Puisiku

PUISI SEBATAS CURHAT

By: Saidna Zulfiqar bin Tahir

Mau dibilang puisi, tapi bukan.  Sajak, juga bukan. Karena ini cuman sekedar curhatan hati tatkala perasaan cinta dan benci itu memaksa jari menari dan mendendangkan ide-ide yang belum terkonsepkan oleh hati dengan menggunakan pernyataan dan pertanyaan bercampur bisikan iblis ke dalam cangkir tulisan di blog ini sebagai teman curhat passive. Boleh diminum dan boleh juga dibiarkan atau dibuang, tergantung pada rasa kehausan di rongga leher. Yang jelas, curhatan ini tidak akan membunuh karakter Anda ketika membacanya…..Pissss!!!!!

CINTA
(Vikar)
 
Cinta itu imajinasi…
Sekedar hayalan tingkat tinggi
Cinta itu privasi…
Sebatas rahasia hati
Cinta itu inspirasi…
Wahyu yang tak terilhami
Cinta itu tendensi…
Inklinasi kecondongan naluri
Cinta itu motivasi…
Dorongan diri untuk ereksi
Cinta itu ilusi…
Sebatas kemayaan tak terjamahi
Cinta itu reinkarnasi…
Akan lahir dan menjelma kembali
Cinta itu seleksi…
Pilihan yang sulit dimiliki
Cinta itu destruksi…
Ketika rakus kerusakan merasuki
 
Cinta itu indah
Indah diucapkan
Indah dituliskan
Indah dilagukan
Indah dirasakan
Indah dibayangkan
Indah dikenang
Namun sulit diungkapkan
Mulut seakan terkunci
Mata tertunduk malu
Tangan tak mampu melambai
Bagaikan bayi balajar bicara dan melangkah
Terbata dan tertatih
Tak seorangpun yang tau
Bagaimana jurus hingga ia mampu
Semua terlupakan
Semua tak lagi disadari
Keindahannya sulit terungkap
Selalu tersimpan
Kadang terpendam
Kadang menghasilkan dendam
Kadang pula membenci diri sendiri
Yang pintar dalam kebodohan
Dan terlalu cacat dalam kebisuan
Sadar dimaki oleh diri sendiri
 
Cinta itu rasa
Yang slalu ingin dirasa
Hadir di dalam dada
Tak tau kapan dan mengapa
Tiada kompromi oleh panca indra
Yang sakit di dalam dada
Denganya hati berbunga
Olehnya bisa terluka
Indrapun tak bertanggungjawab Karena itulah rasa
Hadir tanpa diundang
Disadari ketika terjatuh
Semakin dirasakan ketika jauh
Dan kecewa ketika kehilangan
Dengan cinta kita mencintai
Tanpa cinta tetap dicinta
Bagaikan ilham yang tak tersabdakan
Dan Gharizah yang terabaikan
Sebagai cinta yang hakiki
 
Cinta itu bibit
Selalu tumbuh dan berkembang
Berbagi dalam kebutuhan
Tetap statis dalam kestabilan
Tak kan pernah mengalami inflasi
Tak ‘kan mudah luntur
Bertahan dan terus bertahan
Meski hati dirundung duka
Meski wajah terbelut mendung
Namun cinta tetaplah cinta
Darinya melahirkan berjuta cinta
Dengannya belajar mencinta
Berbagi cinta penuh cinta
Dari orang yang dicinta
Yang telah mengajarkan cinta
Mengorbankan rasa dan raga
Meneteskan air mata
Demi cinta yang lebih dicinta
Sebagai abdi anak bangsa
Mau ataupun terpaksa
Meski cita itu tak tercipta
Rasa itu ‘kan terus terbina
Abadi di alam nyata dan maya
Hingga ajalpun tiba
Raib bersama masa
Karna cinta hanyalah masa
Masa dimana ada suka
Masa dimana ada bahagia
Masa dimana ada luka dan duka
Masa dimana rasa itu terbina
Masa dimana masalah itu tercipta
Masa dan masa-masa yang lain
Hingga keyakinan itu ada
Masa itu ‘kan tiba
Dalam saat yang berbeda
Dimana ‘kan kembali bersua
 ——————-
 
 
SEPUCUK SURAT UNTUKMU
Vikar
 
Bersamamu segalanya menjadi indah
Menerawang tinggi di atas ubun-ubun
Memetik bintang pandangi indah rembulan
Menanti datangnya mentari
Kokok ayam umumkan pagi
Merah bibir langit tersungging manis
Mulaikan mimpi dalam mencari
Keindahan abadi adalah cita
Kudapatkan dalam cintamu yang suci
Bersamamu bergandengan tangan
Naiki tangga nada kehidupan
Sebelum lagu terdengar sumbang
Rekaman takdir bukanlah kunci
Yang menciutkan minat di kala sunyi
Niat di hati adalah pintu
Yang dapat dibuka jika ada kemauan
Semua telah terpampang rapih di depan mata
Mengapa menghindar sebelum mencoba
Jika cobaan masih dapat dihindari
Mengapa harus lari dari kenyataan
Jika kenyataan sendiri tak pernah bergerak dan berlari
Pintu belakang selalu terbuka
Jendela pun belum pasti terkunci
Karena Lamabang restu dan sayang selalu ada
Berkalungkan emas di dalam dada
Bermatakan satu kata kepastian
Yakinkan arah dalam meraih
Kuyakin cintamu tak akan pernah basi
Kecanduan akan cintamu adalah obat penawar sedih
Yang selalu datang mengintip
Berkunjung tanpa undangan tawakan kesendirianku
Kebijakan sadarkan besar arti kesendirian
Kutemukan padanya rasa kehilangan
Sadar siapa aku untukmu
Penting artimu bagiku
Sedetikpun tak pernah terlintas
Jauhmu akan lebih mendekatkan hati
Tersiksa oleh bayang-bayang kelabu
Goncangkan hari hingga tak menentu
Tanpamu hidup hanyalah kematian tanpa pemakaman
Tanpamu aku hanyalah bayi atau banci
Aku butuh dirimu dan cintamu
Di sisiku selalu bersama
Coz I do Love U Hon…..
—————–
 
 
PERJALANAN TAK SIA-SIA
Vikar
 
Aku ada karena cinta dibesarkan dengan penuh cinta
Tuk menyingkap kelambu hati
Merabanya dan coba memeluknya
Cinta datang tanpa mengetuk
Pergi meningglakan berjuta kutukan
Berlabuh menumpahkan rasa
Berlayar serasa tak pernah merasa
Biarkan angin tunjukan arah
Terdampar temukan rasa
Cinta membuatku bangun dalam kebingungan
Sadar dalam kealpaan diri sesaat
Bergetar tanpa sebab meninggalkan bekas
Lupa akan tapak dimana kaki berpijak
Seakan melayang tak pernah mendarat
Cinta membuatku basah bermandikan keringat
Peluh hanyalah keluhan berirama
Hampir bersandalkan darah dalam pengejaran
Tak peduli duri dan beling mensayat
Dapatkan sayap terbangkan angan
Tubuh-tubuh tergolek di sisi
Kemulusan hanyalah pameran lokomotif
Nampakkan noda dan panu yang menghias
Butakan mata dalam kedipan tak berkedip
Semua hanyalah topeng kesenangan
Lambang ketidak puasan
Semakin jauh ku menggapai cinta
Semakin dekat tembok pemisah
Parau suara lolongkan cinta
Rapuhkan hati tanpa permisi
Kesal datang menggoda
Keruhkan hati yang sedang gelisah
Tanah adalah sasaran emosi
Yang tak berdosa menanggung siksa
Lengking teriakku senyapkan suasana
Perlahan mengusap dada
Kusadar….dan mulai menyadari terlalu dalam keterperangkapanku
Jatuh ke dalam lembah tak berujung
Larut bersama hayalan-hayalan indah
Yang terpoles dongeng dan legenda
Dalam kegelapan mencoba meraba
Sayup terdengar bisikan hati penuh bimbang
Keyakinan kuatkan niat menguping
Apa salahnya mencoba dan mencoba
Cinta hanyalah nyanyian hati
Dan permainan perasaan sementara
Mudah terombang ambing oleh gelombang
Mengarah dan diarah sesuka hati
Bagaikan nakoda memalingkan haluan
Kekecewaan bukanlah tamparan
Melainkan musuh yang baik melebihi kawan
Dari dialah pelajaran berharga kusimak
Hingga akhirnya… Ku tak pernah kecewa memainkan rasa
Perasaan laksana tanah berkolam
Becek dan berair di musim hujan
Retak berhamburan saat panas menyengat
Namun para petani mampu menggarapnya
Tumbuhlah di atasnya beraneka tanaman
Terang… Mentari pagi silaukan mata
Tawarkan senyum mulaikan hari
Mengisi celah hati dengan berbagai rasa
Koleksi cinta dapatkan yang terbaik
Hilang gairah tertelan masa
Di balik lembaran hari
Mutiara hatimu tersimpan rapih
Memanggil tanpa ada jawaban
Menanti penuh kesabaran dan kecewa
Buktikan dalamnya asal mutiaramu
Yang terkubur lama di dasar samudera
Cinta adalah benci
Karena kebencian melahirkan cinta
Dan cinta dapat berakibat benci
Namun cinta yang tumbuh dari benih kebencian
Lebih subur dibanding dari benih cinta
Yang mudah gugur dan layu tergantung masa
Habis manis hambar terasa
Warna baru yang engkau tawarkan
Menarik perhatian sesaat
Ku sadar ku telah jatuh cinta
Jujur ku kata… Aku memang cinta padamu
Hatiku bukanlah hatiku
Kutemukan diriku di matamu
Di dada tergetar rasamu
Di ingatanku tertonton videomu
Sesak nafasku tanpamu
Karena engkau adalah nadiku
Bersamamulah mendayung hari
Hingga saat ku berjanji
Engkaulah awal tanpa akhir
Terang tanpa kegelapan
Sinari hari hingga gelap datang memanggil
Menutup mata dengan senyum bahagia
Perjalananku…. memang panjang dan masih belum berakhir
Namun semua bukan kesia-siaan
Semoga…..
——————-
 
MONKEY’S LOVE
Saidna Zulfiqar bin Tahir
Ada monyet melempar pisang
Bersampul amplop berisi kutu
Kepada kera yang akut berkuku
Menyeringai cergas ajak bersekutuKarena katanya aku kutu bukuLugu mengangguk mencari kutu

Tersimpuh lunglai di atas bangku

Senewen mengeliru dalam berpangku

Kebungkaman terus membelenggu

Lugas pilon kera tiada menentu

Menghela minat mencari tahu

Tiada jawaban menjajak laku

Karena ini afeksi usia tertentu

Alamiah sebagai ketentuan baku

Kemasygulan usil mengganggu

Trial dan error menjadi perunggu

Merenggut pisang ketusuk paku

Memanjat kelapa ketimpuk sagu

Monyet kera semakin bersatu

Menyisir jurang tanpa arah menentu

Semua itu tak mungkin terbantu

Licinnya pinus berlendir paku

Yang kebetulan cengang terpaku

Lagu pembuka yang amat merdu

———————–

 

CINTA PERTAMA
Saidna Zulfiqar bin Tahir
Cinta itu kesan
Kesan pertama saat berkuala
Berpapasan antar intermuka
Membisu bagai kamus seribu bahasa
Pesona denyutkan nadi memukauSpekulasi akal tak menentuBilabial mencibir anak kata

Membisu dalam bahasa hati

Gemuruh rasa lupakan motif

Utarakan iktikad di kitab utara

Terkatup tiada kata terucap

Seniah rasa getir terpendam

Berharap pandang mata terselami

Mencuri pandang utarakan hasrat

Reparasi sikap tunjukkan genial

Kiranya keinginan dimaklumi

Namun semua sia-sia

Cinta pertama adalah citra

Impresi meninggalkan tilas

Berparut bopeng yang membilur

Tiada dosis param antidota

Sebagai pengidap terminasi hidup

Terbaring di ranjang memoar

Bernostalgia dalam sensasi mimpi

Semua tingga reminisensi

Tiada perulangan itu kembali

————————–

 

YA…YUK!!
(Vikar)
 
Polosnya aku
Tabu oleh rasa sendiri
Ragu oleh kepolosanmu
Namun yakin oleh perasaan ini
Cinta yang tak mungkin kuucap
Rasa yang sulit diungkap
Membisu dalam kebodohan sendiri
Menyapapun sulit
Tangan ini serasa kesemutan
Mulut ini terkunci
Hanya untuk satu kata
Tuk mengantongi satu kata darimu
 
Aku terperangkap keayuanmu
Matamu sayu
Tak mampu kurayu
Tuturmu kemayu
Membuat mulut ini layu
Bodohnya aku hingga tak mampu merayu
Padahal kutau Engkau pemalu
Yang juga menyimpan mau
Karena Engkau juga ragu
 
Engkau yang pertama
Hadir dalam mimpiku
Engkau yang pertama
Menghias dinding jiwa
Engkau yang pertama
Mengontrak kamar hati
Engkau yang pertama
Nyalakan lampu kehidupan
Hanya kamu…
Karena kamu…
Untukmu aku ada
Kepadamu semua harapan itu
 
Kini Engkau tiada
Entah kemana dan dimana
Tiada kabar…tiada berita
Kemana harusku mencari
Hingga kecewa menghampiri
Kutau Engkau telah dimiliki
Biarlah rasa itu tetap kusimpan
Biarlah rasa itu tetap kupendam
Dan ‘kan slalu kukenang
Hingga akhir…
—————-
 
NYANYIAN JIWA
(Vikar)
 
Kesendirian bertabur bintang
Menatap bulan penuh bimbang
Di balik awan tertutup ladang
Di atas bumi terus begadang
 
Kalut asa dalam bimbang
Kemelut hati tiada berimbang
Meski kata telah terdendang
Namun fakta terus menentang
 
Ketika tangan mulai terentang
Kaki ini ikut menendang
Rasa itu tiggallah gendang
Bertabu ria sekedar lambang
 
Jari jemari terasa kejang
Jeruji hati semakin terpajang
Meski diri telah telanjang
Hasrat itu tataplah lajang
 
Mata ini mampu memandang
Mulut ini sulit berbincang
Kaku gerak serasa pincang
Rasa di dada kian mengguncang
 
Senyum ini terasa sumbang
Pendamkan rasa dalam gelombang
Badai datang terus menghadang
Semua itu kan slalu dikenang
 
Cinta itu tlah merajut benang
Rindu itu berbunga senang
Meski rasa selalu terkekang
Mungkin kita bukanlah sepasang
 
Saat suka Engkau melayang
Saat duka Engkau terbayang
Meski aku bukanlah abang
Namun Engkaulah yang tersayang
 
Hati ini bukan keranjang
Kala tangis mulai berkumandang
Rintih nasib saat sembahyang
Menanti takdir datang menjelang
 
—————————
 
SURAMAN ROHANI
(Vikar)
 
Culun penuh keluguan
Polos dalam kedunguan
Tiada tau tiada curiga
Tiada sadar ketimpuk mangga
Ajakan itu kusangka ikhlas
Ajaran itu semakin tak jelas
Terperangkap dalam dekapan
Tante-tante yang kesepian
Yang kutau hanyalah diam
Yang kurasa badan meriang
Badan ini seakan kejang
Mata ini bengong terpejam
Barang ini mulai terpancing
Rasa itu bagaikan mau kencing
Digerayangi di atas sofa
Dihadiahi uang sejuta
Tak tau apa yang terjadi
Tak sadar datangnya pagi
Kembali itu terjadi
Terjadi akhirnya kembali
Tante itu menjemput lagi
Rasa itu kurasa lagi
Lagi-lagi aku mau
Ketagihan siapa tak mau
Jadilah aku hewan peliharaan
Siap sedia tuk memuaskan
Sadar diri nurani tlah suram
Hidup ini smakin tak keruan
Semua impian kini tlah bocor
Diri ini terasa semakin kotor
Hidup ini kian membrutal
Cita cinta haruslah batal
Siraman rohaniku selama ini
Sekejap itu suramkan rohani
Aku najis yang ternajisi
Aku jijik tak termajasi
Tak pantas memiliki tuan
Tak layak menghadap Tuhan
——————————-
 

RACUN vs MADU

Vikar

Andai kesendirian adalah racun
Hanya Engkaulah obatnya
Andai kebersamaan adalah madu
Akulah yang tolol mengabaikanmu
Kuracuni kesendirianku
Hanya dengan obat sementara
Kumadui kebersamaanmu
Dengan ketololan menduakanmu
Andai ketiadaanmu adalah racun
Hanya Engkaulah keyakinanku
Andai kehadiranmu madu
Akulah yang alpa dalam pertemuan itu
Kuracuni ketiadaanmu  di saat adamu
Murtadkan jaminan keyakinan
Memadu kasih dalam ketiadaan
Lupa akan posisi dan status
Andai kematian adalah racun
Hanya Engkaulah yang meracuniku
Andai kehidupan adalah madu
Hanya akulah yang hidup selamanya
Memadu kasih bersama
Dalam dunia pengandaian semu
Racunilah aku dengan cintamu
Madukanlah aku di dalam lebahmu
Agar tiada lagi mengandai-andai
Hadapi kenyataan yang pahit
Sebagai obat kekekalan kasih
Dalam keabadian yang nyata
Andai tulisan ini adalah racun
Hanya aku yang gak mau menjadi Romeo
Andai tulisan ini adalah madu
Hanya Engkaulah induknya madu
Yang siap menyengat jari ini
Untuk hentikan semua pengandaian
Sebelum lahir pengandaian baru

—————————

RINDU ITU

Vikar

Aku terseret dalam kerinduan
Di bawah ketekmu kutergilas
Roda kehidupan berkembangkempis
Menindih membuatku demam tulang
Tak berdaya dalam kemanyunan
 
Aku tersesat dalam kesendirian
Di bawah bayangmu kutersiksa
Terik matahari kian membakar keinginan
Mualkan isi kepala seakan rontok
Kusadar kutelah botak karenamu
 
Aku terjepit oleh keinginan
Di bawah perut berkata lain
Bisikan hati mencoba tegap
Pusingkan kepala atas – bawah
Yang sama botak berpeluh keringat
Menahan sesuatu yang lama tak tertahankan
Menyentuh sesuatu yang ingin disentuh
Di balik kekeramatan itu…
 
Aku terperangkap oleh nafsu
Di dalam penjara yang tak terkunci
Leluasa berlalu lalang sesuka hati
Tanpa penjagaan ketat
Di balik benda yang kadang ketat
Namun selalu tertekan
Oleh licinnya rayuan
 
Aku terendam oleh air sabun
Bagaikan cucian yang bisa menertawai
Seakan mencibir dan berkata
Cucian deh loee….!!!
Memang….
Namun itu hanyalah iblis
Yang mencoba memberikan kunci
 
Aku terkunci dalam kegelapan
Mencoba meraba pintu
Yang kudapati hanyalah kursi
Tanpa harus melalui pemilihan umum
Kumampu bersandar sesaat
Beristigfar atas kesalahan
Yang tak mungkin Engkau fahami

———————————-

PECULIAR
Vikar
 
Lost in a light
Seeking for a sin
Live in a liar
Truth will free my soul
Living in agony
Find my way home
It’s truly the fear
The fear of the dark
It’s growing inside me
They won, they will come to life
And I was a looser
I am losing the struggle within
My fate was horror and doom
My strength was fading
Just let me pass by
Don’t feed my fear
If you don’t want it out
Have to save
Save me please dear
Even there was no escaping
Never stop hoping
Need more for your help
Coz one thing’s for sure
You are always in my heart
————————-
 
CYBER

Saidna Zulfiqar bin Tahir

 

Realitas virtual alam cyber

Menyatakan maya dalam realitas

Dungu mengejawantah ujud

Gejala optis menerpa fatamorgana

Lugas jelas tak berdaya

Terjebak macetnya arus melankolia

Eksotis menjanggi bak abnormal

Genderang ditabuh oleh trubadur

Nyanyian rasa indah mengaung

Hati amblas termabuk suasana

Anonym nonix terkonsep nona

Dalam imajinasi bergaris lintang

Ngakunya empu pencabut hati

Dungunya empu tertular tantular

Terasah kerekan ambruk di lantai

Nyeri belaian meruncing iba

Tak kuasa mengelak pinta

Asoy menjamah batas kemayaan

Menyeluk rimba berongga artificial

Dalam blangko kosong tak bernilai

Tolol kebodohan membuat telmi

Karena angan berenang dalam imaji

Tiada daya menanggalkan isolasi

Tiada daya memencilkan perasaan

Kedewasaan cermat menyahut

Respon waras dianggap sinting

Akal kancil tak masuk di akal

Karena semua hanyalah maya

—————————

سماح
لـ.سعدنا ذوالفقار بن طاهر
 
أنت نجوم بلا سماء
تنوّر القلوب بلا رخاء
أنت كوكب من غير ضياء
تقلب القلوب بلا سماح
إذا رأتك الرجل العمياء
لقال أنك بيضاء
وإذا رأتك العقلاء
فقال أنك سمراء
لقيتك تلقاء
حينما ينزل الشتاء
ترفرف قلبي تجاهك حمراء
وقد وقعت في حبّك مرتاح
سلمت نفسي خلصاء
وظلمت حبي فيك سوداء
لا شيئ دونك فناء
ولا عيش بجوارك إلا رجاء
في حبّك شيئ غراء
لا قدرة علي الفصلاء
في خيانتك صلاح
ولا عيب إلا الوفاء
تعالجني معاملة مثناء
تركت فيا الوباء
لا أنساه إلا البقاء
ولا معاونة للشفاء
حتى توهبني الدواء
لا حول لله الجلاء
بعفوه لك سماح
——————–
 
TANTEKU
Saidna Zulfiqar bin Tahir
Keping bundar pipih bermain
Mendekar jetos dalam canda
Asmara bercatur di atas chessboard
Terbina dalam asrama keluarga
Karena engkaulah tanteku
Bergeriatrik renta dalam sebaya

Menjelma menjadi pacarku

Berkohabitasi seatap penuh intrik

Helat trik pesona alam misterius

Mendekap kesuaman memuai ereksi

Taktil gelitik beringas menjamah

Euphoria cita spontan berpelaminan

Aspirasi selera ambisi terblok

Mustahil berimpit dalam manunggal

Karena sanggahan itu tiada lawan

Rute itu pasti terjelajahi takdir

Trayek memutar tak dapat dituruti

Meski memforsir tenaga mendobrak

Atrisi kewaskitaan pasti melentur

Karena kau tetaplah tanteku

—————————-

 

RENUNGAN PAGI
Vikar
 
Pagi bangunkan tidurku
Kaget terperanjat bagaikan kebakaran
Bergelut bersama nightmare
Membuatku letih berkeringat
Anehnya….
Si Anu ikut terbangun
Meski hasil dari mimpi buruk
Dia tetap ikut nimbrung
Dalam kekalutan otak
Antara sadar dan tidak
Hati melaui menginterogasi
Pantaskah di usia ini masih begitu
Semangat itu semakin kuat menguasai diri
Membuatku sering lupa diri
Bagaikan kuda liar kehilangan tali kekangnya
Bebas berkenalan hilang kendali
Hingga kadang kuberdoa
Agar si Anu tidak lagi ber-anu-anu
Agar si Anu tidak lagi mencari si Anu
Damai dalam singgasananya
Meski tanpa kursi mahkota
Kusadar….
Akulah manusia terbaik
Selalu berbuat baik dan ingin kebaikan
Semua sudah membaik
Semua sisi dalam diriku telah membaik
Kecuali si Anu
Yang selalu membuatku berdosa
Terpeleset dalam lubang sempit
Yang licin dan berair
Itulah kejelekanku yang tersisa
Hanya itulah lubang dosa diri
Menjajah dan selalu ingin menjajal
Membuat hati ini gelap tanpa hidayah
Aku butuh saranmu
Yang mampu membuat Anu-ku bersarang
Terkurung dalam sangkarnya
Hingga Ia tunduk dan tawadhu
Saranmu….
Saran ustadz untuk berpuasa
Justru puasa semakin membuatku bergairah
Saran dokter untuk ber-onani
Justru onani membuatku ingin yang sesungguhnya
Harusnya kujepit si Anu di sela pintu
Agar Ia kapok tak bisa berdiri
Ataukah harus dikebiri
Agar Ia tetap sendiri
Kayaknya aku tak boleh sendiri
Selalu dekat bersama istriku
Kemanapun harus membawanya
Menyertai setiap langkahku
Bagaimana jika tidak
Ohhh…emang sih pasi wanita
Sibuk….
Anakku harus menemaniku
Kemanapun mereka ada di sisiku
Agar aku tak lagi ber-anu-anu
Karena ada malaikat-malaikat kecilku
Yang selalu mengingatkanku
Mengontrol tindakanku
Meremote setiap keinginan
Dan mempause gerakan si Anu
Semoga ini akan berhasil
Untuk meraih kebaikan abadi
Tanpa cacat dan dosa lagi
Amien..
—————————-
 

ADA-ADA SAJA

Vikar

Ada niat terencana…
Ada rasa yang terbina…
Ada asa yang terlena…
Ada kata yang tercipta…
Ada karya menjadi realita…
Ada tangis yang tersisa…
Ada gosip terberita…
Ada rahasia yang terjaga…
Ada ruang dan waktu sebagai fakta…
Antara aku, kamu dan dia
Hanya akulah yang rasa
Agar tiada hati yang luka
Meski ini hanyalah dusta
Agar slalu bisa diterima
Meski semua hanyalah nista
Yang slalu datang membawa derita
Namun sulit untuknya sirna
Walau hati berlinang dosa
Semua ada
Karena kita sering mengada-ada

————————-

CATATAN KERINDUAN

Vikar

Hari-harimu adalah hari-hariku
Yang slalu terperangkap kemacetan sang waktu
Antrean kendaraan yang menghantarkan perasaanku
Terasa begitu lambat
Hingga kerinduan itu berteriak
Membakar suasana hati
Walau peluh berkristal ria
Jariku nakal memencet keypad
Lantumkan debaran kerinduan
Yang slalu haus
Tatkala melirik pajangan minuman dingin di pinggir jalan
Entah mengapa…?
Tak satupun rambu lalulintas yang mampu hentikan ingatanku akan bayangmu
Yang kerap gentayangan menakuti hari-hariku
Hingga kusadari ketikanku terhenti oleh suara halus
Membisikan kedamaian dalam kehancuran
Tak sedetikpun jariku terbesit bisikan
Dan memaksaku terus alirkan kerinduan
Dalam tulisan yg tak menentu
Karna kerinduan itu begitu cepat
Menggerogoti setiap pembuluh darah
Dan telah bersemayam bagaikan tumor yang siap merenggut nafasku
Kaulah kerinduanku yang slalu kurindukan….
GG (Gadysa & Gelbina)
———————–
 

ALPAMU

Vikar

Alpamu hanyutkan kepercayaan 
Kebimbangan yang terseret arus zaman
Melilit ranting hari kerapuhan tanpa harapan
Meski hadiranmu terparafkan dalam absen keyakinan
Yang terciplak rapih dalam daftar putih tanpa tipe-x dan noda
Namun lembaran hati terbuka oleh sepoian lembut angin
Membisikan kenangan yang terkungkung penantian pasti tanpa kepastian
Hanyalah risau….
Yakinkan keraguan yang lama terpresentasikan
Di dalam ruang fikir tanpa kesimpulan
Kupanggil hati dan menanyakan alasan
Maupun surat keterangan izin sebagai penguat keyakinan
Adalah kepasrahan terhembus lirih dalam potret malaikat
Sebagai balasan kejujuran yang mengada dan menenangkan keadaan
Saat pembahasan materi seminar segera disimpulkan
Sumpalan kue berkotak dan aqua kan mengakhiri penat dahaga kejenuhan
Bercampur peluh yang terlukis dgn keringat lusuh kian bugar tanpa kerutan
Mungkinkah kehadiran itu mutlak diabsenkan
Sebagai wujud kedisiplinan hati temani raga yg tak pernah berolah raga
Apakah itu yg dinamakan formalitas dan dinamika
Rasa terkontaminasi formalin pengawet relasi dalam ikatan ikrar?
Ataukah bunga yang kadang mekar semerbak
dan kadang layu tersengat matahari sore
Mudah-mudahan semua mudah dan dimudahkan
Karna kunci jawaban ujian akhir telah tebocorkan
Sukseslah dengan kemampuan menjawab soal dari orang lain
Semoga itu adalah awal pembelajaran

—————————-

AKHIR PERSIMPANGAN

Saidna Zulfiqar bin Tahir

Akustika nada hidup beranting

Luas kosmologi bagai dasalomba

Seribu cagak membelah samudera

Bergelombang sendeng dalam pesong kursif banyaknya persimpangan

Berhenti sejenak lalu mengakhiri

Bermuram dalam bergontai

Pemucatan distorsi masa silam

Dalam keruh kelamnya lata

Luncah menistakan diri yang rampus

Terjaga dari koma berkepanjangan

Menuangkan konsep baru renungan

Kesendirian bergumul di Sahara

Experimentasi menyandarkan peluh

Menyudahi pengembaraan semu

Dalam perpaduan belahan koin

Melebur kemanunggalan diaktrik

Kurs dalam tangga nada graf

Persentil apresiasi merevaluasi

Amandemen deklinasi kehidupan

Penguapan harapan baru mengalir

Pembaharuan radikal meraih cita

Di persimpangan ini meneguh tekad

Di sinilah titik kulminasi katam

Di nokta inilah saat berkreasi

Keakuan diskersi kebijaksanaan

Menganyam relasi kolega tali salasilah

Dalam bahtera bungalo patriarki

Ekspektasi bujang tak ingin lapuk

Sebelum berubah menjadi kapuk

Dengan kelenggangan tanpa kompas

Pedoman jarum jam kebahagiaan

Peluang mustahil yang lengkara

Mumpungisme meraih perubahan

Berperibudi hidup yang lebih bernilai

Penyempurnaan sebahagian ritual

Tambatkan tali kekerabatan

Simpul liga perserikatan hidup

Akte traktat resepsi persepsi

Terkebat pasak sutas cincin di jari

Dalam keberkahan penuh mawaddah

Sakinah warahmah…

Langgen penuh lestari

Abadi slamanya….

Amien…!!!

———————–

لؤلؤة
سعدنا ذوالفقار بن طاهر
 
طال الليل
بتّ مستهرا
حيران بغيابك
مشتاق لحضنك جامد
لا شيئ سواك
بحبك ناضج
بدونك ميّت
لا أمل بدونك
لا حماسة لبعدك
إنت الوحيدة
مالكة القلب الخاضع
بألطف الموقف أسلم
بأحسن السلوك راض
بزواجك فارح
إنت أحلى ما فيا
طول العمر
في حبك واعد
لا مرأة بعدك
ولو كان العمر بُعدك
علي لوحة الذهن كاتب
ومن صميم قلبي معترف
لن أك بأمانتك خائن
ما أحلى ما كان
وما أروع ما يكون
إنت لؤلؤة
زينة حياتي كلها
تلوّن الأيام بنورك
طمنتيني بوجودك
لا نساء غيرك
ها هو وعدي لك
ها هو عهد بيني وبينك
للأبد الآبدين
 ——————————-
 
SANG ISTRI

Saidna Zulfiqar bin Tahir

 

Dialah mutiara

Bersinar tiada tara

Terangi aku dalam penjara

Untuk hidup lebih sejahtera

Dialah sang isteri

Penggugah hati berseri

Pembuka tabir misteri

Pelipur hati yang nyeri

Dialah bidadari

Turun bersama mentari

Hadir tanpa disadari

Lahirnya cinta tak mampu dikomentari

Dialah impian

Membawa berjuta harapan

Merajut semua kenangan

Mimpi itu adalah kenyataan

Dialah permaisuri

Harum semerbak kasturi

Mekar di taman puri

Mata hati tak lagi mencuri

Dialah motivasi

Penggerak hati berimprovisasi

Penopang asa penuh sensasi

Harapan itu kan terealisasi

Dialah bintang

Terpampang diantara gemintang

Kedipkan cita-cita gemilang

Hari esok kan lebih cemerlang

Dialah rembulan

Cahaya wanita unggulan

Dibanding wajah sanggulan

Menikahinya adalah akhir kesimpulan

Dialah malaikat

Membuat hatiku terpikat

Dalam anugerah yang terikat

Cinta pun semakin mengkilat

Dialah ibu anak-anak

Pandai beternak dan menanak

Hati semakin terkesimak

Wajar aku menjadi jinak

Dialah  mustika

Langka bagai pusaka

Harga tak terhitung angka

Memiliki tak pernah kusangka

Dialah puspa

Pewarna bentuk rupa

Yang tak mungkin terlupa

Saat hadir maupun alpa

Dialah peri

Menjelma mimpi berseri

Hilangkan luka yang nyeri

Hadapi hidup tanpa ngeri

Dialah rab’ah

Isteri yang salehah

Ibu yang mujtahidah

Kekasih penuh mahabbah

Dialah surga

Nikmat yang patut dibangga

Idaman dalam keluarga

Semoga dan semoga

Dialah karsa

Penyulam segala rasa

Asa yang tak putus asa

Hingga akhir masa

——————————–
 

SETIA

Vikar

Dulu aku setia
Karena si dia selalu setia
Dulu aku bersedia
Karena si dia masih belia
Dulu aku aku ceria
Karena si dia sangat mulia
Kini aku bahagia
Karena si dia tetap setia
Kini aku bersuka-ria
Karena kami selalu se-iya
Tak sedetikpun ada niat menduakanmu
Tak sehelai kainpun menghalangi ingatanku padamu
Tak seorangpun yang dapat menggantikanmu
Karena cintamu adalah nafasku
Karena dirimu adalah diriku
Kami satu yang sengaja disatukan
Dalam meraih Ridha-Mu

———————-

GELAP TERANG (KAIRO)
Vikar
 
Inilah tempat para Nabi
Inilah tempat kaum pembangkan
Inilah tajuk kemuliaan
Inilah kota penuh kedamaian
Disinilah pyramid berdiri
Disnilah nil mengalir
Disinilah firaun mengtuhankan diri
Disinilah Asia gigih mengabdikan diri
Inilah aku
Disinilah aku terapung
Antara dua kubu di hati
Kadang lurus dan mulus
Sering melenceng dan sesat
Arahku jauh dari tujuan
Meraih api membakar niat
Yang dihadapi bukanlah mimpi
Namun kenyataan yang sangat asin
Penoreh aroma kehidupan
Pelita hidup redup
Gelap segelap kehidupan malam
Susuri tempat ke tempat
Habiskan waktu terbang ke langit
Pudar bersama datangnya pagi
Inilah vampire kehidupan
Hidup diantara dua alam
Menghirup kebaikan sesaat
Menghisap dosa yang tak mampu dipertanggungjawabkan
Roxy, aguza, begitu jauh Ataba, muhandisin terasa dekat
Jabal muqattam mudah didaki
Terusan suez terbentang banyak cabo
Di atas tower aku bangga
Di dalam pyramid ku terjepit
Di atas bukuit Sinai kuterpaku
Di sungai nil kutenggelamkan nista
Di mesjid Husein kudapai diri
Di Al-Azhar kulahir kembali
Engkaulah ummu dunia
Darimu segala tarbiyah
Engkaulah ummul balad
Padamu kumerindu
Engkaulah negeri kinanah
Bersamamu tentukan arah
Engkaulah pahlawan tanpa gaji
Untukmu segala bintang satya
———————
 
 
ANDAI TAK MALU
Aman 30 October 2004
 
Andai tak malu
Kan deras derai air mata
Kan kukunjungi persemayamanmu
Duhai kau yang telah pergi
Ku tatap sejenak terakhir kali
Tubuh sayu terbaring lesu
di samping tanah galian yang terbuka luas dan dalam
 
kau tinggalkan diriku
Kau ciptakan bingung dan sedih di hati
Saat rambutku telah memutih dan tulang yang lemah tersisa
ditemanin anak-anak kecil masih berselendang azimat
Tak lagi ada semangat habis waktu malamku
mengawasi bintang-bintang yang terang lalu pudar bersama dirimu
 
Kau bagai permata di jiwaku
rebutan setiap orang tempo itu
dan kini terlihat di sana
Hanya tumpukan tanah dan batu
 
Cairo, 1997
 
 
ANDAI TAK MALU
Vikar
 
Andai Tak malu
Kan terkepak sayapku
Terbang bersama sangkar
Hinggap tak berpijak
Dimana kakiku beranjak
Lupa akan diriku
Bersayap tak bisa terbang
Berkata tak ada ketenangan
Hasrat tersumbat dosa
Luapan kicauan merpati berirama tanpa arti
 
Andai tak malu
Kan deras air mata mengalir
Basahi hati bagaikan gincu
Kan kering tenggorokan terngiang
Tanapa ada balasan iba
Dimanakah aku saat Kau memanggil
Dimanakah Kau saat ku menangis
Semua terasa percuma
Air mata bukanlah azimat
Yang kau tawarkan hanyalah irisan
Pahit getir adalah kodrat
Aku lemah saat Kau kuat Saat ku kuat……
Kau pun mencoba melemahkanku
Dimanakah airmataku
Yang menangis curahkan kristal
Kering bersama unek di dada huuhhhh….desahan penuh arti
Hanya Kaulah yang tau
 
Andai tak malu
Kan ku caci maki diri-MU
Namun kusadar….
Aku makhluk pemula dan pemalu
Kini kudatang tanpa berandai
Bugil tanpa malu dihadap MU
Terbang mendekap sayap MU
Menangis hanya dipangkuan MU
Kutau kicinta padaMU
Dan Kau pun cinta padaku
Terimalah aku
Dan maafMU mahkotaku
 
——————————
 
 
SAHABAT
Vikar
 
Sahabat
Kau begitu dekat
Karena kita sederajat
Saat hidupku meningkat
Senyummu kian berat
Kukira kau turut bahagia dan melompat
Gak taunya kau bangsat
Pandai lidahmu bersilat
Karena kau penjilat
Fitnah kau rekat
Actingmu merangkul erat
Percayaku berkarat
Milikku pun kau sikat
Pacarku minggat
Karena kau berkhianat
Alasanmu singkat
Seakan tak berserat
Ku tau perasaanmu dipantat
Hingga kau begitu bejat
Jalanmu terlalu sesat
Bagimu tak ada sesuatupun yang keramat
Kini kau terjerat
Mulai kembali merapat
Istrimu berangkat
Kaupun melarat
Orang tuamu wafat
Menunggumu di hari kiamat

———————

 
 
———————

SIAPA AKU

Vikar

Inilah aku dalam diriku
Yang menanam jati tanpa diri
Inilah diriku yang selalu mengaku
Bahwa jati diriku adalah aku
Siapakah aku?
Siapakah diriku?
Ternyata aku hanyalah diriku
Yang bias iri dan berdiri
Marah abaikan akibat
Ngotot menuntut keinginan
Sedangkan aku hanya dapat menyaksikan
Tanpa mampu tuk berbuat
Aku hanyalah aku
Yang suka berlebihan ber-aku-aku
Sok tau dalam mengaku
Karena aku belum mengenal siapa diriku
Semua cermin membohongi aku
Menutup kedok jati diriku
Yang kupandang hanyalah bayangan diriku
Sedangkan aku hanya tersenyum puas
Cengar cengir sendiri dalam diri
Bahwa itulah aku
Itu semua hanyalah jawabanmu
Yang tiada beda dengan pujian cermin
Itulah diriku yang ada dimatamu
Bukanlah aku yang ada pada diriku
Karena diriku belum mengenal siap aku
Karena aku belum mencintai diriku

——————-

BOSAN

 Vikar
 
Bosan…..
Sungguh ini sangat membosankan
Ini lagi…itu lagi….
Sungguh sangat memuakkan
Mengapa aku masih di sini
Mengapa aku masih berbuat ini
Dan mengapa aku masih saja begini
Begini kek…begitu kek…
Semua tetap saja salah
Semua terus saja menjijikkan
Itu lagi…dan itu lagi…
Tiada perubahan
Tiada perkembangan
Bahkan tiada lagi harapan
Pupus…..
Masa tidak lagi bersahabat
Mereka itu tidak lagi tersenyum
Tempat ini hanya cemooh
Ruang ini…..
Ruang ini lagi..ruang ini lagi
Pergi….pergi..pergi..!!!
Mengapa masih tetap di sini
Bodoh…
Goblok kok dipelihara
Maju dunk!!
Masa selamanya kek gini
Buktikan dunk!!
Masa gak pernah ada bukti
Bicaramu sudah melebihi takdir
Tuhanpun harus kukalahkan
Tapi gimana…?
Hijrah sudah
Usaha dan ikhtiar sudah
Berdoa juga sudah
Pasrah pasti gak diragukan lagi
Lalu..????
Apakah aku stress
Tenang dunk!!
Semua belum berakhir
Semua ini hanyalah rutinitas
Berputar dan terus berputar
Bagaikan roda
Kadang di atas kadang di bawah
Sungguh kasian
Ketika roda itu di bawah tertusuk paku
Dah kaya arisan dan togel aja nih hidup
Tinggal mengundi
Dan mengadu nasib
Apakah selamanya begini
Mungkin ya..mungkin tidak
 ——————————–
 

PURE

Vikar

Engkau yang benar pure
Kini berubah syur
Oleh ungkapan sure
Yang belum pasti swear
Rela to be wear
Meski tubuhmu wearier
Engkau tetap super
Harusku admire
Bahwa engkau less wary
Dan memang kurang care
Mudah fulfill my desire
Hingga lupa akan purity
Langkahi suatu boundry
Yang tak mungkin kembali
Semua telah occure
Semua telah terecorded
Dan tak mungkin di recure
Ataupun di recuver
Terima kasih atas segala proof
Semoga cinta itu tak lagi blind
Walau berlalu dalam kegelapan
Hingga terang itu datang
Meraih tanganmu dalam gandengan
Berdendang menyusuri jalan setapak
Dalam keramaian penuh bahagia
Sesuai keinginan dan harapan
At the end

—————————–

ANTAR USIL DAN UNYIL
(Vikar)
 
Resah tersungging di bibir kalbU
Rangkaian kata pun menjadi kakU
Berbaur bisikan yang penuh rayU
Terkurung dalam hayalan semU
Putihnya niat seputih kertaS
Mudah menuai tatkala panaS
Terbakar sengatan api ibliS
Rentangkan kaki di luar gariS
Mendulang rasa di atas nilaI
Tiada kewburukan yang belum pastI
Tersimpan rapat di dalam hatI
Merenggut nyawa tiada bersenI
Kerasnya keinginan tidaklah labiL
Mudah hanyut terterpa badai kesaL
Imunisasi bukanlah kebaL
Mudah terinfeksi di saat gataL
Usil mencoba tiupkan debU
Bara terpendam kembali menggebU
Tuangkan air di atas tungkU
Nada resak kini terdengar syahdU
Gambramu terlukis tak beralaskan kanvaS
Serasa dekat sedekat deruan nafaS
Menderu-deru memanggil jelaS
Kembangkan bakat puas dengan buaS
Yang dijamah bukanlah mimpI
Malu berbuat kecilkan nyalI
Yang dipegang hanyalah janjI
Ragu melangkah kecebur kalI
Ramuan kopi yang terhidang begitu kentaL
Dekapan tubuh terasa kenyaL
Laksana terbuai di atas bantaL
Lupakan diri rusaki mentaL
Antara kau dan aku saling mengantar
Antara kau dan aku hanya kita yang rasa
Antara kau dan aku hanya mereka yang tau
Antara kau dan aku tidak akan ketahuan
Selingkuhi aku dalam selangkanganmU
Bujukmu pasti terdengar merdU
Ratapi takdir cepat berlalU
Serasa lemah remotkan waktU
You ‘re my maN
Fasih ucapmu membuatku dingiN
Terbaring laksana seorang pasieN
Bertarung hadapi Tanya di batiN
Open up n lick mine pls honeY
Over kau dan aku begitu crazY
Bergulat hari tak hiraukan bodY
Mengulang kembali sejarahmu babY
Datangnya sesal saat mengakhirI
Sadarkan diri telah dimilikI
Perasaan dosa telah terkebirI
Pintu maaf hanyalah sekalI
Usil berbuat karena unyiL
Usai tontonan ingin menjajaL
Usai bertobat kembali normaL
Usia mentok kan disambut ajaL

—————–

DOAKU

Vikar

Tuhanku yang Esa
Dulu hidupku sentosa
Mengapa kini jadi pendosa
Hanya karena ulah si nisa
Harus menanggung semua siksa
Tanpa menunggu hari periksa
Hancur lebur dalam binasa
Oleh AzabMu yang sangat luar biasa
Ya Rahmanu Ya Rahimu
Tenggelamkanlah aku dalam hidayahMu
Azablah aku dengan RahmatMu
Jatuhkan aku dalam lembah cintaMu
Rapuhkan aku dengan keagungan asmaMu
Jauhkanlah aku dari setiap murkaMu
Kembalikan aku dalam anugerah fitrahMu
Agar langkah selalu pada jalanMu
Tuhanku yang maha perkasa
Bukanlah aku mahluk berbisa
Mencuri hati agar leluasa
Mengumbar janji dalam sebuah sketsa
Yang slalu berakhir setiap mendapatkan mangsa
Namun inilah yang kubisa
Agar di hari esok atau lusa
Semua kan kembali seperti biasa

——————

AKU DAN SATU
Vikar
 
Aku satu yang menyatu
Aku ragu dan mendua
Aku satu ingin bersatu
Aku hantu berhias nol sejuta
Aku satu harapkan sesuatu
Aku debu terbalut riya
Aku satu lupakan yang Satu
Aku malu berlimang dosa
Aku satu dengan Yang Satu
Aku rindu pada yang Esa
Satukan aku dalam kesatuanMu
Duakan aku dengan cintaMu
Hantui aku dengan azabMu
Lupakan aku untuk tidak melupakanMu
Dan esakan aku dalam keesaanMU
Amin…
——————-
 
 
PANTASNYA RIYA
Vikar
 
Tuhanku…
Pantaskah aku takut kepadaMu
Sedang aku hanya takut azabMu
Pantaskah aku merayuMu
Sedang aku hanya mengincar pahalaMu
Pantaskah aku malu padaMu
Sedang aku hanya malu dicemooh
Pantaskah aku mengabdi padaMu
Sedang aku hanya terbuai janjiMu
Pantaskah aku mencintaiMU
Sedang aku naksir diriKu
Pantaskah aku menjadi kekasihMu
Sedang aku sering menduakanMu
Pantaskah aku berpaling dariMu
Sedang aku akan kembali padaMu
Pantaskah aku menjauh dariMu
Sedang aku selalu membutuhkanMu
Pantaskah aku bertanya padaMu
Sedang aku hanyalah budakMu
Pantaskah aku memohon maafMu
Sedang aku banyak meragukanMu
Astagfiruka yaa rabbiyal a’la bijami’il hamd
Laa syariika laka wa ilaykal ma’buud
Hanya Engkau yang Maha pantas dari dan atas segalanya
——————–
 
 
DEMI PALESTINA
Vikar
 
Aku lemah
Aku penakut
Apa yang dapat kusumbangkan?
Doa ?
Apa hanya dengan doa?
Puisi?
Apakah cukup dengan puisi?
Sungguh pelitnya diriku
Dzaalika min adh’afil imaan
Sementara aku sanggup
Harta?
Aku punya
Ilmu?
Saudara?
Ya Allah Ya Rabbi
Apakah aku saudara yang baik?
Apakah aku hambaMu yang beriman?
Teganya aku
Pelitnya aku
Yang hanya mampu membantu dengan doa
Maafkanlah aku hai saudaraku
Karena kusadar kini
Engkau membutuhkan lebih
Dalam meraih damaimu
——————
 
 
PALESTINA BANGKIT
Vikar
 
Palestin
Cukup sudah engkau diplorotin
Dengan janji yang slalu diplesetin
Kata damai kian dipolesin
Tak akan sembuh luka dipelesterin
Persetan dengan damai
Jika akan membawa kehancuran
Persetan dengan kehancuran
Jika akan mendatangkan kedamaain
Maju…!!!
Mengapa harus bertahan ?
Perangilah orang-orang yang telah memerangimu
Bangkitlah !!!
Kuburkanlah bangkai-bangkai hidup
Kami bersamamu
Dan Allah pasti bersama kita

————————-

GILA

Vikar

Aku gilaa…
Gila karena hadirmu…
Gila karena alpamu…
Gila karena ketidakberdayaanku…
Gila karena sombongku pendamkan rasa…
Gila karena kealpaanku sendiri…
Gila karena ternyata aku masih waras…
Waras untuk tidak menjadi orang gila
 
Aku benar-benar gila…
Gila oleh kegilaanmu…
Gila karena hadirmu…
Gila karena bodymu….
Gila karena kusadar kamu yang lebih gila…
Gila karena ternyata aku masih normal..
Normal untuk menjadi pria sejati
 
Ajaklah aku menjadi waras
Buatlah aku semakin normal
Layaknya Engkau dan aku
sebagai orang waras dan normal

———————

PASCA KONFLIK
 Vikar
 
Enaknya jadi mahasiswa
Pastinya banyak kawan dan lawan
Semua harus dijalani
Karna hidup adalah tantangan
Yang harus dihadapi
Dijalani dan dimaknai
Makna di balik makna
Sense di balik sensasi
 
Kusadar…..
Ternyata aku masih kurang ajar
Butuh banyak diajar
Harusnya sekalian dihajar
Biar semakin sadar
Agar hidup bermodal kepintaran
Berbau kelicikan berlogika
Agar tetap survive
Sebagai pria jelek yang intelek
 
Aku orang kecil
Bertubuh kecil
Ingin menjadi besar
Paling tidak menjadi guru besar
Paling iya jadi duta besar
Sebagai target dalam hidup
Yang harus kuraih
Semoga…dan semoga
Amien…
 
————————
 
 
TENSCA
Vikar
 
Bertemu kita di Pasca
Bersatu kita di Tensca
Berpisah kita di Lamacca
Berlinang mata bekaca-kaca
Karena hati bukanlah panca
Yang indranya hanya ada di Mecca
Teringat akan ibu Anca
Yang kutemui hanya Ibu Ribca
Ow Iraaa, mengapa miripko Ica
Padahal Ela dan Aliya tidak suka Merica
Misma & Nisba sukanya minum Coca
Sedangkan Ani, Tati dan Tami kaya pasukan Nica
Sukanya Anti dan Dewi nonton Barca
Biarpun tua bu Fahria tetap Mica
Masih sukaji itu Vivit berkaca
Hingga Prof Dj mengoles rica
Kalian bagaikan gadis Casablanca
Manami itu kelompok ular sanca?
Yang suka nonton filemnya Bianca
Apalagi Mido yang suka Agnes Monica
Kapan-kapan ketemuki lagi di Pasca
Jangki lupakanka nah ca
Biar adamako semua di America
I love u all Tensca
 
———————–
 
 
2 IN 1
Vikar
 
Hari ini menuai dosa
Hari ini diduai moza
Hari ini digodai mangsa
Hari ini perangai diperkosa
Hari ini naluri tersiksa
Hari ini hati nelangsa
Meski sesaat sentosa
Bangga seakan perkasa
Menghantar kemerdekaan bangsa
Namun selamanya jadi pendosa
Dua selimut tawarkan jasa
Hasrat hati seperti terpaksa
Menolakpun tiada kuasa
Si kecil semakin berbusa
Bagaikan musang berbulu rusa
Berubah menjadi raksasa
Mencoba untuk merasa
Pengalaman baru dalam karsa
Hati ini paksakan puasa
Rasa itu ingin tetap memangsa
Meski kutau itu racun berbisa
Yang akan membuatku binasa
Dalam percintaan semasa
Yang mungkin kan terbiasa
Ketika nafsu itu berbahasa
 
——————–
 
 
SOBAT
Vikar
 
Sahabat bukanlah kerabat
Sukanya hanya pejabat
Maunya menang
Kalahnya pasti perang
Tegurannya kadang specifik
Nasehatnya adalah munafik
Perangainya beda
Adatnya susah terbaca
Sobat…
Jangan suka membabat
Karena kita hanyalah classmate
Bukan untuk diskakmate
Mengapa harus berteman
Jika hatimu masih saja preman
Membuat hatiku bopeng
Sembunyi di balik topeng
Engkau egois
Gayamu terlalu borjois
Padahal aslinya kampungan
Di kampong tetap saja gelandangan
Lebih baik kita berpisah
Biar hati tak lagi resah
Selamat tinggal kawan
Semoga engkau menjadi ilmuwan
————————–
 
 
IN A YUNCHU 
Vikar
 
Suatu tanda tak terlupakan
Di antara hidung dan bibirmu
Kecil hitam mengembung
Warnai corak karaktermu
Indah namamu
Meninabobokkanku di sampingmu
Manis senyummu
Mengherankanku dalam lamunan
Terbayang wajahmu
Ketika duka itu terpajang
Sesuatu tlah menimpamu
Tatkala lama kumelupakanmu
Engkaulah adikku
Pantas Engkau menjadi adikku
Yang lama kuidamkan
Engkaulah sayangku
Yang slalu kuabaikan
Karna Engkau ingin sendiri
Berkarya penuh idealisme
Mencoba mambuktikan diri
Meraih impianmu dengan jerihmu
Di balik lembutmu ada ketegaran
Kuat mendukung sgala rencana
Lemahmu adalah kekuatan
Semua itu akan teraih
Doaku slalu untukmu
Meski jauh jarak dan batas
Dukunganku slalu untukmu
Keyakinanku pasti ada kesuksesanmu
————————–
 
 
SURAT AN-NISA
Vikar
 
Hitam bagaikan manggis
Isimu putih dan manis
Senyummu teramat feminis
Biarpun kau sinis
Dan ucapanmu terdengar sadis
Namun kau tetap kelihatan manis
Nis….
Sapaan sayangku padamu
Memintamu menunggu
Hanya untuk melihat secuil senyummu
Obat pelipur lara
Ketika tegang oleh tugas
Membuatku tenang dan konsen
Nis…
Kaulah adikku yang imut
Memberikan kedamaian
Yang tak mungkin kulupakan
Semoga Engkau tetap adikku
Wanita sempurna seperti namamu
I will miss u
———————
 
 
KARTIKA 2
Vikar
 
Berlabuh tanpa sauh
Terhempas oleh gelombang
Tegar hadapi tantangan
Tanpa nakoda yang mengemudi
Tangguh hadapi ombak
Tibalah Engkau di pelabuhanku
Berlabuh dengan setengah sauh
Terkaram di palung hati
Yang tak mungkin kuungkapkan
Demi menjaga keegoan
Yang terlanjur terlontarkan
Keterusterangan patut dihamparkan
Karena hasrat ini telah mengintip
Melalui jendela yang tersembunyi
Bertanya dan bertanya
Yakinkan sejatinya keinginan
Terkungkung antara sayang dan cinta
Sadar akan luasnya lautan
Berat muatan kapal masing-masing
Terlalu berat jangkar itu
Terkaram selamanya di hati
Karena pelabuhanmu telah ada
Bukan pada pelabuhanku
Hingga saatnya tiba merela
Perlayaranmu kan kembali
Berlabuh pada pelabuhan sesungguhnya
Hanya ciuman itu  yang kuberi
Tuk selalu mengenangmu
Dengan sayang yang tersisa
Yang pernah sesaat berlabuh di pelabuhanku
Kukan slalu merindukanmu
Walau dirimu sengaja melupakanku
Dan mengharamkanku tuk menelponmu
Namun kurasakan kedekatan itu
Selalu dan selalu ada
Thanks hon….
——————————–
 

MELINGKUH

Vikar

Selama denyut nadi berdetak
Engkau sejatinya cinta sejatiku
Lebih murni dibanding emas
Indah mengkristalkan hati dan hari
Namun aku bukanlah malaikat
Gampang terusik dalam kesendirian
Karena jarak mengasingkan hasrat
Untaian gelora mengeram rasa
Hamburkan rayu mencari mangsa
Sungguh aku tlah bersalah
Enggan menolak bisikan iblis
Lunturlah iman yang dulu terjaga
Ingin sekali malah jadinya berkali-kali
Namun apa yang kucari belum kudapati
Galau meratapi kegalauan tanpa sebab
Kuhancurankan kepercayaan yang diberikan
Untung sisa sisa harapan itu masih ada
Hingga kutau semua itu hanyalah dosa
Sudikah aku dimaafkan?
Emang tak pantas diriku dimaafkan
Lebih baik aku pergi
Insyafkan diri dengan bertobat
Niscaya harapan itu masih ada
Gubriskan hatimu tuk menerima
Keikhlasan dalam memaafkan
Untuk memulai hidup yang baru
Hingga ajal itu tiba di tapak kakimu

——————–

TERNYATA PARNO

Vikar

Kutau sense tatapanmu
Kutau makna ucapanmu
Namun tak kutahu isi hatimu
Meski katamu “itulah cintamu”
Ternyata….
Kutau berapa besar cinta dibalik BH-mu
Kutau berapa dalam cinta dibalik CD-mu
Namun tak kutahu luas cinta di hatimu
Meski katamu “itulah cintamu”
Ternyata…..
CINTAMU ADALAH ANUGERAH
Yang mampu membuat Anu-ku gerah
Tak kenal lelah dan jerah
Meski dipaksa menyerah
Ku tetap ANU-GERAH

———————–

SMOKER ADDICT

Vikar

Setiap tarik-isapan rokok di bibir
Engkau bagaikan bara di ujungnya
Nyalamu meredup suram dan berdebu
Bersama tusukan tajammu ke paru-paruku
Kepulan asap menghilang
Namun rasamu masih berbekas di sanubari
Saat fikiran menjadi tenang
Puluhan saat kemudian galau menghampiri
Cita cintamu tiada sense of belonging
Yang mampu membuatku kecanduan
Meski kuakui bahwa aku pecandu cinta
Namun semua itu tak kutemui darimu
Karena niatmu hanyalah kepulan asap
Pasti menghilang entah kemana
Kusadar engkau hanyalah tembakau
Yang belum mampu memarlborokan hatiku
Engkau hanyalah rokok
Temani lamunanku dalam kesendirian
Tatkala aku kehabisan marlboroku
Selamat tinggal asapku
Kutak mau mengidap batuk olehmu
Karena aku hanya pecinta Marlboro
Tak ada lain selain Marlboroku
Maafkan aku mencampakkanmu
Maafkan aku dengan maafmu
Semoga harimu kan selalau indah

———————–

PLAYBOY CAP KODOK

Vikar

Aku hanyalah playboy cap kodok
Yang suka memangsa kacang cap kelinci
Karna kutahu….
Kelinci suka memakan wortel
Kelinci suka silver queen
Kelinci suka kacang panjang
Dan kelinci lebih suka mentimun
Keinginan kelinci adalah kegemaranku
Meski kelinci suka berdusta
Demi mendapatkan keinginannya
Namun aku lebih pandai menipunya
Kutahu kelemahan kelinci
Keberikan kelebihanku menutupi kelemahannya
Hingga kelinci tak sadarkan diri
Dirinya telah dikeranjangi
Dirinya telah dibungkus plastik
Yang siap untuk disantap
Begitu banyak kelinci kukeranjangi
Banyak kelinci kutelanjangi
Dan banyak sudah kelinci yang ku-abonin
Semua itu telah menyadarkanku
Bahwa aku hanyalah kodok
Siap menerkam dan menelan
Tanpa tahu akibat dari yang tertelan
Telah berani memainkan banyak api
Dan pasti akan terbakar sendiri
Pasti akan kena batunya nanti
Sadarlah…sadarkan aku!!!
Aku telah terperangkap oleh perangkapku sendiri

———————–

RT – DORAEMON
 Vikar
 
Awalnya Doraemon
Akhirnya baling-baling bambu
Tengahnya dorongan
Buntutnya terjatuh
Ekornya di Ncc
Kepalanya seputar GS
Ujungnya ada di hati
Sejauh rasa menyelam
Setinggi pesawat terbang
Pendaratannya hanya ada di hati
Semua bukan teka teki
Berlalu penuh berjuta kesan
Tiada penghujung dan akhir
Hanya takdir hakim pemisah
Engkaulah RT
Karna ayahmu ketua RT
Membuatku terpaku di hatimu
Bagaikan pajangan dinding
Yang tak mungkin dipindahkan
Karena kutahu…
Hatiku rutan hatimu
Terpenjara penuh resiko
Meski rengekmu minta kebebasan
Sipir tak pernah menghiraukannya
Jalani masa tahananmu
Hingga tiba saatnya bebas
Bebas tanpa syarat
Dikenang sepanjang hayat
Seperti keinginan ketua RT
Dalam meraih kedamaiannya
 
————————
 

LAGI GILA CINTA

Vikar

Lagi-lagi cinta yang kutuliskan
Lagi-lagi cinta yang kurasakan
Lagi-lagi cinta yang kumainkan
Lagi-lagi cinta yang kukorbankan
Lagi-lagi aku jatuh cinta
Lagi-lagi aku gila karna cinta
Mengapa lagi dan lagi
Mengapa gila lagi gila lagi
Padahal aku jelas-jelas tak mau membagi
Cinta bukanlah berbagi
Karna cinta bukanlah zakat untuk dibagi
Cinta tak pantas di kali
Karna akan hanyut tak bertepi
Minus plus kadarnya cinta
Bila kurang ditambah lagi
Bila tambah akan menjadi gila lagi

——————————

BUAH TIEN

Vikar

Buah Zaitun buah Tien
Terbuai aku karena vitamien
Bukti agung bukit Tursina
Membuatku terus mencinta
Dalam keremangan terusan Suez
Rasa hati tak akan pernah mulez
Tinggi menjulang menara St. Caterien
Kau tetap sebagai vitamien
Fresh melebihi fresh tea
Hingga fasihku membuatku frustrasi
Mustahil kau kumiliki
Karena kutahu siapa pemilikmu
Aku menyatu denganya
Tak mampu menduakannya
Namun Engkau tetap buah Tien
Yang hadir di setiap scene
Menghias dinding kamar pengantien
Dengan beribu hiasan  di tangan
Berpanggul pinggul kehangatan
Hingga fajar datang menjemput
Mengendarai sinar kekristalan
Akhiri semua hayalan
Dalam bab kehidupan baru
Tanpa sampulan dan simpulan
Dan Engkaupun memahaminya
Bahwa aku hanyalah pasien
Yang masih membutuhkan vitamien
Hanya darimu…
 
————————————–
 
 
MESIR (EGYPT)
Vikar
 
Engkau ibu dunia tanpa abi
Lahirkan ulama tanpa asi
Ciptakan intelek tanpa imunisasi
Berkembang biakan tanpa kasih
Semua kini menjadi sangsi
Dalam kedewasaan penuh benci
Pertanyakan status sang abi
Goncangkan kedamaian tanpa hati
Oh… ibu pertiwi
Engkaulah ibu yang sejati
Tak pilih kasih dalam mengabdi
Tak kenal lelah mencari sesuap nasi
Lihatlah kini…
Kedewasaan anak-anakmu suci
Kepintaran mereka sering dipuji
Semua telah teruji
Tiba saat mereka membalas budi
Nyatanya kini…
Keangkuhan adalah kunci
Mudah terseret arus dengki
Perebutan warisan menjadi saksi
Kehancuran siap menanti
Usiamu semakin menjadi
Tiada daya untuk melerai
Namun janjimu itu pasti
Kelak mereka mampu mandiri
Selesaikan masalah mereka sendiri
Dalam ukhuwah penuh damai
Dan aman itu akan abadi
————————–
 
GEJALA ANEH
 Vikar
 
Risau hati bertanya
Gelisah hati menanti jawaban
Apakah yang tlah terjadi
Dan apa yang kelak terjadi
Apakah aku sakit
Adakah penyakit berbahaya
Hingga kadang jatuh tak sadarkan diri
Pingsan beberapa menit
Bagaikan mati sesaat
Nafasku sesak
Tatapan mataku berkunang-kunang
Sadar tubuhku berlimang susu
Sadar tubuhku berlinang kopi
Mungkin letih
Itulah jawaban menghibur
Agar harapan itu selalu ada
Mungkin penyakit
Itulah jawaban bijak
Agar kusadar peringatan itu
Mungkin tak lama lagi
Malaikat kan datang merenggut
Memaksa aku melepaskan
Dengan siksa sebelum disiksa
Atas segala kesalahanku
Cukuplah petualangan ini
Cukupkan dosa-dosa ini
Dengan kembali ke jalanMu
Melalui pintu tobatMu
————————
 
 
KORUPSI
Vikar
 
Korupsi itu…
Kata orang, puisi itu indah
Korupsi itu…
Kata orang, pria itu seksi
Korupsi itu…
Kata orang, perempuan itu suci
Korupsi itu…
Kata orang, posisi itu singgasana
Korupsi itu…
Kata orang, penjajah itu singa
Korupsi itu…
Kata orang, polisi itu sinis
Korupsi itu…
Kata orang, pejabat itu sinting
Korupsi itu…
Kata orang, pemimpin itu shalih
Korupsi itu…
Kata orang, pendeta itu sirik
Korupsi itu…
Kata orang, penceramah itu sufi
Korupsi itu…
Kata orang, pedagang itu sialan
Korupsi itu…
Kata orang, penjudi itu sial
Korupsi itu…
Kata orang, pezinah itu seks affair
Korupsi itu…
Kata orang, pelacur itu simpanan
Korupsi itu…
Kata orang, pencuri itu salah
Korupsi itu…
Kata orang, pendemo itu mencari sensasi
Korupsi itu…
Kata orang, pasien itu sekarat
Korupsi itu…
Kata orang, penipuan itu sakit
Korupsi itu…
Kata orang, penyuapan itu sekali-kali
Korupsi itu…
Kata orang, penyogokan itu stimulus
Korupsi itu…
Kata orang, pemakaman itu sunyi
Korupsi itu…
Kata orang, perangai itu sikap
Korupsi itu…
Kata orang, pedang itu iman
Korupsi itu…
Kata orang, pegangan itu sunni
Korupsi itu…
Kata orang, pemaaf itu simpati
Korupsi itu…
Kotoran upah sisa
Korupsi itu korban singgasana
Korupsi itu korban posisi
Korupsi itu korban upah sedikit
Korupsi itu korban upaya stimulasi
Korupsi itu korban usaha sambilan
Korupsi itu korban urusan si bos
Korupsi itu korban uang stimulus
Korupsi itu korban penggerebekan polisi
Korupsi itu korban pengguna sisa anggaran
Korupsi itu korban peliharaan simpanan
Korupsi itu korban pencitraan sikap
Korupsi itu korban perusak system
Ketika terjepit dipaksa korupsi
Ketika kontradik difitnah kolusi
Ketika berada dalam satu system
Ketika itu pula terinfeksi korupsi
Sekarang lantang berkoar
Besok lusa tubuh berkalori
Sekarang lantang menentang
Besok lusa Andapun ditendang
Sebagai korban korupsi tanpa korupsi
 —————————-
 
 
ENGAGING
Vikar
 
Those feelings were small like an ant
Spreading as a root plant
Occupying multiplicity intentions
Might not be described the whole
Till we fell into the hole
Pinned under a hazy relationship
Biased in a partnership
Running after pseudo imagination
To fu*k off the wild world
Instead the desired locked up
Pursue uncertainty wedlock
Facing many deadlock
Up to the saturation
We were small
Like a small insect
Lived behind colonies
Seeking for some supplies
To resist in a drizzling rain
We were blind
Reach out permanent hope
Dancing on other painfulness
No way back and forth
 Played game without end
Only buried inside reality
Like complicated crossword puzzle
Fulfill the feeling without answer
What we did beyond the limits
What we expected more than needed
All acts were left over
This kind love was so overlaps
Among lover, sister and daughter
Colored the sky of my heart
Sometime it turned to blue
And sometimes it turned to black
The white one was hidden
Behind the sexual drive and passion
Coz everything’s burned when we met
You loved me more than I have
Hand over what you have
Forget sentence before and death sentence
Break the law to a lower class
It happened simply
Easy to recognize
Ticklish to request forgiveness
This love was an assassin
There must be solution
Toward both of our goodness
Albeit it was difficult
Have to face and accept it
Let it flow like a water
Thus no one hurt
Before too late
Definitely convoluted and disordered
No use to ask your forgiveness
Coz we were already voluntary
Swimming on a sin
That can’t be avoided
Stored in our brain
Recorded by an angel
Waiting for payback
In the doomsday
 —————————-
 
 
NON ACTIVE
Vikar
 
Semua terjadi tanpa sengaja
Ketika rasa tak lagi bersahaja
Tubuhpun tak lagi sekuat baja
Berlalu di usia senja
Ketika hati ingin dimanja
Lemahku tiada sempat dipuja
Sadar diri bukanlah raja
Telanjang tanpa kemeja
Keinginanpun terjepit oleh meja
Tugas tak dapat dikerja
Ketika hatimu dilanda durja
Haruskah dibiarkan begitu saja
Sedangkan kata tetap mengeja
Semua terjadi tanpa diduga
Ketika HP tak lagi terjaga
Sinyalpun hilang dari raga
Lenyap tertelan oleh mega
Pitam kelam berwarna jingga
Meraung bagaikan singa
Menyembur seperti naga
Menusuk sukma di dalam rongga
Asam dan kecut bagaikan mangga
Namun kutetap saja bangga
Karena cintamu masih berbunga
Bergema merdu di telinga
Mengalir indah di sungai gangga
Kembali bertepi di dermaga
HP ini non-active
Bukannya rasa terdestructive
Karena ingatan terus berimajinative
Hati ini tidaklah passive
Karna Engkau selalu attractive
Cintamu kekal terconstructive
 ————————–
 
 
JENUH
Vikar
 
Hati ini lebih berhati-hati
Mudah terbolak-balik
Mondar-mandir bagaikan setrika
Telat sedikit hangus
Gosong bercampur kesal
Tertutupi hitam bekas terbakar
Gelap dan semain menjadi angker
Seakan penunggu itu berpesta
Menari di setiap sela kamarku
Menggelitik setiap tubuhku
Mengganggu hari-hari
Tiada mampu berkonsentrasi
Hingga bosan datang memanggil
Semua harapan dan impian lenyap seketika
Harapkan sesuatu datang mengusik
Namun kebrisikan semakin nyaring
Gendang telinga terasa bergema
Alaram tanda bencana alam
Bersiaplah untuk mengungsi
Hati itu telah mencair
Tiada bekas yang mengesankan
Cinta pamit tanpa kompromi
Karena manis menjadi pahit
Cinta itu hanyalah keinginan sesaat
Sesaat senang sesaat melayang
Beribu saat kesal, saat itupun menyesal
Mengapa semua ini dijalani
Sedangkan semua jalan terkunci
Mengapa masih dipertahankan
Sedangkan polisi-polisi di hati telah cuti
Namun itulah harapan
Tak mungkin tercapai 100 persen
Jika tercapai maka bukanlah harapan
Berhentilah berharap
Selagi mimpi dan cita menanti
Semoga impian kan jadi nyata
Berhentilah bersungut
Karna kejenuhan hanyalah rasa
Yang timbul karena harapan
Dan hilang bersama impian
Berubah menjadi hantu
Selalu menghantuiku
Paksakan sesuatu dalam permintaan
Hingga bosan melihatmu
Engkaulah sejatinya hantu
Maafkan bila aku bosan diganggu
Maafkan bila kau kutinggalkan
Putus segera diputuskan
Semoga harapan itu masih ada
Meski kejenuhan merongrong kamarku
Semangat!!!
 
————————————
 
 
MA’ NIS
Vikar
 
Setengah galau kubahagia
Seperempat sadar terperanjat gembira
Jam dinding terpaku setengah empat
Jantung terasa ingin melompat
Ketika ma’ Nis menelfon
Jemuran itu hilang di balkon
Teringat jemuran Yunchu yang hilang
Kerumunan rindu berdemo girang
Terganti orasi adikku yang manis
Hingga hati tak lagi gerimis
Keadaannya baik-baik saja
Tenangku semakin bersahaja
Meski Yunchu tak ada berita
Doaku agar Ia bahagia
Dua wanita yang kupuja
Dalam ingatan sperti kamboja
Menuai ketika lahanku gersang
Sirami hati tak lagi bimbang
Ku ‘kan tetap menjadi kakak
Meski usia t’lah mendekati kakek
Doaku untuk mereka berdua
Semoga selalu gembira dan bahagia
 
————————–
 
 
STOP ILLEGAL LOVING
Vikar
 
Lelah sudah…
Langkah ini menapak ion dosa
Letih sudah…
Tangan ini menebar butiran dosa
Lemah sudah…
Kalkulator ini menghitung total dosa
Lesu sudah…
Mata ini menatap kembali sisa dosa
Lunglai sudah…
Sensor ini menebang pohon dosa
Stopppp….!!!!
Stop illegal loving
Sebelum burung tak mampu kencing
Biarkan rasa itu terkancing
Karena hati bukanlah pancing
Datang dan pergi melalui samping
Hilang  seketika disantap kucing
Stopppp….!!!!
Stop illegal loving
Meski surat ter- acc bupati
Stop illegal loving
Meski rasa ter-acc simpati
Stop illegal loving
Sebelum RT ter-acc tsunami
Sadarilah… dan sadarkan diri
Ketika rasa itu ereksi
Bendungan cinta mengalami erosi
Meski hati telah direformasi
Namun dosa tak dapat dikompromi
Bosan sudah…
Mulut ini mengumbar dusta
Bosan sudah…
Tangan ini mengidap kusta
Bosan sudah…
Tubuh ini bertatokan nista
Bosan sudah…
Otak ini terbius rasta
Bosan sudah…
Ranjang ini dijadikan pesta
Meski cinta tak bermuara
Rasa itu tak boleh dipelihara
Biarkan kujadi biara
Akhiri semua sandiwara
Hindari kuil dari prahara
Sebelum tobat tak mampu bicara
Maaf tak lagi bersuara
Ketika maut datang mewawancara
STOP….!!!!
STOP ILLEGAL LOVING
 ————————-
 
 
KEAYUAN YANG TERPENDAM
(Vikar)
 YANG TERPENDAM YANG TERPENDAM YANG TERPENDAM YANG TERPENDAM
 
Dunia terus berputar
Roda takdir kian bergulir
Irama kehidupan slalu berubah
Tak ada yang statis
Karena manusia tidak otomatis
Tak ada yang istiqamah
Karena setiap perputaran ….
Pasti ada sedikit perubahan
 
Ketika ingin memulai…
Terbesit niat ingin mengakhiri
Ketika niat ingin mengakhiri…
Hadirmu memintaku tuk memulai
Masa lalu itu kembali bergema
Asa yang dulu hampir redup
Kini bersinar terangi hari
Rasa yang lama terpendam
Terbalut gelapnya dinding hati
Kini berpelangi di musim semi
 
Meski status terswitch off
Vibrasi itu keras getarkan dada
Kusadar, Engkau yang pertama dan terakhir
Yang ‘kan hadir at the end of shows
 
Cinta Terpendam Mengamuk Lagi…
Lagu Lama Terrilis Lagi…
Kisah Lama didongengkan Lagi…
Cinta Lama Bersemi Kembali…
Cinta pertama hadir tuk mengulangi…
 
Tersiksa jika disimpan
Membusuk jika tak mengalir
Karna gumpalan itu terlalu besar
Menutup rongga nafas tuk berbicara
Hingga penyakit itu bertahun kuidap
Vonis dokter…
Aku asma karena cintamu
 
Harusnya rasa itu tlah lama terkubur
Agar tak ada lagi reinkarnasi
Harusnya rasa itu tetap dipendam
Agar tak ada lagi remunerasi hati
Harusnya kita tak lagi bertemu
Agar hati tak lagi berrevolusi
Harusnya tak ada lagi kenangan
Agar rasa itu tak lagi berefolusi
Biarkan ia tetap menjadi ilusi
Karena semua ini tak ‘kan ada solusi
 
Karena pasti…
Kebisuan itu tetap ada
Tergembok kepastian tersembunyi
Hanya rasa yang mampu berdendang
Mengukir tembok hati
Yang dapat dirasa jika Engkau merasa
Jika tidak…..???
Hmm……
 
Biarkan cinta itu tetap kupendam
Biarkan rasa itu tetap kurendam
Biarkan semua ini terlarut dalam genggam
Hingga akhirnya basah, bau dan koyak
Karena semua telah berubah
Dan semua harus diubah
Asalkan Engkau statis berbahagia
Ku ‘kan tetap bahagia
Doaku slalu untukmu…Amien!!

THANK U

——————-
 
 
STRUGGLE
(Vikar)
 
Oh masalah…
Salahkah aku bila bermasalah
Padahal Engkaulah yang salah
Tudingkan aku dengan berjuta salah
Sedangkan aku hanya bisa mengalah
Engkau mengamuk penuh amarah
Hati ini menunduk tabah
Penuh luka begitu parah
Namun masih saja mengalah
Karena kutau Engkau pemarah
Tak kan terima saran dan syarah
Kutukanmu penuh serapah
Padahal aku bukanlah sampah
Bicaramu naikkan darah
Sikap ini tetap saja peramah
Oh masalah….
Haruskah aku marah
Ketika berani kau semprotkan nanah
Begitu panas bagaikan timah
Membakar kulit yang tak pernah basah
Membuat rasa semakin gundah
Hingga harapan itu punah
Engkau datang mencari celah
Engkau datang gelapkan arah
Engkau buat wajahku merah
Engkau rampas hidupku sudah
Semua itu tak bisa dijumlah
Oh masalah…
Tak bosannya kau datang berziarah
Mondar-mandir tak bawa hadiah
Padahal kata orang Engkau bertuah
Tak pernah menerima upah
Hanya datang menggoda dan menjamah
Namun kadang hidupku kau jarah
Oh masalah…
Cukuplah sudah
Cukuplah aku mengalah
Dan tak mau lagi menyerah
Meski salah ku tak mau lagi mengalah
Karena kutau engkaulah masalah
Yang membuatku salah
Menyalahkan diri dalam salah
Padahal Engkaulah yang bersalah
 ———————————-
 
 
KU HARUS PERGI
(Vikar)
 
Jauh sudah…
Jauh sudah kaki melangkah
Berat…
Berat beban ini kurasa
Membawa bekal di dada
Cinta yang kupanggul
Rasa yang kugendong
Buntalan hati yang kutenteng
Harapan yang kukuda
Kini berat kurasa
Semakin dekat tujuan
Semakin sesak di dada
Asma kini sahabatku
Pernah kubayangkan
Dan sempat terfikir
Setelah berbagi beban itu
Hati ini terasa lega
Sebagian telah Engkau ambil
Paling tidak telah berbagi
Namun ternyata ‘Tidak’
Hati semakin terbebani
Rasa kian memberontak
Hampa slalu tanpamu
Resah tanpa kehadiranmu
Setelah fakta kutemui
Rasa ini semakin gila
Dada ini semakin sesak
Niat itu semakin bejat
Haruskah aku…?
Bodohnya aku…?
Dalam galau terus salahkan diri
Penuh sesal robohkan diri
Hanya bisa memaki diri
Terus saja mencaci diri
Benturkan kepala sendiri
Karena begitu berat…
Berat semua kurasa
Gelap arah yang kupandang
Haruskah aku membunuh bapak anakmu
Gilaaa…
Fikiran ini memang gila
Tak waras hati berbicara
Tak sedap bibir berucap
Lebih baik aku menghilang
Maafkan ku harus pergi
Maafkan segala salahku
Maafkan aku mendeletemu
Serta orang-orang dekatmu
Demi kebaikan kita berdua
Biarkan aku pergi
Mencoba tenangkan diri
Hingga tenang itu tiba
Kelak aku kembali
Jagalah dirimu
Ku ‘kan slalu mencintaimu
Walau hati ini koyak
Namun Engkau tetap cintaku

 ——————————-

MAAFKAN AKU
(Vikar)
 
Alpa dalam kehilafan
Yakin penuh penyesalan
Ulah siasat kebodohan
Takdir ini pun disalahkan
Janji mulai terabaikan
Emosi jiwa tiada tertahan
 
Aku salah mengambil keputusan
Yahudi tertawa penuh kepuasan
Untung nomor masih tersimpan
Tuk mengetuk pintu permohonan
Jendela hati merajuk tangisan
Endapkan maaf penuh keikhlasan
 
Andai tiada kebersamaan
Yang ada hanya kegilaan
Usil ajukan gagasan
Tenggelamkan diri dalam lautan
Jahat mengambil tindakan
Enggan meminta pertimbangan
 
Ada apa gerangan
Yang kuperoleh kegelapan
Usia tlah mengalami penuaan
Tabur benih-benih permusuhan
Jelas aku telah kerasukan
Emang dasar aku kesetanan
 
Apa yang aku inginkan
Yayu selalu saja berikan
Untung masih ada harapan
Terus berbagi kebahagiaan
Jangankan melalui BBMan
Emailpun masih dipersilahkan
 
Anggaplah aku keliru
Yang siap untuk ditinju
Urusan hati selalu kutuju
Tuliskan semua rasa tentangmu
Jewerlah kupingku ini
Enyahkanlah sgala kebodohanku
 
Aku hanya bisa memohon
Yang berhak hanyalah kamu
Untuk memberiku kesempatan
Temani hari dalam kesendirian
Jalani hidup ini bersamamu
Ending penuh kebahagiaan
 
Azan isya telah memanggil
Yang kuingat hanya salahku
Upaya untuk perbaiki diri
Telfon meminta sudisediamu
Jadikan aku kekasih hatimu
Eratkan ikatan itu tuk selamanya
 
Sengaja kuukir namamu
Saat sesal datang memanggil
Sejenak cinta terpause kaku
Selama maaf belum bergulir
 
Aku salah dalam mengira
Aku bodoh tiada terkira
Aku kalah ketika bertahan
Aku bertahan ketika kalah
 
Inilah aku datang meminta
Indahnya maaf dari yang dicinta
Inilah aku datang memohon
Iklasnya cinta tuk dimaafkan
 
Demi keutuhan yang belum utuh
Dalam harap kupinta izinmu
Damaikan rasa di telapakmu
Demi memaafkan keakuanku
 
Nada ini hanya untukmu
Nama Yuku adalah jiwaku
Nadi ini tak berkutik tanpamu
Nazar ini kan kusimpan selalu
 
Akan kujaga rasa ini
Asalkan Engkau mengizinkanku
Agar aksi tak lagi salah
Akhiri cerita penuh bahagia
 
————————-
 
 
TAK INGIN
Vikar
 
Tak ingin menggaggu ketika menunggu
Tak ingin merayu ketika dirimu meraju
Tak ingin berlabuh jika ombak menderu
Tak ingin menaruh jika pinta tanpa restu
Tak ingin berguru meski adanya di surau
Tak ingin bergurau meski rasa itu kacau
Tak ingin memandu pabila rasa membeku
Tak ingin berpangku pabila tangan di dagu
Tak ingin menggerutu walau hati cemburu
Tak ingin menjamu walau rasa ini bertalu
Tak ingin berburu saat bibir tak bergincu
Tak ingin bertemu saat mata mulai sayu
Tak ingin menunggu ketika itu mengganggu
Tak ingin meraju ketika semua hanya rayu
Tak ingin menderu jika sauh kan berlabu
Tak ingin restu jika pinta sekedar ditaru
Tak ingin menyurau meski sekedar berguru
Tak ingin mengacau meski sekedar bergurau
Tak ingin membeku pabila arah terpandu
Tak ingin mendagu pabila rasa itu berpangku
Tak ingin cemburu walau hati menggerutu
Tak ingin bertalu walau hidangan terjamu
Tak ingin bergincu saat langkahmu terburu
Tak ingin sayu saat pandangan mata bertemu
 
Tak ingin menyeru ketika resah menghalau
Tak ingin mengadu ketika hasrat ini galau
Tak ingin memadu jika keberadaan terpadu
Tak ingin meramu jika takaran telah baku
Tak ingin menyusu meski kadang belagu
Tak ingin berkilau meski cinta menjadi pilu
Tak ingin melagu pabila nada terdengar merdu
Tak ingin melaju pabila kaki semakin kaku
Tak ingin menuju walau arah pasti tertuju
Tak ingin merindu walau rasa ini kan jemu
Tak ingin berabu saat paras tertimpa debu
Tak ingin berparau saat suara mulai layu
Tak ingin menghalau ketika rasa menyeru
Tak ingin galau ketika hasrat ini mengadu
Tak ingin terpadu jika keberadaan itu memadu
Tak ingin bahan baku jika pintar tuk meramu
Tak ingin belagu meski kembali lagi menyusu
Tak ingin pilu meski cinta tak lagi berkilau
Tak ingin merdumu pabila suaramu melagu
Tak ingin kaku pabila kaki lincah melaju
Tak ingin tertuju walau arahanmu pasti tertuju
Tak ingin jemu walau rasa ini slalu merindu
Tak ingin berdebu saat harapan itu berabu
Tak ingin layu saat pintamu lemas dan parau
Tak ingin alpamu ketika hati ini memanggilmu
Tak ingin memanggilmu ketika sadar itu alpamu
Tak ingin hadirmu saat keinginan itu meragu
Tak ingin meragu saat menginginkan hadirmu
Tak ingin melayu walau seram terlihat kemayu
Tak ingin kemayu walau senyummu tetap ayu
 ——————————-
 
 
SUARA SUMBANG
Vikar
 
Sumbang tandukmu sumbangkan tanya
Senyum sapamu siapa yang terima
Lembut tuturmu lentur lemburkan asa
Labil tawamu tak labil ketika tertawa
Bahagia katamu tapat bahagiakan dada
Bahagian akhir pesanmu satu terbagi dua
Jawaban singkatmu jawabkan kata tanya
Jaringan sosialmu terjaring triad keluarga
Kata manis kini tinggal sasa pelaris rasa
Karang terjal menjajal obral karangan baja
Sibuk akalku menerawang jauh ke angkasa
Sabuk harimu terlucuti paksa oleh prahara
Kental panggilmu tak lagi biasa bersahaja
Keram langkah pasti karam di samudera
Beku hatimu cairkan salju para dewata
Bekuk diri kepincut rasa hati terpenjara
Dunia dalam berita di tvri telah lama tiada
Duka dalam derita selamanya tetap tersisa
Warna pagi buta membiru di kelopak mata
Wangi kasturi harum semerbak antara rongga
Mawar melati melayu-layu di taman eden dunia
Mawas hati kaku menanam ganja di kolombia
Pintamu dulu mendahului pita pelantikan raja
Pintu kebahagiaanmu kembali seperti sedia kala
Canda itu pasti jelas memberikan suatu makna
Candi prasasti sebagai tanda peradaban purba kala
Nama indahmu tertato kekal di tembok asmara
Namun mengapa tembok asrama auri yang kuasa
Obrolan malam tak lagi kunjung kabar berita
Obralan penggalan kata tak mungkin dicerita
Tiada maumu yang tak mungkin diterima
Tiap saat langkahmu jauh melanglang buana
Usia manusia memanusiakan segala raga
Usai lansia pasti tak usah lagi berolahraga
Kapasitas diri tak mampu berkipas neraca
Kepastian nanti tak ada yang bisa menduga
Biarkan laminan itu berlayar tanpa bahtera
Berikan lamunan itu tahta tanpa mahkota
Semua kembali padamu seperti semula
Semula engkau kembalikan maunya semua
—————————–
 
 
PUPUS
Vikar
 
Aku bukanlah lupus
Pengidap penyakit tipus
Bukan pula homo erectus
Pelestari alam imaji kaktus
Dan bukan juga kakus
Menelan apa saja bagai paus
Karna aku masih miliki focus
Yang mesti selalu serius
 
Aku bukanlah dewa Zeus
Bukan pula seperti Darius
Yang punya daya radius
Mendorongmu terjerumus
Hanyut terbawa arus
Yang timbul bagai kardus
Terbukukan di dalam kamus
Dan disimpan di perpus kampus
 
Aku bukanlah virus
Bukan pula kapur barus
Yang membuatmu diinfus
Lantaran tertelan gabus
Hingga tubuhmu begitu kurus
Hasrat bukan tubuhmu mulus
Namun semua dapat berjalan terus
Meski tak pernah diurus
 
Meski aku memang rakus
Doyan mengunyah asparagus
Apalagi di bulan Agustus
Sudah menjadi tradisi siklus
Karena engaku adalah venus
Slalu kompromi dengan minus
Kembalimu hanya ke firdaus
Karena itulah jalan yang lurus
 
Aku hanya seorang alumnus
Kadang penilaianmu padaku bagus
Karena semua itu memang harus
Bukan sekedar suatu jurus
Yang slalu dikenang terus
Karena semua itu telah pupus
Biarlah tubuh ini menjadi kurus
Biarkan focus ini slalu diinfus
Biarlah rasa itu hangus
Biarkan bara itu mampus
Biarlah semua itu pupus
——————————

 

SENDIRI DI BANK MANDIRI
Vikar
 
Andaikan kesendirian itu bisa sendiri
Tak perlu repot antri di bank mandiri
Andaikan pendirian itu bisa berdiri
Tak perlu melamun dan duduk sendiri
Andaikan aku mampu berdiri sendiri
Tentu ‘kan kupilih untuk tetap mandiri
Andaikan waktu terbuang di bank mandiri
Tentu ‘kan kupilih untuk tetap sendiri
 
Aku butuh kesendirian dalam sendiri
Menyendiri merenungi bekas tapak diri
Yang lama tlah hilang label harga diri
Usang termakan akar serabut jati diri
Hingga keinginan itu memaksa berdiri
Di sini pantasnya aku memosisikan diri
Di sini harusnya berdikari dan mandiri
Walau kesendirian ‘kan menyiksa diri
 
Izinkan aku sendiri
Biarkan aku menyendiri
Perkenankan aku perbaiki diri
Jauhkan aku dari penyiksaan diri
Biar tak ada lagi pembunuhan diri
Hingga saatnya aku dapat berdiri
Terbebas dari segala kesombongan diri
Sendiri penuh mandiri
 
Andaikan kesendirianku duri bagi diri
Biarkan aku yang mengangkatnya sendiri
Andaikan kemandirian membuatmu sendiri
Biarkan kemuliaan itu pelihara harga diri
Andaikan semua hayal itu kembali berdiri
Biarkan semua angan itu terbunuh sendiri
Andaikan sikap ini terlalu jauh dari jati diri
Biarkan maafku menyalahkan diri sendiri

——————————-

WARNA-WARNI
Vikar
 
Merah lambang keberanian
Merah padam wajah itu
Merah muda pesonamu
Merahmu itu kemaluemosian
Merah ini menakutkanku
Merahku semakin mengerikan
Merah ini membuatku merah
Merah itu semakin merah
Merah yang tak pernah diduga
Memerah tanpa sebab
Merah gincu memerahkan asa
Merah lambang ketakutan
Merah lambang kematian
Merah itu kan menjadi kain putih
Putih kan selalu suci
Putih dan halus seperti kapas
Putih hasrat tanpa noda
Putih slalu dalam kelembutan
Putih niatmu merasa
Putih tulangku mulai rapuh
Putih pintamu berbisik
Putih rambutku terwarnai
Putih pintaku beranjak
Putih harapmu kelam
Hitam itu harus kugenggam
Hitam pitammu meraung
Hitam tindakku tertunduk
Hitam hasil karyaku tercoreng
Hitam kesucianmu olehku
Hitam warna hatiku bagai kopi
Hitam tatapmu tak berkedip
Hitam ragaku yang engkau damba
Hitam raut wajahmu aibku
Hitam kelam harus berakhir
Hitam itu kian menghitamkan hari
Hitam legam memar membiru
Biru hatimu dengan hitamku
Biru laut asmaramu oleh tinta
Biru tatapmu memburu angan
Biru hasratmu oleh cintaku
Biru rasamu tak berkesudahan
Birukan aku dengan kebiruanmu
Biru itu biarlah menjadi merah
Merah yang slalu menakutkanku
Merah yang mematikan
Memerahpadamkan wajah ini
Merah karena mimisan
Merah karena merahnya urin
Merah sebagai hantu merah
Merah karna mungkin ulahku
Merah yang kan menghabisiku
Merah itu kan mewarnai hidup
Merah itu merah pendammu
Merah itu merah padammu
Merahmu itu merah padaku
Merahmu itu tersimpan selalu
Merah yang telah menghitamkan
Merah yang telah membirukan
Merah-putih niatmu
Merah karena hitam biru warnaku
—————————–

 

BIARLAH BERLALU
Vikar
 
Kutau kumenyakitimu
Kusadar kumenghianatinya
Antara aku, engaku dan dia
Harusnya tak ada kamu
Adanya aku karena adanya
Adanya kamu karena ketiadaannya
Mestinya dia di sampingku
Namun engkau ada di dekatku
Patutnya dia yang menemaniku
Bukan engkau menjagaku
Semua itu memang salahku
Yang tak mampu berbagi
Berani mengambil resiko
Bermain di anatara ples dan mines
Yang belum pasti sama dengannya
Berkali mencoba mengali
Hasilnyapun kan hanyut di kali
Keegoanku dalam bertindak
Kekecewaanmu patut diterima
Biarlah kebencianmu kusimpan
Sebagai tanda mata darimu
Meski rasa itu ada
Namun semua menahan dada
Biarlah cerita itu berlalu
Biarlah kan kusimpan selalu
Karna rasa seperti bolu
Namun kini t’lah berlalu
Di antara belahan hati bertalu
Kini kan menjadi masa lalu
Yang terus dikenang selalu
Meski belum tiba saat pemilu
Putusan takdir ada di deplu
Biarlah asa itu menjadi benalu
Meluka dan terluka oleh sulu
Pahit getir bukanlah pilu
Sebelum semua berakibat malu
Kutau murkamu padaku slalu
Tudinganmu menyisakan pilu
Wajar karena dirimu pemalu
Sesuatu darimu kan kuingat slalu
Rasa itu tetap berasa bolu
Ku kan ada untukmu slalu
Meski masa itu tlah berlalu
Kebahagianmu kudoakan slalu
—————————–
 
 
BANGUNKAN MIMPI
Vikar
 
Ketika mata ini terpejam
Sesaat hati mulai terkekang
Perasaan ini semakin tak keruan
Otak semakin tak masuk di akal
Bertanya meminta jawaban
Pikiran selalu saja menginterupsi
Berharap adanya kepastian
Nalar ini selalu saja berdalih
Perang otak dan hati berkecamuk
Tiada kesimpulan dan kedamaian
Tersampul erat dengan simpul mati
Tiada pangkal dan ujung
Tumpang tindih nomenon-fenomenon
Mengalah pasti keterpaksaan
Kepasrahan hanyalah hasil
Semua itu ‘kan menjadi harapan
Yang maybe not maybe yes
Di penghunjung akhir cerita
 
Ketika tubuh ini tergulai
Semangat datang menghampiri diri
Bangkit adalah suara yang terdengar
Kata Sadar semakin keras menggertak
Paksakan diri meraih tujuan
Yang tlah diniatkan ketika melangkah
Cita awal bukanlah angan
Yang terlupakan di saat alpa
Mungkin hasrat itu mulai melemah
Namun bukan alasan tuk diabaikan
Karena keabaian tak selamanya abadi
Sesaat datang menggoda
Merayu dan pergi berlalu
Ketika semua itu tak digubriskan
Diamlah dan jangan terpancing
Karna umpan itu kan menjerat
Pikun pasti kan menyerang
Berantakan hasil yang diperoleh
 
Ketika otak ini terbangun
Spontan mata ini terbelalak
Begitu banyak paku dan duri
Ciutkan nyali dalam beraksi
Langkah tertahan ragu tuk maju
Mundur hanyalah pembedohan diri
Bertahan adalah upaya dalam meraih
Sungguh proses ini hanyalah rel
Yang pasti akan ada akhir
Bahagia atau tidak itu cuma rasa
Siap diterima tatkala diraih
Selama arus itu tidak dilawan
Kebahagiaan kan menjadi piala
Dan kesuksesan itu harga mati
 ———————————-
 
TERIMA KASIH
Vikar
 
Kau yang membuatku berhenti
Berhenti bercanda dan bermain
Bermain api di dalam kamar
Kamar bergas mudah terbakar
Terbakar kapok sulit tuk padam
Padam keinginan untuk merasa
Merasa kehangatan di dalam dosa
Dosa besar yang tiada maaf
Maafkan aku ketiak meminta
Meminta itu lagi dan lagi
Lagi lagi derita itu terukir
Terukir indah pahit itulah rasa
Rasa terjambak ketika tercampak
Tercampak itu hanyalah perasaan
perasaan kecewa yang mungkin ada
Ada sesuatu di balik ini semua
Semua itu demi kebaikan kamu
Kamu yang telah menyadarkan aku
Aku yang tlah lama lupa diri
Diri ini tak pantas untukmu
Untukmu segala kebaikan
Kebaikan itu adalah kebahagiaan
Kebahagiaan yang engkau harapkan
Harapkan seorang pangeran berkuda
Berkuda membawa semua impianmu
Impianmu sejak kecil di setiap mimpi
Mimpi yang kelak menjadi nyata
Nyata engkau dapatkan dalam duniamu
Duniamu yang sulit aku ciptakan
Ciptakan kehangatan dalam mendua
Mendua yang tak mungkin menyatu
Menyatu dalam ikatan yang suci
Suci seperti dirimu semula
Semula engkau begitu adanya
Adanya dirimu bukan untukku
Untukku hanyalah banyangmu
Bayangmu kan slalu menyertai
Menyertai setiap kata terucap
Terucap ketika engkau meminta
Memintaku menjauh dari hal itu
Itulah pintamu padaku slalu
Slalu kuingat di setiap waktu
Waktu yang tlah kita lalui bersama
Bersama berbagi untuk terima
Terima kasih selalu untukmu
Untumu selalu ku kasihi
Kasihi sebelum semua terlambat
Terlambat tobat masuk neraka
Neraka yang selalu engkau bicarakan
Bicarakan untuk senantiasa kujauhi
Jauhi segala keburukan dulu
Dulu yang engkau takutkan dariku
Dariku semua ulah dan cerita
Cerita yang pasti terjaga
Terjaga ketika pulas bermimpi
Bermimpi tentang diriku yang pergi
Pergi dan jauh meninggalkanmu
Meninggalkanmu untukmu tenang
Tenang jalani hidup
Hidup yang normal seperti niatmu
Niatmu yang suci menyadarkan aku
Aku sadar dengan adamu
Adamu pasti kan kukenang
Kukenang dari semua tulisanmu
Tulisanmu tentang kepedihanmu
Kepedihanmu karena ulahku
Ulahku sembrono menyakitkan
Menyakitkan rasamu ketika tenang
Tenang dekat di sisiku
Di sisiku semua engkau dapatkan
Dapatkan semua macam kasih
Kasih yang ingin engkau terima
Terima kasih tulus dariku
Dariku ku sangat berterima kasih
 
—————–
 
 
PENYESALAN
By : Thie Kim
Thie Kim Thie Kim1 Thie Kim2
 
Kucoba menilik tabir itu, tabir yang mengisahkan kita
Kisah yang berderai senyuman dan tangisan kita
Senyuman yang hanya kita menggilainya
Tangisan yang hanya kita meresapinya
Hanya kita yang merasa segala gelora misteri itu
 
Di balik bilik itu, kita selalu bergelayut indera
Merasakan segala saripati cinta kita
Hanya kita yang menyadari lenyapnya akal itu
Hanya kita yang merasakan debaran kalbu itu
Sungguh aku telah jatuh dalam kemesraanmu
 
Hatiku bertaut pada pesonamu yang menggoda
Tatapanku melekat pada indahnya parasmu
Senyuman oh senyumanmu membuatku jatuh rasa
Detak jantungku seakan berhenti ketika kita beradu indera
Aku telah lunglai dalam pelukan hasratmu
 
Kini, kita telah terpisah oleh ruang dan waktu
Kutelah kehilangan cinta sucimu yang telah pergi
Begitu jauh membuatku tak mampu mengejarnya
Begitu tinggi membuatku tak mampu menggapainya
Cinta itu telah pergi, cinta yang merasuki jiwaku
Tinggal bayangan yang menyelinap dalam rongga hati yang sekarat
Aku yang telah membuatmu beranjak pergi dariku
Ini salahku, ini bukan salahmu
Aku yang meragukan ketulusan asamu
Ini salahku, ini bukan salahmu
Aku yang mengabaikan kesucian cintamu
Ini salahku, ini bukan salahmu
Aku yang melemahkan kekuatan kasihmu
Ini salahku, ini bukan salahmu
 
Asmara kelabu ini telah memisahkan kita
Meninggalkan jejak menganga perih
Jejak itu akan selalu terukir kalut di hatiku
Selalu kujaga dengan derai air mata
Kupagari dengan keris-keris penyesalanku
Kuharap selalu ada terpatri di prasasti hatiku selamanya
 
Seandainya Sang waktu dapat kembali
Kuingin engkau selalu berada di sampingku
Bersandar dibahumu, melepaskan segala beban jiwaku
Mendengarkan segala butiran mutiara bijaksanamu yang menyejukkanku
Seandainya Sang waktu dapat terulang
Akan kuhidupi cintamu dengan denyutan nadiku
Akan kusirami cintamu dengan tetesan darahku
Cintamu yang sebening embun hamparan savanah
 
Sejujurnya aku tak bisa bernapas tanpa ada dirimu
Aku gila tanpa dekapan cintamu yang hangat
Kembalilah ke singgasana cinta kita
Hanya ada kamu dan aku bergelayut manja dalam mahkota kasmaran
Tapi semua hanyalah rajutan mimpi dalam selendang harapan hampa
Aku menyesal atas penindasan cinta dan hatimu
Jujurku hati ini bersemayam hanya untukmu
Lalaiku diam membisu akan keraguanku padamu yang bias
————————————
 
RISAU
By : Thie Kim
 
Cinta itu kuramu dalam bilik hatiku dengan sumringah
Kujaga dengan seluruh hidup agar tak seorang pun menjamah
Kesetiaan itu kuhanturkan untuk dirimu seorang
Tanpa perhitungan yang menggoda ruang akalku
Tanpa berfirasat lentera membakar kalbuku
Kubiarkan palung itu menancap dilautan kepasrahanku
Hanya pelitamu menyinari rongga hatiku
 
Kuabaikan setiap nakhkoda yang merapat
karena hanya perahumu di hati yang terpahat
Bintang berpencar, bulan memencar
Di hatiku, hanya dirimu melancar
Kadang ragu, kadang bimbang
Tentang neraca cintamu ketika kumenimbang
Kuhanya menanti, menanti dan menanti
Untuk aku menjadi berarti
 
Rasa sepi itu menyelinap dalam pelupuk sendiku
Ketika asaku tak lagi terjaga
Aku gila, aku sedih, aku merana
Aka tak tahu apa yang berniang dihatimu tentangku
Lama itu mengeringkan raga
Tahukah engkau akan ketidakpastian wahai yang disana
Malam tambah merasuk, langit kelam mati
Busur tajam menusuk, engkau yang tak membidik hati
 
Matamu menceritakan akan rasa padaku
Tapi aku ragu akan penglihatanku
Senyummu melukiskan akan cinta padaku
Tapi aku ragu akan firasatku
Tubuhmu menari akan hasrat kepadaku
Tapi aku ragu akan pikiranku
Hatimu melontarkan kasih padaku
Tapi aku ragu akan perasaanku
 
Aku ingin engkau menjadi Arjuna untuk Srikandi
Meluncurkan panah kasih di ulu hati
Aku ingin engkau merangkai kata-kata di pinggir bibir
Menyejukkan telinga akan cinta indahmu
Tetapi engkau hanya diam membisu
Engkau hanya diam mematung
Seakan engkau menyimpan ketakutan dalam peti hidupmu
Bahwa aku adalah kepingan cerita bidadari-bidadari masa lalumu
Tubuhku diam membeku akan dinginnya dirimu
 
Kelelahan itu meremukkan hatiku
Menelusiri terowongan keraguan yang memuncak
Kesedihan itu mencekik cintaku
Menjatuhkanku dari awan penyerahan yang menghitam
Kesunyian itu mematahkanku
Mendiamkan di dalam ruang penghampaan yang menyepi
 
Sepi begitu mendesak, sunyi begitu menekan
Kumenyelubung rasa yang tak terungkap
Seharusnya roh beranjak dari ragaku
Agar aku tidak ketagihan dengan candu-candu suram ini
Pergilah….beranjaklah….hilanglah
Kekuatanku telah pergi jauh terbang ke jahannam
Mencambuk setiap kepingan hatiku padamu
Dan engkau hanya diam membeku dengan mata berkaca
 
Maafkan aku yang tak berdaya akan hati ini
Ingin kunyanyikan nada-nada kasih ini
Tapi aku adalah hawa, kamu adalah adam
Maafkan aku yang linglung karena perangaimu
Yang bagaikan Rama ketika berucap cinta dalam bisu
Tapi aku memiliki telinga untuk mendengar nyaring
Maafkan aku yang tak memahami dirimu
Pandangan cintamu selalu melumpuhkan saraf-sarafku
Tapi aku membutuhkan pelukan hangat yang tersentuh
Maafkan aku yang melepas tali cinta kita
Karena aku tak memahami akalmu
Karena aku tak memahami batinmu
Aku tersesat menyelinap dalam labirin rasamu
 ——————————
 
SANG DOSA
By : Thie Kim
 
Katanya, sesuatu yang dilarang oleh Tuhan itu dosa
Tetapi kenapa Tuhan membiarkannya meresapi jiwa ragaku
Kuucapkan seluruh mantera-mantera Tuhanku untuk menangkal dosa
Namun kenapa Tuhan tidak mengizinkannya beranjak dari singgasanaku
Aku mulai ragu dengan apa dosa itu sebenarnya
 
Dosa yang melilit diriku tanpa memberi kesempatan untuk memilih
Kenapa engkau begitu memabukkan hidupku?
Dosa yang mencengkram diriku
Tanpa memberiku kesempatan untuk merintih
Kenapa engkau begitu menyesakkan napasku?
Aku mulai merasa terbuai dengan dosa itu
 
Wahai dosa, tebarkanlah kemurahan hatimu padaku
Atas kepatuhan yang menyelinap dalam diriku
Setiap menaati gemulai tubuhmu
Wahai dosa, nampakkanlah belas kasihmu padaku
Atas kebahagiaan yang meresapi diriku
Setiap menelusuri lekuk tubuhmu
Kuharap engkau menelantarkanku di jalan penuh terjal
Untuk memberiku kesempatan menemui jalanku
 
Mungkinkah engkau akan pergi dariku?
Sejujurnya, engkau adalah candu yang memabukkanku
Mungkinkah engkau akan lepas dariku?
Sejujurnya, engkau adalah sepoi yang menyejukkanku
Pelanggaran yang tidak membiarkanku jera untuk mengulanginya
Dosa, Kenapa aku harus mencintaimu?
Engkau menyelinap dalam lubuk asaku terdalam
Membawaku terbang ke langit ke tujuh
Menari-nari bersama bidadara-bidadara nirwana
Terkadang aku ragu apakah engkau benar-benar dosa?
 
Terkadang,  melakonkan dirimu bagai hati tersayat sembilu
Terkadang,  menyatu denganmu bagai makan buah simalakama
Tetapi, aku tak mampu memaksamu untuk berhenti
Tetapi, aku tak mampu menolakmu untuk  berhenti
Engkau begitu memujaku dengan menyuramkan nuraniku
 
Setiap detak jantungku, kuberdoa kepada Sang Penciptaku
Agar aku mampu melepaskan jeratan nikmat dosa itu
Setiap denyut nadiku, keberharap kepada Sang Pemilikku
Agar aku tidak dirasuki oleh pesona dosa itu
Tuhan, Engkaulah Sang Pencipta dosa itu, maka lenyapkanlah dariku
 
Dosa, sang pemilik pesona yang memikat dan menghancurkan
Aku mencintai  dan membenci mu dalam satu masa
Engkau sepertinya tidak akan pernah melepaskanku
Hanya karena satu alasan, aku manusia yang hidup
Kukira Tuhan pun menyetujui pendapatku
 ———————————-
 
CERITA HATI
By : Thie Kim
 
Kumenusuri koloni pasir yang hitam pekat itu tanpa perisai
Kuizinkan tubuhku disengat kaisar hari dengan penuh gairah
Kubelai kaktus berduri racun yang melemahkan insanku
Kulepas dahagaku dari fatamorgana inderaku
Kubiarkan diriku melebur dalam api harapan sendu
Kusesatkan jiwaku dalam setapak kabur yang muram
 
Oh Tuhan, apakah akalku telah terbang ke firdaus?
Yang membuatku tak mampu mengecap asa pahit dan manis
Oh Sang pencipta, apakah jiwaku  telah bersemayam di langit?
Yang memberanikanku tak tahu arti dari sebuah arti
Aku yang merasa bukan bayangku,
Aku yang merasa berada dalam kebimbangan  tak berujung
Kutelah mengaburkan kemurnianku
Kutelah mendustai kenuranianku
 
Kubiarkan diriku tenggelam dalam  lautan penyayatan
Walau kusadari rohku telah terampas tak berbelas
Kubiarkan diriku meneguk racun berbisa pilu
Walau kusadari telah melemahkan jasadku yang membiru lunglai
Telah kuterima penindasan hati ini
Dari titik kelam terdalam perihku
Telah kupasrahkan diriku kepada ketentuan cerita hidup yang meletihkan
 
Akankah semua berakhir?
Iya, semua berakhir dengan serpihan kalbu
Akankah semua pergi?
Iya, semua telah pergi meninggalkan jejak luka
Hanya sendiri kubermukim dalam lingkaran  
kelam yang tak seharusnya ada
Lingkaran yang melemaskan hati
Tiada henti untuk mengakhiri
078
 
 ——————————
 
SLAMAT JALAN
(Dedicated to Jazuly Hasan) 
Sekian lama tiada kabar
Berita tentang dirimu
Sekian tahun kau menghilang
Bagaikan ditelan waktu
Tiada seorangpun tau
Dimanakah engkau kini
Hingga tiba suatu waktu
Duka datang mengusikku 

Slamat jalan kawan smoga engkau tenang

Slamat jalan teman dirimu ‘kan dikenang

Sekian tahun kita bersama

Penuh canda dan penuh suka

Secapat itu berakhir

Oleh duka yang tak terduga

Hanya doa kupanjatkan

Semoga engkau bahagia

Dalam kasih dan rahmat-Nya

Surga itu ‘kan jadi milikmu

Slamat jalan kawan smoga engkau tenang

Slamat jalan teman dirimu ‘kan dikenang

—————————

BAYANGAN

 

Cinta itu bayangan

Cinta akan bayangan itu

Bayangan itu cinta

Bayangan itulah yang kucinta

Itulah bayangan cinta

Itulah cinta akan bayangan

Cinta membuat terbayang

Terbayang membuat cinta

Melayang bagaikan layangan

Terjatuh perlahan

Di dataran hati yang rentan

Dan tak terbayangkan

Karena itu hanya bayangan

Yang tak pernah terbayangkan

Biarlah kumaknai bayangan

Membayangi setiap makna

Damai dalam bayangan

Bayangan akan kedamaian

Membayang-bayangi sengatan

Member bayangan kesejukan

Meski semua terbayang

Nyata namun bayangan

Bayangan itu kenyataan

Kenyataan yang terbayangkan

Bayangan cinta terbayang

Karena engkaulah bayangan

Membayangi dosa

Mengakhiri bayangan dosa

Biarlah hidup dalam bayangan

Bermain bersama bayangan

Agar kenyataan tidak membayangi

Trima kasih bayangan

Bayangilah aku dalam bayang-bayang

Bayangan menuntun arah

Arah yang terbayangkan

Bersama bayangmu

Dalam bayangmu

————————–

BIARLAH REDUP

Redup…semuanya redup

Hati tak lagi berdegup

Tak ada lagi bintang bersinar

Tak ‘kan ada lagi sinar menyilaukan

Kembali gelap seperti semula

Tanpa ada risau membisingi hari

Biarlah kokok ayam menemani

Biarlah kicauan burung menghiasi pagi

Hidup dalam persemedian sementara

Meraih ketenangan pengukir jiwa

Hingga larut dalam kedamaian

Menyatu dalam asanya cita

Redup…cahaya itupun redup

Cinta tak lagi bertepuk

Tak ada lagi rasa untuk merasa

Tak ada lagi harapan tuk berharap

Normal seperti sedia mula

Tanpa ada beban janji menagih

Biarlah kesendirian menemani

Biarlah kesunyian lorong ini memapah

Hingga jenuh datang menghampiri

Berpaling dari asa ke nyata

Redup…harapku harapanmu redup

Rasa hati semakin meredup

Rasa ini tlah bebal merasa

Hati ini tlah keram kesemutan

Biarlah darah ini lancar mengalir

Biarlah keluangan menghilangkan kaku

Hingga sadar hadapai kenyataan

Jalani hidup manusia normal

Dalam kesuksesan yang diimpikan

Redup…semuanya redup

Redupkan perasaanmu tuk berdegup

Karena hati tak selamanya dag dig dug

Biarlah redupku meredupkanmu

Karena semua pasti meredup

Reduplah…reduplah…!!!

——————————–

KONDOMISASI HATI

Hati ini laksana balon

Terisi namun hampa berudara

Ditiup meninggalkan virus

Peniuppun mengidap enceng gondok

Bangga dalam ngos-ngosan menatap ukuran

Inilah balonku….

Berwarna merah bercorak HBD

Mengembung mudah terbawa angin

Melayang tinggi tinggalkan penguasa

Tersangkut ranting dahanpun jadi

Tak sadar ukuran mulai mengempis

Enggan jatuh menyentuh bumi

Malu dan gengsi turun kembali

Mengendap anjlok kedap suara

Sensitif meledak tertusuk duri

Hebohkan massa karena ulahmu

Ternyata oh ternyata…

Puingmu tak berguna lagi

Selain santapan ayam kelaparan

Dicabik dan tercabik

Tak seorangpun menghiraukan

Hati ini bagaikan kondom

Terlipat rapih tiada yang tau

Terkemas indah wajah Julia peres

Keluguan bocah menyangkanya balon

Besar kecil ukuran bukan masalah

Hitam putih boleh memilih rasa

Tipis kulit arimu meragukan

Namun elastismu kuat menampung beban

Benci dan dengki tertampung safety

Meski nikmat kurang dinikmati

Karenamu penghalang EDI (ejakulasi dini)

Cinta dan nafsu bobolkan tembok

Banjir adalah luapan perasaan

Menggebu tatkala lupa posisi

Langit-langitpun bocor tersiram air

Dua minggu kemudian ajal kan tiba

Heboh massa karena ulahmu

Ternyata oh ternyata…

Kondommu tak berguna lagi

Selain santapan anjing kelaparan

Dicabik dan tercabik

Tak seorangpun menghiraukan

——————————

AROMA TERAPI

Saidna Zulfiqar bin Tahir

Dunia bagaikan ruang kecil

Berukuran mungil 3×2 cm

Tiada jendela tiada fentilasi

Semua orang pengap di dalamnya

Susah bernafas dan bergerak

Menindis dan menindas

Berlomba mendekati pintu

Kadang menggali pintu rahasia

Sesak…

Penat…

Ruang kecil

Ruang sempit

Kita terkurung di dalamnya

Kita berputar di dalamnya

Dan kita berakting di dalamnya

Semua orang menabur

Mengoles aroma terapi

Memoles aroma ter-api

Hangus terbakar

Demi kemenangan di ruang sempit

Dengan secuil kemenangan

Aroma terapi menjadi api

Senyum penuh alasan tetapi

Karena ruang ingin dikuasai

Mencekik..

Membunuh…

Yang penting ada udara

Menjual air segar

Menggadai udara sehat

Dikikis dari tembok kamar

Hingga ruang semakin beruang

Bicara penuh aroma terapi

Sikap terpoles aroma terapi

Gaya bak penjual aroma terapi

Semua topeng yang ber-api

Semakin memanaskan ruang

Dengan keharuman palsu

Menyengat seluruh tubuh

Berdalih obat penyehat

Menyengat ruang

Bercampur peluh dan minyak

Sesak di dada

Tak lama lagi

Ruang ini kan hangus terbakar

Tak dijamin lagi

Aroma ini kan menjadi lidah api

Lenyapkan ruang

Sisakan puing dan debu

Tiada warisan

Tiada harapan

Semua pasti binasa

Oleh harapan penjajal aroma terapi

Oleh sikap yang berapi

Berpoles keinginan pribadi

——————————–

PEMUJA SETAN

Saidna Zulfiqar bin Tahir

Harta adalah ukuran

Jabatan sebatas kuburan

Kecantikan hanyalah ukiran

Semua lahan pujian

Semua bahan pujaan

Puja pujian laksana mantera

Mendekatkan diri pada setan

Jadikan engkau setan

Yang suka dipuja dan dipuji

Engkaulah wanita pujaan

Karena setan dalam kecantikanmu

Akulah pemuja setan

Engkaulah hartawan tiada tandingan

Karena setan dalam hartamu

Akulah pemuja setan

Engkaulah pejabat teras

Karena setan dalam jabatanmu

Akulah pemuja setan

Engkaulah si penjerumus

Perangkapkan aku dalam lingkaran setan

Aku hanyalah setan

Yang kesetanan oleh setanmu
Aku bangga dengan hartamu

Engkau yang utama kuundang

Aku bangga dengan jabatanmu

Engkau yang pertama kuundang

Aku bangga dengan cantikmu

Engkau yang awalnya kuundang

Aku lupa diri sendiri

Aku lupa Tuhanku sendiri

Aku lupa undangan Tuhanku

Aku abaikan mengundang Tuhanku

Karena kebanggan aku bangga

Dibalik kebanggaan aku merugi

Tolong tebuskan kerugianku

Ternyata kamu tetap membisu

Ternyata kamu bukan penolong

Melainkan setan

Beranak sejuta pemuja setan

Mengejar segala pujaan

Merebut hati demi pujian

Tak ubah laksana setan

————————————————

PAIN IS FINE

Saidna Zulfiqar bin Tahir

Musim buah telah tiba

Lagu itu seakan tak bernada

Jelas liriknya menggoda

Iramanya mengundang laga

Sedikit sinis dalam menghina

“Sakitnya tuh di sini”

Sadar diri telah berusia tua

Mudah sakit dan malaria

Tipes langganan setia

Tawakkal sejenak hati berkata

“Nikmatnya tuh di sini”

Sakit menyadarkan alpa

Sakit menegur angkuh yang suka lupa

Bersyukur akan nikmat-Nya

Indah dalam ketentraman

Dapatkan segala kekurangan

Sadar masa yang kan tiba

Bersiap dalam ketidaksiapan

Ragu….

Deg-degan…

Takut…

Semua menghardik kerisauan

Hati mencoba bersabar

Fikiran paksa ketenangan

Terima segalanya dengan pasrah

Siap menghadapi

Siap menyongsong

Itulah pertanggungjawaban

Hingga mulut berani berkata

“Tentramnya tuh di sini”

Sakit itu nikmat

Pain itu terasa Fine-fine saja

Karena semua ‘kan luarbiasa

Jika dihadapi dengan pasrah

Tawakkal menerima

Jalani sakit sebagai nikmat

Semua terasa indah

“Indahnya tuh di sini”

——————-

KEMATIAN

Saidna Zulfiqar bin Tahir

Dawai maut menggemuruh

Takut menghampiri pembuluh

Cahaya raga terredup peluh

Nanar mata menatap keruh

Bayangan diri kian rapuh

Tak menyangka usia tlah separuh

Sisakan hitungan hari kesepuluh

Tak dapat mengelak hanya mengeluh

Karena panggilan itu menyeluruh

Semua menerima dengan patuh

Ajal itu pun mulai berlabuh

Ketika akal melambai tubuh

Nafas terengah renyuh

Jasad pun berpamitan kepada ruh

Tapi tubuh erat merengkuh

Ada sesuatu yang belum sembuh

Dosa itu tiada lagi bisa terbasuh

Tinggal penyesalan mengaduh

Karena arwah tak mungkin bersimpuh

Dan permohonan tak lagi ampuh

Semua ‘kan ditangguh

Hingga tiba hisab yang teguh

———————————————-

HIJRAH

Saidna Zulfiqar bin Tahir

Perjalanan taubatMu penuh duri

Sedangkan aku berharap rahmatMu

Perjalanan hidayahMu penuh berliku

Sedangkan aku menginginkan ridhaMu

Biarlah aku hijrah di atas duri

Biarlah aku mual dalam berliku

Tanpa belas kasih dan ridhaMu

Karena tujuanku semata diriMu

Dan bukan sifat yang melekat padaMu

Meski surga Engkau jadikan rayuan

Dan neraka Engkau jadikan ancaman

Tapi aku tidak tergiur rayuanMu

Dan tidak pula takut ancamanMu

Karena Engkaulah pemikat hati

Cahaya penerang setiap jalan

Yang akan dan terus menuntun

Setiap langkah bergerak menujuMu

Meraih keharibaanMu

Dan selalu dekat denganMu

————————————

UZLAH

Saidna Zulfiqar bin Tahir

Sendiri menyendirikan diri

Terasingkan oleh diri yang menyindir

Masa lalu yang lekat bersandar di diri

Yang slalu terasa asin di lendir sendiri

Perangkat hias diri harus disingkirkan

Sendiri menyendirikan diri

Mengasingkan label yang terasa asin

Bersandar langsung pada pemilik diri

Pemilik Yasin pada nadi leher sendiri

Penjaga diri meski dipaksa singkirkan

Sendiri menyendirikan diri

Berteman kesendirian mengoreksi diri

Mengingat masalalu coba sadarkan diri

Dari segala hal yang membuat lupa diri

Hingga kesendirian adalah cermin diri

Sendiri menyendirikan diri

Uzlah dari segala hiasan penyindir diri

Uzlah dari sandaran pembentukan diri

Uzlah dari godaan kesombongan diri

Uzlah dari pelunak kesangsian sendiri

Sendiri menyendirikan diri

Menerawang diri dari lingkar kenduri

Bebaskan duri kehidupan diri sendiri

Hingga kemerdekaan diri tiada berduri

Polos diri menjadi poros persendirian

Sendiri menyendirikan diri

Mengasingkan sebelum diri terasingkan

Menjauhkan sebelum diri ini terjauhkan

Menanggalkan seblm diri ditanggalkan

Meninggalkan seblum diri ditinggalkan

Uzlah…Uzlah…Uzlah

Biarlah di kesendirian diri bisa berubah

Cukuplah diri sendiri memperoleh tuah

Hiaslah hasil kesendirian dengan buah

Yang tak akan mendatangkan pula ulah

Uzlah…Uzlah…Uzlah

Jauhkanlah segala perhiasan duniawiah

Tanggalkanlah semua seragam ananiah

Sebelum diri tenggelam di lautan asin

Sebelum diri terperangkap di atas duri

Sendiri menyendirikan diri

Kesendirian ini akan menyadarkan diri

Kesunyian ini smakin meramaikan diri

Keterasingan ini adalah pelajaran diri

Berharga demi segala penghargaan diri

————————————————–

THAHARAH

Saidna Zulfiqar bin Tahir

Hati itu laksana pasir

Bersemayam bagaikan kusir

Kecil mungil tak ter taksir

Tak dapat diangkakan dan ditafsir

Ret dan rit hanya hitungan kasir

Jumlah satuan terlalu mubasir

Sebagai peringatan yang terlansir

Bagi orang yang berharap munsir

Ikhtiyar berdzikir hati menyisir

Penjuru kesucian penuh tathhir

Berkecil hati dengan kecilnya hati

Tak dapat ditaksir dalam maunya hati

Berdosa besar ulah kecilnya hati

Tersebar titah fitnah si raja hati

Kotor perbuatan lahirnya di hati

Laba bersih investasi perusahaan hati

Kesalahan kecil produk original hati

Terdistribusi luas dosa sang hati

Salahmu menafsir sempit makna hati

Salahku pendamkan niat di balik hati

Kamu pantas untuk berhati-hati

Mendagu-duga semua keinginan hati

Seribu kejahatan ‘kan merampok hati

Akupun semakin takut berhati-hati

Terjajah oleh segala kegundahan hati

Nampakkan kesembunyian minat hati

Sembunyikan penampakan setan hati

Karna kusadar bahwa di dalam hati

Terdapat sumber kesucian pemilik hati

Bersihkanlah semua junubnya hati

Mandikanlah segala junubnya hati

Sucikanlah junub janabahnya hati

Wangi itu ‘kan beraroma di hati

Sinar rupa ‘kan terpancar dari hati

Perbuatan itu tak perlu lagi berhati-hati

Karena semua tlah terkontrol hati

Pandanglah hati di penjuru pesisir

Memainkan rasa di teriknya pasir

Mudah diduga ketika menaksir

Terarah rupa keahlian sang kusir

Tak ada lagi kesalahtiruan tafsir

Tak ada lagi noda akan terlansir

Segalanya ‘kan benar-benar tathir

—————————————

IKHLAS

Saidna Zulfiqar bin Tahir

Tersungkur takdir itu menukik

Tiada asa termaktub di mahfuz

Bersyukur tawakkal itu mencekik

Biarlah rasa terkatub di awal juz

Terbuka bibir melafal fatehah

Seraya mengetuk pintu pembuka

Alhamdulillah pin itu mudah terbaca

Namun rekening hati tak lagi bersaldo

Impossible mentrasfer al-ikhlas

Meski lisan desak paksa menagih

Namun hati membungkam ngambek

Mengelus dada berdalih ikhlas

Menerima qadar dengan berat hati

Pemrih berbalas budi

Budi yang tak terbalaskan

Rangkaian simbiosis take and give

Inspirasi berbagai stimulus

Punahkan sejatinya keikhlasan

Terjepit budi takdir berbalik

Tiada upaya hindarkan pamrih

Bersyukur tawakkal itu menghardik

Biarlah pahala urusan Sang Pengasih

Berserah diri setalah berikhtiyar

Seraya memohon kunci rahasia

Alhamdulillah jika terkabulkan

Agar hati terdidik tuk menerima

Memaknai dalamnya arti keihlasan

Menerapkannya dalam perbuatan

Ikhlas berkata dan berbuat

Ikhlas memberi dan menerima

Dalam simbiosis mukhlishiin

Yang khaalish tanpa khulaashah

————————————–

BIMBINGAN

Saidna Zulfiqar bin Tahir

Bimbing aku dari bimbangku

Bimbing aku dalam bimbingmu

Pandu aku ke tepi ketidaktahuanku

Pandu aku raih pengetahuanku

Tunjukan bimbang ketahuanku

Tunjukan minus ketidaktahuanku

Hantarkan aku menyongsong pagi

Hantarkan aku merajut impian

Karna engkaulah wasilah

——————————-

KPK

Saidna Zulfiqar bin Tahir

Rambut Ka’ Peka kok rontok

Apakah Ka’ Peka tlah kapok

Hanya karena ulah si akhlak bobrok

Hingga takut terkena bacok

Padahal Ka’ peka diolok-olok

Masih mending dong si Ahok

Berani mendobrak berbagai blok

Meskipun Ia terus ditotok

Dicaci sebagai orang yang sok

Tetap berjuang demi semua stok

Gigi ka’ Peka kok anjlok

Apakah impian ka’ Peka mentok

Hanya karena ulah si perut montok

Melemahkan Ka’ Peka dalam mendok

Takut terancam hunusan golok

Padahal Ka’ Peka diobok-obok

Terhempas bugil dibalik jok

Bukankah itu sikap goblok

Menyerah duluan sebelum ditonjok

Ka’ Peka mestinya peka

Karena Ka’ Peka tidak menerka

Ka’ Peka orang yang merdeka

Kumpul bukti tentukan tersangka

Ka’ Peka bukan tersangka

Ka’ Peka juga bukan mereka

Karena Ka’ Peka bagi mereka neraka

Wibawa Ka’ Peka tak lagi top

Apakah semua itu karena amplop

Yang disisipkan dibalik leptop

Hingga langkah Ka’ peka terstop

Figur Ka’ Peka juga terkena secop

Perang dingin bombing molotop

Oleh penguasa mengandal brimop

Kisah surrender menjadi sebuah mop

Lezat disantap bersama sop

Semangat Ka’ Peka semakin ngetop

Sabang-merauke tak dapat disetop

Jangan pasrah terkena molotop

Tak pernah sakit meskipun drop

Jangan risau dikepung pasukan brimop

Karena engkau adalah penyetop

———————————–

WINNER

Saidna Zulfiqar bin Tahir

Kabar hari menjelang kabur

Tiada terik memikat pandang

Pesona silam berlalu-lalang

Mengunduh kisah tak berulang

Wajah lugu lembut tak bertulang

Fikiran melambung terkena tilang

Mendung langit kian merinding

Lekat menempel di setiap dinding

Bayangan buram tak lagi kabur

Terpampang jelas di nisan kubur

Tinggal kenangan menjalar subur

Merangkai kejadian yang berhambur

Satu persatu mulai tersembur

Melanglang angan dalam lembur

Ingatan itu kembali mundur

Terakhir bayanganmu melambai

Hati merunduk perasaan lebai

Terlalu cepat semua itu menjamur

Padahal nasi belum menjadi bubur

Terlambat sudah kabar memberita

Terlambat sudah kisah bercerita

Terlambat sudah hati menderita

Terlambat sudah janji terlilit gurita

Meski akhirnya engkaulah the winner

Engkaulah sejuknya winter

Bersemayam tatkala summer

Terbebas derita berkelanjutan

Bersama kasih penuh kejutan

Dalam pelukan pemilik keajaiban

Bersama damaianmu dalam keabadian

———————————-

ISTIQAMAH

Saidna Zulfiqar bin Tahir

Derai kaskade mengalir deras

Kesyahduan berselimutkan pedih

Berkamuflase di ambang ambisi

Bertawaf mengedari dinding hati

Pejalkan aspirasi dalam fabrikasi

Konstan pengawakan beranalekta

Tiada lagi senewen plintat-plintut

Dalam mendiagnosa spekulasi aksi

Karena istiqamah itu pilihan prima

Justifikasi berdasarkan de jure

Yang termaktub pada sunan & rasail

Secuil tindak tandukkan kronis

Selaras asas kompas religy

Superior dibanding tak direkomendasi

Determinasi berlapang dada

Prospek premi berlabel jempolan

Istiqamah dalam beraltruistik

Beramal mengamalkan darma & derma

Doktrin hati berpadu keyakinan

Tiada kemelaratan dan kemudharatan

Mereduksi resiko kemerosotan

Mengakuisisi ketenangan hati

Konstan berriuk dinamika

Dalam semua gerak dan pergaulan

—————————————–

INDEPENDENT

Saidna Zulfiqar bin Tahir

Kolonialisasi petirahan hati

Terhambakan ambisi vilirisme

Sungkem di bawah telapak dukana

Jejali pelesir tiada ada terminasi

Gerilya dalam perang berkubang

Mengidap angina sanggupkah berontak

Kapankah gencatan itu mangkat

Hingga pasifisme itu benar pasif

Terbebas dari gari dan kekangan

Menghirup piranti kantong udara

Menatap rimbun sterilnya ionosfir

Mencapai puncak arca liberty

Kemerdekaan hati menjadi iktikad

Curia belenggu rantai pelilit lekum

Tiada lagi giring-giring gemerincing

Membahana dalam koroner aorta

Recok gaduh lucuti artistik nurani

Menjemukkan jemuan bufet aurora

Dalam tambatan aliansi kohabitas

Yang tiada berkulup di milis cula

Saatnya ekspatriat melacak freedom

Obsesi ekspresif itu tlah kadaluarsa

Tervaksinasi semprotan anastesia

Memustahilkan segala kontigensi

Tak mungkin lagi berkoeksistensi

Platonis curai manuver lepas landas

Mengedrop out antipati melankolis

Menggencatkan obsesi kebengalan

Autodidak swatantra beregosentris

Demi asuransi koor grup kebahagiaan

Senandung oktaf not nada kehidupan

—————————-

TAWAKKAL

Saidna Zulfiqar bin Tahir

Tiada lagi seringai kernyih

Pembalut durja penghias rupa

Tiada lagi periang berluap kans

Penopang pancang pilar layar

Pekat gerhana mengapit lentera

Suram, muram nampak kusam

Sendu dalam dekade krisis yais

Biopsi sel bersenyawa satwa

Sinis pesimis meniti prospek

Siklus puritan tidak berselaras

Berdaur dan berbaur pengulangan

Semua terasa konyol dan sia-sia

Mengarispkan karaf piranti sukses

Mengalengkan dokumen kecewa

Beban itu arteleri proyekti jauh

Remukkan tembok cina dan pyramida

Kepingan itu sangat menyayat

Benamkan niat dalam celupan pilu

Bercampur cuka dan jeruk nipis

Lesu masygul cabar hati

Putus asa bagaikan layangan

Tiada wadah mengait dan menadah

Berdiet menurunkan lemak cita

Hanya pasrah dan tawakkal

Berserah diri dan menyerah

Fatalism takdir terus menghardik

Pasrah, pasrah dan pasrah

Tawakkal senandung sendu

Telaah hati ‘tuk berpelipurlara

Mungkin semua tlah terikhtisar

Dalam silaby dan RPP ketuhanan

Tak dapat disangkal dan disanggah

Itulah predestinasi nasib abdi

Patut bertekuk lutut berserah diri

Dalam sayatan penghambaan

Seringai bibir mencoba berbesar diri

Kilapan asa tergantung di atas doa

Bersemayam khusuk bersembahyang

Kepada Dia yang Maha Besar

Dengan segala kebesaran-Nya

Meringankan setiap bahara pikulan

Lembut tangan tengadah meminta

Merengek pilu harapkan simpati

Berserah terima diri dalam tabah

Semoga Engkau menyayangiku

—————————-

JAHANNAM

Saidna Zulfiqar bin Tahir

 

Bugar jasmani itu dengan senam

Sehat ruhani itu dengan jahanam

Bugar akhlak dengan menanam

Bibit unggul rukun Islam terbenam

Sehat keyakinan dengan enam

Format kegaiban neraka jahanam

Tereduplikasi di surah al-Anam

Bagi pecandu dosa delik jahanam

Pedih panas walau dalam manam

Keringat pasi mengidap demam

Panglong serbuk api jahannam

Pelakon jahanam lupa jahannam

Gaharu tobat harus mulai ditanam

Tak boleh lagi digenggam

Agar jahanam benar terbenam

———————————-

BILA AJAL TIBA

Saidna Zulfiqar bin Tahir

Bila ajal itu tiba..

Iakan ruh ini tersalib di dalam sulbi

Izinkan akal ini mensulih suara hati

Agar kehidupan kudubbing kembali

Biar kematian kusabung dalam nadi

Bila ajal itu tiba..

Anggukkan cross di median dahi

Iyakan ulem-ulem itu secara resmi

Agar kesiapan itu benar terpatri

Biar kesempatan itu bisa kunikmati

Bila ajal itu tiba..

Iakan kesempatan untukku mengaji

Perkenankan lidah ini fasih kembali

Agar pengakhiran ini terkawal nanti

Biar pengakhiran ini seperti terawali

Bila ajal itu tiba..

Iakan nafas terengah itu mengabdi

Perkenankan lidah mengucap lagi

Agar keimanan menunjukkan bukti

Biar kematianku ini selalu diridhai

Bila ajal itu tiba..

Iakan panggilanMu panggilan suci

Izinkan lafalan menyelamatkan diri

Agar husnul khatimah sebagai cirri

Biar khatimahku ini selalu diberkahi

Bila ajal itu tiba..

Kapanpun ia akan tiba tiba-tiba

Merazia implusif segera

Menyergap aksi dengan tiba-tiba

Saatnyapun ‘kan melawat

Firasat tak mampu meramal

Sogokan tak mampu menghelat

Hanya amal sebagai bukti

Hanya derma sebagai bakti

Berbelaslah kasih anugerah

Sayangi aku dalam hidayahMu

Ampunilah aku!

Dengan segala ridha

Dan juga rahmatMu

Dalam ending penuh blasting

Semoga ber-happy ending

Amien!!

—————————————

27 thoughts on “Puisiku”

  1. Aku adalah wayang yang selalu di atur oleh sang dalang….
    Kadang aku berperan baik
    Kadang aku berperan buruk dan kadang juga
    aku adalah malaikat kadang juga aku adalah iblis
    Terkadang aku nista…
    Terkadang aku mulya…
    Namun Apalah kuasaku aku hanya seorang wayang
    yang tak bisa mengubah takdirku…
    aku tak lebih dari sebutir debu
    Yang setiap saat di bawa angin
    Kemana mau angin itu pergi
    Terkadang aku ke comberan….
    Terkadang aku ke taman….
    Terkadang di tempat sejuk dan panas
    aku merasa melihat tapi aku buta
    aku merasa mendengar tapi aku tuli
    aku tak ubahnya seperti bangkai berjalan
    Apa yang aku harapkan dari jiwa yang rapuh ini
    Terkadang aku mau menangis
    Terkadang aku mau tertawa…
    Namun keduanya adalah sandiwara
    aku mencari dan terus mencari
    Sampai aku menemukan suatu pertanyaan
    SIAPA AKU…. ???????

    http://www.geocities.com/riankreasi

  2. Ketika Adam dan hawa berpergian dari surga, yang dibekali tuhan hanya sebuah cinta.
    Mengapa cinta?
    Karena dengan cintalah kita ada.
    Cinta merubah peradapan manusia.
    Cinta memberikan banyak arti keindahan.
    Tersebab cintalah kita mampu membedakan antara dosa dan pahala.
    Cinta tidak tidak pernah mati, karena cinta melekat dihati.
    Cinta membawa kita menjadi berarti.

  3. ass.hai sobat bolehkan aku berkenalan denganmu. aku kagum dengan coretan-coretan puisimu itu.
    aku baru kali ini membuka web site-mu.
    puisi-puisimu itu sangat menyentuh di hati.

  4. Ass. hai sobat aq kagum dengan semua isi puisi dan kata-kata indah dalam ws mu…stelah mmbaca semua puisi2 yang ada…diriku merasa lebih memahami arti cinta dan kasih sayang insan manusia…..thanks sobat

  5. suatu puisi yang paling indah adalah suatu khisaran hasrat untuk menguatkan iman kita agar bisa menjadi orang selalu ta”dim terhadap guru,sahabat,kepada rosul allah,dan allah yang menciptakan kita

  6. BguZzZ bgDDh puisi2ny…..menyentuh,btw,nax DN yapz…sama dunk..cuma qta beda jauh bgt…pokox good luck wat smuany yapz..

  7. WaJaH ITu

    Tiadalah snyum tsungging harapkn maki..
    Brkaca pd cermin Tebal yg hampir Retak!
    O,.terbayang dsna wajah manis yg dlu singgah,,
    Mngukir tawa diantara mata takdir..
    Wajah manis mengerdip bisik2 cinta..
    Palingkn ht kmudian..!
    Sudah..
    Usaipun crt!

  8. Waaach!!..keeyen bgtz,q ru m’buka2 webst ne.. n q plg sk bgtz klo bc puisi.. utk shbt smw gd lck ych..lam knl drQ ‘n dtnggu ych puisi2 brikut’y!!

  9. mengapa semua ini harus terjadi?
    disaat cinta dan kasih menyapa dan menghapiriku kenapa dirimu harus pergi?
    kenapa?
    sungguh aku sangat menyayangi dirimu setulus hati ku,tapi kini semua itu sia sia tanpa hadir mu disini…

    Tuhan pabila dia jodoh ku kembalikan dia ke pelukanku tapi bila dia bukan jodoh ku aku mohon gantikan dirinya dengan sesseorang yang lebih baex…..

    guys,,,
    nie q curhat dikit kasih solusinya donk…
    pleace….

    ntar dkrm ke email q waw

  10. setelah aq baca curhatan U,aq jd inget m mantanQ dulu.. dia sgt menyayangiQ tp skrg mungkin dia udah lp m aQ.. gini z y menurut aq, U tu hrus mncari dia!sp tw dia jg msh mghrapkanmu n sgt merindukanmu!!

  11. aq pernah dgr dr saudaraQ, kt’y dg qt mengkonsumsi daun pepaya yg diperas terus diminum air’y stiap hr insya allah pnglihatan qt akn kmbli trang! tp aq sh g prnah mncoba, y mgkn krna tu pait bgtz.. bs dblg aq plg mls mngkonsumsi obat2an,

  12. Assalamu Alaikum…
    aku mau dikit curhat nih..
    akhir2 ini aku mulai membaca artikel2 islam..aku begitu tergugah, apalagi tentang dunia remaja, dimana pacaran adalah hal yang sudah dianggap begitu lumrah, dan saya pun salah satu yang terkena pemahaman seperti itu(dulunya), sekarang aku mau nanya nih (kasi solusi ya)..
    aku punya pacar, sekarang ia di luar pulau, dia begitu mencintaiku, begitupun dengan aku..sempat aku baca artikel tentang dosa2 pacaran, artikel wanita yang mengumbar sahwatnya walau hanya lewat telepon, dll yang berhubungan dengan pacaran..
    aku sekarang bingung, apakah aku minta putus ma dia?? aku dah tanyakan hal tersebut dengan argumen2 diatas, namun ia tetap tidak mau ditinggalkan (komunikasi kami masih berjalan lancar lewat HP), dengan alasan dia telah aku sentuh (belum sampai ZINA) ciuman, pegangan tangan..aku juga gak mau ninggalin dia karena dia dah ngancam akan bunuh diri..\sekarang aku bimbang, lanjutin hubungan dengan menaggung dosa besar, atau memutuskannya juga dengan menanggung dosa besar (dianya bunuh diri karena aku)..
    mohon jawabannya di email aku, r_yad_chess@yahoo.co.id
    makasi atas jawabannya

  13. gALau…. J
    for everyone
    perasaan ini…..

    apa namanya….

    ku takut………..

    untuk menyebut apa namanya

    bukan karena..

    tetapi ku takut benar apa yang kurasa…

    pedih yang menghujam

    di sanubariku

    hancurkan keyakinan yang menjadi kekuatanku

    aku jatuh lagi

    sekali lagi jatuh

    untuk sekian kali

    namun kali ini aku galau………

    Ketika semua harus berakhir
    Ketika peluhku tak lagi berarti
    Kau memilih tuk akhiri kisah ini
    Kau hempaskan aku tak berdaya

    Telah kuberikan yang mampu kuberi
    Namun tak jua puaskan hatimu
    Kau memilih tuk akhiri kisah ini
    Kau hempaskan aku tak berdaya

    Aku takkan pernah jadi sempurna
    Seperti yang kau pinta
    Aku takkan bisa meski tlah kucoba

    Kau memilih tuk akhiri kisah ini
    Kau hempaskan aku tak berdaya

    Aku takkan pernah jadi sempurna
    Seperti yang kau pinta
    Aku takkan bisa meski tlah kucoba
    Aku takkan pernah jadi sempurna
    Seperti yang kau pinta

  14. Aku ada di tengah2 Air.
    Siang Aku ada, Malam aku Tiada
    Aku Hadirkan Matahari,Namun Ku Tak Mampu Mengedarkan Bulan
    Aku Berkuasa Pada Kematian dan Kehidupan.
    Namun Aku Jatuh Pingsan dan Kubangunkan Diriku untuk Siuman.
    Aku Bingung dan membawa Kebingungan,Tapi Ku Tak Kuasa Pada Perilaku Bejat,keparat.
    Siapakah Aku,dalam aku ku tak kenal Sobat,sahabat atau pantat.
    (he.he..he Aku bilang aku adalah huruf i)
    Pusi apa ngelucu nich atau cuma sekedar kuis.

  15. Aku Lenyap Dalam Asmara,
    Meski Kusadar aku kan terseret Ombak Dosa dan Durhaka,
    Aku Marah Pada Diriku dengan segenap Rasa Yang Membuncah
    Hatiku telah Terpenjara Nafsu,Birahipun seakan Berkata.

    Wahai Kasih Jangan Kau Lari Dariku,ingin Ku Cumbui Dirimu.
    Seaat Ku Pun Tersadar,Aku Hadir ke pentas Dunia Bukan Hanya Dengan Nafsu.
    Dalam Bisu Kupun,ku Malu Pada aku dan Engau(Wahai Pemilkku)
    Terkadang Kata Terucap hanya sekedar Penarik Hati.
    Aku Marah pd Puisi Keparat yang tak Berarti.
    Kau hanya Tumpulkan Logikaku,kau Buramkan Nilai2
    Pusi Laknat kau Hantarkanku pada Keraguan,untuk Bersikap Jelas dan BertanggungJawab..

  16. Mengapa pada bego yah…uda tau yang namanya jatuh itu sakit, kok masih aja mau jatuh dalam comberan cinta, sediain kasur yang tebal biar gak sakit di saat jatuh

  17. Cumi – cumi dan bulan .

    Malam di bawah temaram bulan,
    Ku ambil dayung , ku naiki sampan.
    Tahukah kau teman kemana arah tujuan ?
    Menyusuri pantai , ya , itulah yang kan kulakukan.
    Umpan tipuan aku hanyutkan
    Dengan harapan ada cumi yang tergoda tuk makan.

    Angin laut berhembus pelan di antara dahan pepohonan.
    Semelir suaranya ku dengar menertawaiku kedinginan.
    Ombak ombak kecil susul menyusul memecah kesunyian.
    Sampan kecilkupun tertawa gembira , ia berkata pada ombak “ mendekatlah kawan “
    Dengarlah pertengkaran cumi cumi dan bulan

    Cumi – cumi berkata “wahai bulan” !
    Kau selalu setia menyinari lautan
    Membuat aku dan ikan – ikan mendekat ke tepian
    Mencari makanan diantara terumbu karang.
    Kembali pulang dengan perut kenyang.
    Namun , terangmu pulalah yang menjadikan
    Aku dan ikan ikan menjadi tangkapan para nelayan,
    Jadi santapan atau di jual di pasaran.

    Dengan tenang , sang bulan memaparkan
    ‘Wahai cumi- cumi lautan’ !
    Keluh kesah tiada membawa perubahan
    Terimlah apa yang telah digariskan
    Aku diciptakan untuk menyingkap kegelapan
    Dan kau untuk penyempurna hidangan.

    Sampan terus ku dayung
    Menari nari diatas ombak yang semakin menggunung
    Meninggalkan debat cumi – cumi dan bulan yang tak berujung

    Puisi – puisimu buagus – buagus kawan, ane minta tambahan .
    Salam kenal anak nelayan.

  18. Menari dalam kepedihan

    Kau datang menghampiri q dengan tubuhmu yang lemah gemulai saat kau menari didepan hati yang tak kuasa q menahan pedih karena kau sedih tapi q yakin kau adalah wanita yang tegar meski diambang kepedihan dan kesedihan
    jiwamu rapuh dalam kejadian ini namun q sadar kau wanita yang tegar,kau bagaikan bidadari yang sepatutnya kau mempercantik diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

https://saidnazulfiqar.wordpress.com

%d bloggers like this: