.

Dan ketahuilah, maksud dari inti nilai kehidupan ini adalah statusnya selaku embrio dan cikal untuk kehidupan yang berkekalan, sehingga gambaran yang menyalahi hal tersebut, artinya perhatian dan ilmu yang terpokus hanya ke dunia fana, adalah suatu tindakan kerusakan yang hebat yang merusak kehidupan abadi, dan hal tersebut tiada lain merupakan tindakan gila dan bodoh seperti orang yang ingin menggantikan kilatan yang berkelebat dengan sinar matahari yang berkekalan.

Para tim ahli medis yang lalai akan akhirat kelak, dan yang terlena dengan kehidupan materi, mereka – dalam pandangan hakekat – adalah manusia yang paling banyak menderit sakit, namun jika mereka sekalian sempat mendapatkan obat iman yang diperoleh dari apotek Al-Qur`an Al-Muqaddas, sekaligus dapat mengambil beberapa tegukan obat penawar racun, maka niscaya mereka tidak saja mengobati luka-luka kemanusiaan mereka, dan juga tidak hanya mengobati derita mereka saja, bahkan lebih dari itu, mereka merupan unsur-unsur penyebab dari sembuhnya penyakit yang diderita seluruh manusia.

Kita memohon kepada Allah agar kesadaran rohani yang membakar jiwa saudara dapat menjadi balsam penyembuh luka-luka saudara sendiri, dan juga sebagai contoh yang hidup dan suri teladan yang ideal bagi para ahli media lainnya dan obat bagi mereka.

Dan sangat jelas bagi kamu nilai penting yang terdapat dalam usaha dan upaya yang dilakukan untuk menghibur dan menerangi hati pasien yang putus asa, dengan secercah harapan untuk sembuh, dan terkadang usaha tersebut sangat efektif dan lebih berguna bagi pasien dari pada ribuan obat dan pengobatan. Namun sesungguhnya dokter yang hanyut bergelimangan harta benda dan yang memegang faham kekuatan alam, justru hanya selalu memberikan perasaan putus asa dalam diri mereka ( para pasien ) hingga menajadikan segala bentuk kehidupan di hadapan pasien suatu kegelapan yang mengerikan.

Akan tetapi kesadaran rohani tersebut, akan membuatmu – dengan izin Allah – sebagai tumpuan hiburan dan tempat berhibur bagi mereka dan yang lainnya. Dan menjadikanmu sebagai dokter yang sebenarnya, yang dapat memancarkan sinar cahaya ke dalam hati dan menebarkan kegembiraan dan kebahagian dalam jiwa.

Sudah maklum bahwa umur manusia sangatlah pendek, sedangkan tugas dan pekerjaan sangat banyak sekali. Dengan demikian, kewajiban dan tugas lebih banyak dari waktu yang tersedia. Dan jika saudara berusaha mencari dan menyadap berbagi informasi yang ada di dalam otakmu, seperti yang telah saya pribadi lakukan, sudah barang tentu anda akan mendapatkan informasi dan pengetahuan yang tak bermanfaat dan tak memberi faedah yang diibaratkan seperti sisa-sisa kayu bakar. Saya pribadi telah melakukannya, dan pada akhirnya saya temui berbagai macam hal yang tak berarti.

Yah, Sudah menjadi keharusan untuk mencri obat dan wasilah untuk merubah informasi-informasi ilmiah dan pengetahuan-pengetahuan filsafat tersebut menjadi berguna dan berarti, bercahaya lagi menerangi, dan hidup lagi berkembang, yang dapat memberi dan menngisi.

Duhai saudaraku hendaklah juga engkau mendekatkan diri dan berdoa pada Tuhan yang Maha bijak ( Al-Hakim ) lagi Maha mulia ( Al-Jalil ), agar menganugrahkan kepadamu kesadaran rohani yang dapat membersihkan dan menjernihkan cara berpikirmu demi ( menemukan rahmat dan ridha ) Allah SWT, dan dapat menyalakan kobaran api di tumpukan kayu api tersebut, sehingga ilmu-ilmu pengetahuan yang tidak berguna itu dapat bersinar dan berubah wujud menjadi ilmu-ilmu pengetahuan ilahiah yang tinggi nilainya dan berharga.

Temanku yang cerdas :

Sesungguhnya hati ini sangat mendambakan agar orang-orang yang termasuk para ilmuan dan ahli syauk yang rindu akan cahaya-cahaya iman dan rahasia-rahasia Qur`an, langsung terjun ke lapangan ( khidmah iman dan Qur`an ) seperti “Khalûshî”.

Dan tatkala ” Zozler ” ( Kalimat ) dapat berbicara dengan perasaanmu, maka hal itu jangan hanya anggap sebagai sepucuk surat khusus teruntuk saudara, namun cobalah anggap setiap kata dari kata-kata ” Kalimat ” tersebut sebagai sepucuk surat yang ditujukan kepada saudara dari seorang da`I yang mengajak dan menyeru untuk mendalami Al-Qur`an Al-Karîm. Begitu juga, jadikanlah Al-Qur`an sebagai resep medis yang bersumber dari apotik Al-Qur`an Al-Hakîm. Dan akhirnya, saudara sendiri dapat membangun sebuah majlis yang besar dan mulia, dan sebuah pertemuan yang penuh berkah.

Demikianlah, dan saudara sendiri kapan saja boleh menulis surat buat saya, akan tetapi saya mengharapkan agar tidak merasa kecewa jika surat saudara tidak bisa dibalas, karena melihat kebiasaan saya dari dulu yang tidak mampu melayangkan balasan dari setiap surat kecuali hanya sedikit saja. Sampai-sapai saya juga belum pernah menulis surat buat saudara kandung sendiri – sejak tiga tahun – melainkan satu jawaban surat saja meskipun ia telah banyak menulis surat untukku.

Said Nursi.

Daftar isi

Peringatan dan permohonan maaf…………………………………………
Obat pertama: penyakit dapat memberikan keuntungan yang besar………
Obat kedua: penyakit merubah detik-detik umur ibadah yang berjam-jam. Obat ketiga: penyakit adalah pemberi nasihat……………………………..
Obat keempat: penyakit memperkenalkan padamu Asmaulhusna…………
Obat kelima: penyakit merupakan anugrah ilahi…………………………..
Obat keenam: setiap keadaan pasti berlalu, maka renungilah pahalanya….
Obat keenam: penyakit mengingatkan kefanaanmu di dunia………………
Obat ketujuh: penyakit membuatmu merasakan kelezatan nikmat………..
Obat kedelapan: penyakit dapat menghapus dosa……………………….
Obat kesembilan: pada dasarnya mati itu tidak menakutkan……………..
Obat kesepuluh: memikirkan pahala dapat menghilangkan rasa risau…….
Obat kesebelas: penyakit dapat memberikan kamu kelezatan ma`nawi…..
Obat keduabelas: penyakit dapat membangkitkan jiwa-jiwa berdoa………
Obat ketigabelas: prestasi yang dipersembahkan penyakit……………….
Obat keempatbelas: hakekat nuraniah ma`nawiah………………………..
Obat kelimabelas: manusia yang paling berat cobaannya………………..

Obat keenambelas: penyakit menyelamatkan penderitanya dari sikap tidak peduli………………………………………………………………..
Obat ketujuhbelas: menjaga dan menjenguk orang sakit merupakan sunnah nabi SAW. ………………………………………………………..
Obat kedelapanbelas: lihatlahlah orang yang lebih berat cobaannya………
Obat kesembilanbelas: penyakit dapat mensucikan hidup dan memperlihatkan Asmaulhusna…………………………………………….
Obat keduapuluh: obat penyakit hakiki dan khayalan……………………..
Obat keduapuluh satu: kelezatan ma`nawi yang mengelilingi si penderita..
Obat keduaouluh dua: kenapa penyakit lumpuh dianggap membawa berkah. ……………………………………………………………………
Obat keduapuluh tiga: tatapan rahmat ilahia kepada orang sakit………….
Obat keduapuluh empat: penyakit yang diderita anak-anak dan mengasuh para lanjut usia…………………………………………………………….
Obat keduapuluh lima: pengobatan suci ………………………………….
Belasungkawa atas wafatnya seorang anak………………………………..
Sejenak bersama pelopor para penderita penyakit…………………………
Poin pertama: di setiap dosa terdapat jalan menuju kekufuran…………
Poin kedua: siapa yang berhak mengeluh atas cobaan…………………
Poin ketiga: sirnanya kepedihan adalah suatu kelezatan………………….
Poin keempat: jangan sekali-kali menyerai-beraikan kekuatan kesabaranmu……………………………………………………………
Poin kelima:…………………………………………………………….
Masalah pertama: musibah yang tidak mengancam agama seseorang bukanlah musibah………………………………………………………
Masalah kedua: menghebohkan musibah dengan cara membesar-besarkannya…………………………………………………………….
Masalah ketiga: bala adalah anugrah ilahi di zaman sekaran……………………………………………………………………………….
Penutup………………………………………………………………..
Sepucuk surat buat seorang dokter ……………………………………

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s