TAULADAN RASULULLAH SAW YANG DI-TAU-LADANGI

Saidna Zulfiqar Bin Tahir. Secara pribadi, dalam menyikapi masalah yang menghangatkan rimba persilatan media di tanah air akhir-akhir ini, sejak tudingan penistaan Al-Quran oleh Gubernur DKI hingga terjadinya demonstrasi 4 November 2016 merupakan premature action yang mengabaikan beberapa aspek agamis dan fungsi aparatur. Mengingat kasus ini sementara diproses oleh pihak berwajib maka percayakanlah masalah itu kepada mereka (tidak perlu mengimpotensikan fungsi mereka).  Di lain pihak, saya berharap para Ustadz/Ulama/Kiyai sebagai panutan yang dapat menenangkan, menyejukkan, dan memotivasi ummat justru malah mengeruhkan suasana dan ada pula yang diam menonton.

Terkadang suatu perbuatan yang dinilai ibadah senantiasa ditaklidkan pada Sunnah Rasul yang ada dalam Al-Quran sebagai keperibadian Rasul sebagaimana ungkapan Aisyah ra. Namun terkadang pula Sunnah itu terabaikan dan ditauladangkan di ladang tanpa irigasi. Padahal jika kita kembali menapak sejarah Rasulullah SAW, maka akan ditemukan bagaimana perangai beliau yang senantiasa berfikir dan bertindak dengan sabar dalam arti menyiapkan bahan bakar dan menyusun strategi yang baik guna menyelesaikan masalah, bukan berarti diam/menunggu. Rasulullah pun pernah lebih kejam dikatai dan dinistakan melebihi apa yang pak Ahok utarakan. Beliau dicap sebagai seorang penyihir,  orang gila,  mengucapkan mantra dari al-Quran sebagai santet, dan lain sebagainya,  Toh beliau tetap bersabar, dan oleh karna kesabaran itu,  dikenallah beliau di seantero dunia dengan akhlaknya yang mulia, sehingga orang berbondong-bondong memeluk agama Islam. Misalnya, di dalam Al-Quran dikisahkan:

وَقَالُوا يَا أَيُّهَا الَّذِي نُزِّلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُون

“Mereka berkata: ‘Hai orang yang diturunkan Al Quran kepadanya, Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila (Surah Al-Hijr: 6).

Tapi apa jawaban dan perintah Allah SWT kepada baginda Rasul:

فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ

Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam (Surah Qaaf: 39)

وَلاَ يَحْزُنكَ قَوْلُهُمْ إِنَّ الْعِزَّةَ لِلّهِ جَمِيعًا هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Janganlah kamu bersedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Surah Yunus: 65)

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ

Dan Kami sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan. (Surat al-Hijr: 97).

Contoh-contoh yang terdapat pada ayat di atas merupakan Sunnah dan Akhlaq Rasulullah SAW yang seharusnya ditauladani oleh setiap pengikutnya secara holistik dan bukan dikesampingkan atau diambil sunnah-sunnah Rasul yang praktis dan enaknya saja (Jangan Cuma poligami saja yang mau diikuti dong!). Ayat-ayat ini sengaja dinukil dari akhlak Rasul menghadapi penistaan yang terdapat dalam al-quran yang menutup kemungkinan adanya perdebatan pada hadis-hadis dalam masalah ini.  Dengan kata lain,  menjadikan al-quran sebagai sumber utama bagi orang yang menjunjung tinggi dan membela Al-Quran.

Mungkin faktor utama yang menggebukan hati untuk berjuang menjunjung tinggi Al-Quran adalah kehormatan dan kesucian kitab tersebut.  Namun perlu diwaspadai faktor lain yang menungganginya dari belakang.  Sehingga Allah SWT senantiasa mewanti-wanti:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ الله بِمَا تَعْمَلُون بصير

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah، (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan (Surah Al-Maidah: 8).

Janganlah kebencian terhadap suatu kaum akan menyebabkan bersikap dan berbuat yang tidak adil.  Janganlah karna maksud dan kepentingan tertentu sehingga orang lain tidak mendapatkan keadilan. Melainkan berikanlah kesempatan bagi mereka dan bagi pihak terkait dalam memproses keadilan. Jika saja nilai dan ajaran qurani ini dijadikan pijakan,  maka apa yang saya katakan sebagai prematur action tidak akan terjadi. Karena masing-masing kita akan berfikir,  menganalisa,  mencermati,  dan mentaati aturan dengan penuh kesabaran sebagai seorang muslim maupun ustadz yang berkompeten (personal, social, scientist, inter-religional, emotional, dan professional).

Meskipun demikian,  demonstrasi itu juga perlu diapresiasi. Karenanya dan dengannya,  Alhamdulillah, telah membuka mata setiap orang akan pentingnya pemahaman tentang agama,  toleransi antar-ummat beragama dan juga kebenaran hukum yang harus ditegakkan. Semoga di kemudian hari semakin ada kesabaran sesuai dengan nilai qurani. Dan saya sangat berharap bagi pemerintah agar dapat menyusun sebuah Undang-undang baru yang tegas mengatur antara kebebasan berbicara, kritik agama,  dan penistaan.  Begitu pula undang-undang yang mengatur tentang Ustadz/Ulama/Kiyai dan Pendeta serta kompetensi yang harus dimiliki oleh mereka. Bukan cuma undang-undang guru dan dosen (baik negeri dan swasta) saja yang diatur kompetensinya oleh undang-undang. Semoga kebaikan dan kedamaian itu menjadi milik kita semua, Amiien.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s