MAKNA DAN TEORI TENTANG MAKNA (Tugas)

By: Saidna Zulfikar bin Tahir. Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting bagi manusia. Sebagai suatu unsur yang dinamik, bahasa senantiasa dianalisis dan dikaji dengan menggunakan berbagai pendekatan, diantaranya yaitu pendekatan makana. Semantic merupakan salah satu cabang ilmu bahasa yang membahas tentang makna. Mansur Pateda (2001:79) mengemukakan bahwa istilah ”makna” merupakan kata-kata dan istilah yang membingungkan.

PENGERTIAN MAKNA

Dalam kamus linguistic, pengertian makna dijabarkan menjadi:

1. Maksud pembicara;

2. Pengaruh penerapan bahasa dalam pemakaian persepsi atau perilaku manusia atau kelompok;

3. Cara menggunakan symbol atau lambing;

Sifat, definisi, elemen, dan jenis Makna telah dibahas oleh Aristoteles, Agustinus, dan Aquinas yang dikenal dengan AAA framework. Menurut mereka, Makna adalah hubungan antara dua hal; tanda-tanda dan hal-hal yang dimaksud (keinginan, ungkapan atau penandaan). Dengan kata lain, tanda didefinisikan sebagai suatu entitas yang menunjukkan atas entitas lain untuk beberapa tujuan.

Menurut Ullman (dalam Abdul Chaer, 2001:282) mengemukakan bahwa makna adalah hubungan antara makna dengan pengertian. Ferdinand de Saussure (1994:286) mengungkapkan bahwa makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada suatu tanda linguistic. Aminuddin (1998:50) mengemukakan bahwa makna merupakan hubungan antara bahasa dengan bahasa luar yang disepakati bersama oleh pemakai bahasa sehingga dapat saling mengerti.

ASPEK-ASPEK MAKNA

Aspek-aspek makana dalam semantic menurut Mansoer Pateda ada empat hal, yaitu:

  1. Pengertian (sense) atau tema. Pengertian ini dapat dicapai apabila pembicara dengan lawan bicara mempunyai kesamaan bahasa yang digunakan atau disepakati bersama.
  2. Nilai rasa (feeling), hal ini berkaitan dengan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan. Setiap kata mempunyai makna yang berhubungan dengan nilai rasa dan setiap kata mempunyai hubungan dengan perasaan.
  3. Nada (tone) adalah sikap pembicara terhadap lawan bicara, artinya hubungan antara pembicara dengan pendengar akan menentukan sikap yang tercermin dalam kata-kata yang digunakan.
  4. Maksud (intention) yaitu maksud yang diinginkan baik senang atau tidak senang atau bersifat deklarasi, imperative, persuasi, pedagogis, rekreasi atau politik.

KONSEP MAKNA

  • Aristotles menyatakan bahawa unit terkecil yang bermakna atau the smallest significant unit of speech ialah perkataan.
  • Dalam linguistik sekarang, unit tata bahasa terkecil yang bermakna adalah morfem.
  • Menurut Ullmann (1962:55), ada dua aliran pemikiran tentang konsep makna: aliran Anatikal/Referensial dan aliran Operasional/Kontekstual.

Pengertian makna secara Anatikal

  • Menurut de Saussure (1959:67),bahasa terdiri dari bunyi atau penanda (signifiant) dan makna atau petanda (signifie).
  • Penanda adalah bayangan akustik, misalnya urutan bunyi m+e+j+a. Petanda adalah gambaran atau makna yang melambangkan bunyi meja.
  • Olehnya itu, kata atau lambang linguistik adalah bayangan akustik atau bunyi + gambaran atau makna.
  • Ogden dan Richards (1949:11)   juga menerangkan tentang makna dengan membaginya menjadi tiga komponen.
  • Ullmann (1962:57) telah mempermudah teori segi tiga semiotik dengan melihat makna sebagai hubungan resiprokal antara nama dengan pengertian.
  • Pada hakikatnya, satu nama boleh mempunyai lebih dari satu pengertian dan juga sebaliknya.

Pengertian Makna secara Operasional

  • Stuart Chase (1938:7) menerangkan makna secara ‘operasional’, iaitu The true meaning of word is to be found by observing what the man does with it, not what he says about it.
  • Wittgenstein (1953) menegaskan bahawa makna perkataan adalah penggunaan perkataan dalam bahasa (the meaning of word is its use in the language).

TEORI-TEORI TENTANG MAKNA

  1. Teori Imej Makna

Menurut teori ini makna diterangkan berdasarkan imej yang terbayang dalam akal penutur atau pendengar. Dalam pengaplikasiannya, teori ini menghadapi beberapa masalah:

  • Bentuk imej yang terbayang pada penutur dan pendengar.
  • Satu ungkapan mempunyai lebih dari satu imej.
  • Satu imej mempunyai lebih dari satu ungkapan.
  • Imej bergantung kepada pengalaman.
  1. Teori Analisa Komponen

Teori ini pada awalnya digunakan oleh ahli antropologi dalam menentukan istilah hubungan kekeluargaan. Teori ini diaplikasikan dalam linguistik untuk menjelaskan makna perkataan. Menurut teori ini, makna perkataan dianalisis bukan secara satu unit, tetapi dalam hubungan komponen yang kompleks. Komponen tersebut dinamakan sebagai komponen semantik yang terdiri dari perbendaharaan kata suatu bahasa. Dalam pengaplikasiannya, teori ini juga menghadapi masalah:

  • Komponen semantik untuk sesuatu perkataan mempunyai makna tersendiri dan perlu diuraikan.
  • Uraian makna dalam teori ini tertumpu pada perkataan dan tidak pada tanda.
  • Makna yang tepat sulit diperoleh kerana terikat dengan ciri hiponim.
  1. Idea Theory of Meaning

Teori ini disandarkan pada Locke, Berceley, dan Hume. Mereka berpendapat bahwa istilah “ide” digunakan untuk mengacu kepada representasi mental atau aktivitas mental secara umum. Setiap ide selalu dipahami tentang sesuatu yang eksternal dan internal, nyata atau imajiner. John Locke menganggap semua ide sebagai sensasi objek yang bisa dibayangkan atau refleksi objek yang tidak dapat dibayangkan. David Hume berpendapat bahwa pikiran adalah jenis entitas yang dibayangkan. Hume juga berpendapat bahwa setiap kata-kata yang tidak dapat mengungkapkan pengalaman masa lalu adalah tidak berarti.

  1. Truth- Conditional Theory

Teori ini mendefinisikan Makna sebagai kondisi dimana suatu ekspresi itu mungkin saja benar atau juga salah. Teori ini dipelopori oleh Frege dan beberapa filusuf seperti Alfred Tarski dan Donald Davidson. Dalam makalahnya (Uber Sinn und Bedeutung), Gottlob Frege berpendapat bahwa nama yang ada setidaknya memerlukan dua masalah dalam menjelaskan maknanya.

1.Misalkan arti dari sebuah nama dalam hal ini misalnya Sam, yang berarti seseorang di muka bumi ini yang bernama Sam, namun jika objek dari nama itu tidak ada yaitu Pegasus, maka menurut teori ini bahwa nama itu tidak berarti.

2. Misalkan dua nama yang berbeda merujuk pada object yang sama. Hesperus dan Phosphorus adala nama yang diberikan kepada benda-benda angkasa yang berbeda, kemudian menunjukkan bahwa keduanya adalah sama (planet Venus). Jika kedua kata itu berarti sama maka tidak akan menghasilkan kalimat yang berbeda dari makna aslinya. Dengan kata lain, dua nama untuk orang yang sama akan memiliki pengertian yang berbeda.

e.  Referensi Teori Makna

Teori ini dikenal juga secar kolektif sebagai Eksternalism semantic, berpendapat bahwa makna setara dengan hal-hal di dunia yang benar-benar berhubungan dengan tanda-tanda. Ada dua sub sepsis dari eksternalism yaitu social dan lingkungan. Yang pertama sangat erat hubungannya dengan Tyler Burge dan yang kedua dengan Hilary Putnam dan Kripkeand Saul.

  1. Verificationist Theories of meaning

Sebuah kelompok positivis logis di awal abad 20 (berhubungan dengan Russel dan Frege), menerapkan teori Verificationist Makna. Teori ini (setidaknya dalam bentuknya) menyatakan bahwa untuk mengatakan suatu ekspresi itu bermakna dengan melihat beberapa kondisi pengalaman yang ada untuk menunjukkan bahwa ungkapan itu benar.

Macam-macam dan jenis Makna

1. Makna Emotif

Makna emotif menurut Sipley (dalam Mansoer Pateda, 2001:101) adalah makna yang timbul akibat adanya reaksi pembicara atau sikap pembicara mengenai atau terhadap sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan. Dicontohkan dengan kata kerbau dalam kalimat Engkau kerbau., kata itu tentunya menimbulkan perasaan tidak enak bagi pendengar. Dengan kata lain,kata kerbau tadi mengandung makna emosi. Kata kerbau dihubungkan dengan sikap atau poerilaku malas, lamban, dan dianggapsebagai penghinaan. Orang yang dituju atau pendengarnya tentunya akan merasa tersimggung atau merasa tidak nyaman. Bagi orang yang mendengarkan hal tersebut sebagai sesuatu yang ditujukan kepadanya tentunya akan menimbulkan rasa ingin melawan. Dengan demikian, makna emotif adalah makna dalam suatu kata atau kalimat yang dapat menimbulkan pendengarnya emosi dan hal ini jelas berhubungan dengan perasaan. Makna emotif dalam bahasa indonesia cenderung mengacu kepada hal-hal atau makna yang positif dan biasa muncul sebagai akibat dari perubahan tata nilai masyarakat terdapat suatu perubahan nilai.

2. Makna Konotatif

Makna konotatif berbeda dengan makna emotif karena makna konotatif cenderung bersifat negatif, sedangkan makna emotif adalah makna yang bersifat positif (Fathimah Djajasudarma, 1999:9). Makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi perasaan kita terhadap apa yang diucapkan atau didengar. Misalnya, pada kalimat Anita menjadi bunga desa. Kata nunga dalam kalimat tersebut bukan berarti sebagai bunga di taman melainkan menjadi idola di desanya sebagai akibat kondisi fisiknya atau kecantikannya. Kata bunga yang ditambahkan dengan salah satu unsur psikologis fisik atau sosial yang dapat dihubungkan dengan kedudukan yang khusus dalam masyarakat, dapat menumbuhkan makna negatif.

3. Makna Kognitif

Makna kognitif adalah makna yang ditunjukkan oleh acuannya, makna unsur bahasa yang sangat dekat hubungannya dengan dunia luar bahasa, objek atau gagasan, dan dapat dijelaskan berdasarkan analisis komponenya (Mansoer Pateda, 2001:109). Kata pohon bermakna tumbuhan yang memiliki batang dan daun denga bentuk yang tinggi besar dan kokoh. Inilah yang dimaksud dengan makna kognitif karena lebih banyak dengan maksud pikiran.

4. Makna Referensial

Referen menurut Palmer ( dalam Mansoer Pateda, 2001: 125) adalah hubungan antara unsur-unsur linguistik berupa kata-kata, kalimat-kalimat dan dunia pengalaman nonlinguistik. Referen atau acuan dapat diartikan berupa benda, peristiwa, proses atau kenyataan. Referen adalah sesuatu yangditunjuk oleh suatu lambang. Makna referensial mengisyaratkan tentang makna yamg langsung menunjuk pada sesuatu, baik benda, gejala, kenyataan, peristiwa maupun proses.

Makna referensial menurut uraian di atas dapat diartikan sebagai makna yang langsung berhubungan dengan acuan yang ditunjuk oleh kata atau ujaran. Dapat juga dikatakan bahwa makna referensial merupakan makna unsur bahasa yanga dekat hubungannya dengan dunia luar bahasa, baik berupa objek konkret atau gagasan yang dapat dijelaskan melalui analisis komponen.

5. Makna Piktorikal

Makna piktorikal menurut Shipley (dalam Mansoer Pateda, 2001:122) adalah makna yamg muncul akibat bayangan pendengar ataupembaca terhadap kata yang didengar atau dibaca. Makna piktorikal menghadapkan manusia dengan kenyataan terhadap perasaan yang timbul karena pemahaman tentang makna kata yang diujarkan atau ditulis, misalnya kata kakus, pendengar atau pembaca akan terbayang hal yang berhubungan dengan hal-hal yang berhubungan dengan kakus, seperti kondisi yang berbau, kotoran, rasa jijik, bahkan timbul rasa mual karenanya.

PENUTUP

Makna adalah suatu bentuk kebahasaan yang harus dianalisis dalam batas-batas unsur-unsur penting situasi di mana penutur mengujarnya. makna merupakan hubungan antara bahsa dengan bahasa luar yang disepakati bersama oleh pemakai bahsa sehingga dapat saling dimengerti. Batasan tentang pengertian makna sangat sulit ditentukan karena setiap pemakai bahasa memiliki kemampuan dan cara pandang yang berbeda dalam memaknai sebuah ujaran atau kata.

Aspek-aspek makna dalam semantik menurut Mansoer Pateda ada empat hal, yaitu :

1. Pengertian (sense)

2. Nilai rasa (feeling)

3. Nada (tone)

4. Maksud (intention)

Keempat aspek makna di atas memiliki keterkaitan dengan jenis makna yang ada dalam semantik.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Chaer. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Abdul Wahab. 1995. Teori Semantik. Surabaya: Airlangga University Press.

Aminuddin. 1988. Semantik. Bandung: Sinar Baru.

Harimurti Kridalaksana. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Mansoer Pateda. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s