BUKAN PENISTA AGAMA

Seorang kawan mengkopas sebuah tulisan berjudul ‘Penista Agama’ ke group WA yang seluruh anggotanya adalah orang Sulawesi dan saat itu sedang terjadi saling mengomentari menggunakan dialek Makassar. Sontak saya merasa geli-geli lucu dan memulai canda, dimana kelemahanta? dimana aibta? dimana harga dirita? kenapa ada penista? bulum juga divonis oleh pengadilan sebagai penista, mengapa Anda lebih dahulu memvonis seseorang. Ibarat saya baru saja bercerita tentang merek celana dalam, tapi pikiran dan perbuatan Anda sudah berada jaaaauh di balik isi celana dalam itu.

Andai saja kesadaran dan kedewasaan bertindaktutur dalam kebaikan sedemikian rupa, maka tentunya tidak akan terjadi pelanggaran norma dan aturan. Seorang anak akan sadar untuk belajar sebelum diperintahkan, seorang pegawai akan mengerjakan tugas-tugasnya tanpa menunggu instruksi atasan, dan seorang pejabat akan menjauhi korupsi sebelum ada undang-undang korupsi, karena sebelum bertindak, pikiran dan perbuatan mereka telah lebih dulu berada pada inti dari akibat yang datang kemudian. Sayangnya, kesadaran itu masih terbatas pada cerita celana dalam saja.

Indonesia itu negara demokrasi yang menjunjung tinggi hukum, bahkan konon semua penduduknya sangat menghargai dan mentaati hukum, maka hargai dan taatilah hukum yang berlaku dan janganlah menjadi hakim dan main hukum sendiri jika tidak berkapasitah pada bidang itu. Hargailah asas hukum praduga tak bersalah (presumption of innocence) yang ada pada undang-undang dan bukannya memvonis orang lain bersalah selagi kasusnya masih diproses-selesaikan di pengadilan.

Asas praduga tak bersalah itu telah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dan Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (UU Kekuasaan Kehakiman). Pada UU Kehakiman, asas praduga tak bersalah tertuang pada Pasal 8 ayat (1), yaitu:

“Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut, atau dihadapkan di depan pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sebelum ada putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap.” Sedangkan pada KUHAP, asas praduga tak bersalah dijelaskan dalam Penjelasan Umum KUHAP butir ke 3 huruf C yang berbunyi: “Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan atau dihadapkan di muka sidang pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap.”

Jika ada undang-undang demikian, bisa saja vonis yang Anda sematkan kepada seseorang sebelum ada keputusan pengadilan adalah pencemaran nama baik ataupun fitnah terhadap orang tersebut. Ingatlah bahwa Anda bukan orang yang hobi memfitnah. Ingatlah bahwa agama Anda melarang perbuatan tersebut. Dan ingatlah besarnya dosa fitnah itu. Sadarlah wahai saudaraku!! Terlalu jauh Anda terhanyut dengan arus pilkada DKI, Kembalilah ke jalan yang benar, Bro!!!

Advertisements

One thought on “BUKAN PENISTA AGAMA”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s