Ahok + A-Hoax = Bugilisasi

Bangsa ini sedang dilanda Hoax bandang, indubitable bahwa kasus Ahok-lah yang telah memboomingkan istilah Hoax di Indonesia tanpa harus berpanjang-lebar akan asal kata maupun sejarah kemunculannya. Kasus ini pula telah berkontribusi bagi lidah masyarakat Indonesia dalam mengkonsumsi ucapan maupun berita Hoax sehari-hari melalui media cetak/elektronik maupun media umum di café, kantin, rumah makan, dst. Melalui kasus ini pula, bangsa ini kian tergiring menikmati tontonan perilaku nudisasi (bugilisasi) birokrasi dan politik.

Istilah nudisasi (bugilisasi) seringkali saya gunakan pada setiap diskusi maupu rapat untuk menggantikan istilah transparansi. Hemat saya, seorang wanita yang menggunakan gaun malam ataupun daster yang transparan dan tembus pandang akan menggugah hati sang pemandang untuk bertanya dalam kepenasarannya dan keingintahuannya yang lebih akan apa yang terlihat. Artinya, gaun yang transparan itu belum sepenuhnya menunjukkan keterbukaan lekuk dan celah tubuh karena masih ada bagian-bagian vital yang masih disembunyikan/ditutupi dan belum terjamahkan oleh pandangan. Sehingga istilah keterbukaan program dan anggaran maupun hal-hal lain lebih cocok menggunakan term nudisasi.

Sejak dulu orang-orang lantang teriakkan transparansi birokrasi dan politik untuk mencegah korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Sejak lama mereka berkoar tentang transparansi APBN/APBD. Toh tugas KPK bukannya berkurang malah bertambah dan bertambah dan semakin kekurangan personil. Ada apa gerangan? itulah transparansi yang masih menutup rapat kevitalan dan kemaluan birokrat maupun politikus. Sehingga untuk membasmi semua itu diperlukan nudisasi atau bugilisasi birokrasi dan politik di negeri ini yang semua itu berawal dari kasus Ahok yang telah menginspirasikan gaya hidup dalam judgment kekafiran melawan kemunafikan (kalaupun kafir, yah nerakanya masih mendinglah dibanding nerakanya orang-orang munafik – fii darkil asfali).

Apa yang dipertontonkan oleh aktor eksekutif, legislatif dan tokoh nasional saat ini melalui media-media merupakan langkah penyingkapan tirai penutup kemaluan untuk lebih bugil menghormati keterbukaan, bugil menatap kutil pada tubuh masing-masing sebelum menilai dan mengusik kutil orang lain, dan bugil dalam bertindak-tutur tanpa menggunakan pakaian keduaniaan sebagai seorang pejabat, sanak family pejabat, mantan pejabat, ulama, petinggi parpol, hartawan, ataupun rakyat biasa. Sikap dan perilaku nudisasi inilah yang akan meremote-kontrolkan kebersihan diri untuk tidak menuding dan menyalahkan orang lain, karena sadar bahwa setiap manusia pasti punya kelemahan dan kesalahan. Yakinlah akan al-jazaa’ min jinsil ‘amal, jika Anda membantu seseorang, maka Allah swt akan membantumu di dunia dan akhirat, jika Anda menutupi aib orang lain, niscaya Allah akan menutupi aibmu, dan sebaliknya, jika Anda membuka aib orang lain, niscaya secuil kutil dan panu di tubuhmu pun akan terungkap.

Tontonan itu tentunya taboo bagi sebagian penonton karena mereka merasa risih dan gregetan terhadap adegan-adegan yang tidak senonoh untuk dipertontonkan di depan umum. Namun bagi penonton lain, mereka justru akan menikmatinya sebagai pemuas birahi birokrasi dan politik seraya berujar, saatnya kita bugil-bugilan untuk memberantas kemunafikan, saatnya kita buka-bukaan tentang KKN, saatnya kita buka-bukaan tentang aib dan kesalahan masing-masing di masa lalu untuk sama-sama memperbaikinya, dan saatnya kita bangkit dari keterpurukan dan penjajahan transparansi.

Seyogyanya bersyukurlah dengan kasus Ahok, karena kasus ini tidak hanya membuka mata pemeluk agama dan masyarakat pada umumnya, tetapi juga telah membugilisasikan demokrasi dan politik bangsa untuk lebih bersih dan maju. Jika budaya nudisasi ini dipertahankan, ke depan, calon pejabat yang tidak bersih tentunya akan berfikir seribu kali lipat sebelum mencalonkan diri sebagai pejabat karena malu sebelum ditelanjangi oleh/di depan public dan masyarakat umumnya pun akan semakin sadar dalam menjaga sikap keliru dan salah untuk lebih berperilaku bersih, jujur dan jauh dari kemunafikan. Semoga!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s