MESIR, OBAT AWET MUDA

Saidna Zulfiqar Bin Tahir. “Semakin lama Anda tinggal di Mesir, semakin tampak awet muda pada wajah Anda”. Percaya atau tidak, itulah hasil observasi sementara dan comparasi 12 tahun kemudian antara mahasiswa Indonesia yang lama tinggal di Mesir (sering rasib) dan yang cepat menyelesaikan studi (4 tahun) kemudian pulang ke tanah air. Sayangnya, hasil observasi ini bukanlah satu-satunya instrument yang akurat yang dapat menyimpulkan phenomena secara general dan valid. Paling tidak, hasil ini dapat menawarkan sebuah hypothesis baru untuk diuji secara quantitative oleh peneliti berikut yang tertarik mengkajinya.

Penyebab keawetmudaan para mahasiswa yang lama bermukim di Mesir mungkin disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:

  1. Suhu di musim dingin yang mencapai 8°cc bahkan sampai 3°cc memaksa para mahasiswa untuk tetap bertahan dan betah di dalam selimut. Sebaliknya, suhu di musim panas yang mencapai 43°cc bahkan lebih yang memaksa mereka untuk tetap bernaung di apartmen masing-masing dan enggan untuk menghirup udara luar.
  2. System perkuliahan di Universitas Al-Azhar yang kurang mementingkan kehadiran siswa, sehingga mereka bebas untuk hadir ataupun alpa dari perkuliahan. Berbeda halnya dengan sistem yang ada di Indonesia yang mana absensi siswa dijadikan sebagai nilai plus dalam kelulusan.
  3. Kebiasaan dan kondisi yang ada di Mesir, dimana toko-toko, mall, restaurant dan pusat perbelanjaan dibuka setelah jam 12 siang, atau dapat dikatakan bahwa aktivitas masyarakatnya lebih ramai pada malam hari dibanding siang bolong.
  4. Begadang menjadi suatu kebiasaan, sehingga bangun di pagi hari adalah penyebab suntuk bahkan stress, karena bingung mau ke mana apabila tidak ada urusan.

Masih banyak lagi faktor yang mendukung terbolak-baliknya pola kehidupan mahasiswa di Mesir yang awalnya sebagai shock adaptation berubah menjadi enjoyment yang dapat menurunkan gejala stress. Hal ini jika dikaitkan dengan pendapat Till Roenneberg seorang professor di Institut Psikologi Kedokteran Universitas München yang meneliti tentang jam biologis atau jam internal sebagai reaksi proses evolusi terhadap pergantian dari malam ke siang hari yang terprogram dalam gen dan mengatur kapan kita bangun dan kapan kita tidur. Dan setiap orang memiliki jam biologis tersendiri yang berbeda satu sama lain.

Jika hidup melawan jam biologis, misalnya karena setiap harinya bangun jam enam pagi karena wekernya berdering, maka badan akan mengalami stress. Para pakar seperti Till Roenneberg menyebut gejala tersebut “social jetlag“. yang disebabkan oleh hormon kortisol yang merupakan salah satu hormon stres. Kadar hormon ini semakin meninggi ketika kita dalam keadaan stres. Dengan kadar hormon yang meninggi kita lebih mudah berbuat salah, sulit berkonsentrasi dan daya ingat kita kurang baik. Hormon ini oleh pakar kesehatan dijadikan tolak ukur untuk tingkat/derajat stres seseorang. Sehingga akan terlihat sedikit benarnya melalaui raut wajah mahasiswa Indonesia-Cairo,  meskipun umurnya tua, namun wajahnya tampak muda disebabkan berkurangnya tekanan hormon kortisol pemicu stress dari pola hidup yang enjoyable dan begadang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s